LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Destry Pimpin BI, Pengendalian Inflasi Jadi Prioritas

Published September 1, 2026 · Updated September 1, 2026 · By Nancy Moore - lenterafakta.com

Foto : Nancy Moore - lenterafakta.com

Destry Damayanti Resmi Pimpin Bank Indonesia, Stabilitas Harga Jadi Garis Utama Kebijakan

Lenterafakta.com – Periode kepemimpinan baru Bank Indonesia (BI) untuk rentang lima tahun 2026–2031 kini berada di bawah kendali Destry Damayanti, yang telah ditetapkan sebagai Gubernur. Penunjukan ini membawa konsekuensi langsung bagi arah kebijakan moneter nasional, terutama dalam konteks tekanan harga yang masih membayangi perekonomian domestik. Sejak hari pertama masa jabatannya, Destry menegaskan bahwa pengendalian inflasi akan menempati posisi sentral dalam setiap keputusan kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Bagi jutaan rumah tangga Indonesia, kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok berdampak langsung pada daya beli dan kualitas hidup. Ketika inflasi melampaui target, nilai riil pendapatan masyarakat menyusut, sementara kelompok berpenghasilan rendah menjadi pihak paling rentan. Oleh karena itu, komitmen BI untuk menjaga stabilitas harga bukan sekadar target makroekonomi, melainkan instrumen perlindungan sosial yang bekerja dari hulu.

Dua Sisi Tekanan Harga: Permintaan dan Pasokan

Dalam kerangka kebijakan moneter, BI akan mengarahkan instrumen suku bunga dan likuiditas untuk mengelola tekanan harga dari sisi permintaan, atau yang dikenal sebagai demand management. Namun Destry menekankan bahwa pendekatan ini tidak berdiri sendiri. Kondisi pasokan barang dan jasa tetap menjadi variabel yang harus diperhitungkan dalam setiap kalibrasi kebijakan.

Menurut Destry, asumsi bahwa seluruh lonjakan harga bersumber dari permintaan yang berlebihan adalah keliru. Dalam banyak kasus, gangguan pada rantai pasokan—mulai dari cuaca ekstrem, gangguan logistik, hingga kelangkaan komoditas musiman—menjadi pemicu utama kenaikan harga, terlepas dari apakah permintaan konsumen naik atau tidak.

"Inflation salah satu juga target di kami untuk dijaga stabilitasnya. Tapi kita tahu ada sumber inflasi yang sifatnya lebih supply side."

Pernyataan tersebut diucapkan Destry kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Selasa (1/9/2026), sekaligus menjadi penanda arah kebijakan yang akan ditempuh selama lima tahun ke depan.

Pangan sebagai Titik Rawan Inflasi

Salah satu manifestasi paling nyata dari tekanan pasokan adalah inflasi pangan atau food inflation. Ketika pasokan komoditas pertanian terganggu—baik karena faktor iklim, serangan hama, maupun hambatan distribusi—harga dapat melonjak tajam meskipun tekanan permintaan tidak mengalami perubahan berarti. Fenomena ini kerap terjadi pada komoditas musiman seperti cabai dan bawang merah, yang secara historis menjadi pendorong utama lonjakan harga di pasar domestik.

Karakteristik inflasi pangan yang bersifat episodik dan geografis membuat penanganan melalui instrumen moneter saja menjadi tidak memadai. Suku bunga yang dinaikkan untuk meredam permintaan tidak akan memperbaiki kelangkaan cabai di suatu daerah tertentu. Di sinilah letak kompleksitas yang membedakan inflasi pasokan dari inflasi permintaan dalam konteks kebijakan.

Koordinasi Lintas Lembaga sebagai Kewajiban

Destry secara eksplisit menyatakan bahwa persoalan inflasi dari sisi pasokan tidak dapat ditangani oleh BI secara unilateral. Otoritas moneter membutuhkan kerja sama erat dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta kementerian dan lembaga terkait—khususnya kementerian yang menangani sektor pertanian dan perdagangan.

"Nah tentunya kalau supply side ini kan Bank Indonesia gak bisa sendiri. Jadi Bank Indonesia mengajak tentu lembaga terkait, termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah, seperti contohnya supply untuk pangan, misalnya."

Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran paradigma: dari otoritas moneter yang bekerja dalam ruang tertutup, menuju model koordinasi lintas sektor yang menempatkan stabilitas harga sebagai tanggung jawab kolektif. Bagi pemerintah daerah, implikasinya konkret—distribusi logistik pangan, pengelolaan pasar, dan intervensi harga darurat menjadi bagian dari ekosistem pengendalian inflasi yang lebih luas.

Jaringan 46 Kantor Perwakilan sebagai Instrumen Koordinasi

BI saat ini mengoperasikan 46 kantor perwakilan yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Di bawah kepemimpinan Destry, jaringan ini akan difungsikan tidak hanya sebagai mata dan telinga kebijakan moneter, tetapi juga sebagai titik koordinasi langsung dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait dalam menangani persoalan pasokan pangan di tingkat lokal.

Mekanisme ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi kelangkaan komoditas di suatu wilayah, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum harga melonjak dan menjadi viral di pasar. Kantor perwakilan menjadi jembatan antara kebijakan makro di Jakarta dan realitas mikro di pasar-pasar tradisional daerah.

"Nah kan Bank Indonesia gak mungkin sendiri melakukan itu. Maka dengan pemerintah daerah, kemudian juga dengan kementerian-kementerian pertanian atau kementerian terkait lainnya."

Destry menutup paparannya dengan menegaskan bahwa koordinasi lintas lembaga tersebut merupakan bentuk konkret dari keterlibatan BI dalam sektor riil, khususnya terkait pangan. Dengan kata lain, stabilitas harga tidak lagi dipandang semata-mata sebagai variabel moneter yang bisa diatasi dengan satu tombol suku bunga, melainkan sebagai persoalan struktural yang menuntut respons terpadu dari seluruh pemangku kepentingan ekonomi.

Periode lima tahun ke depan akan menjadi ujian nyata bagi komitmen ini. Keberhasilan atau kegagalan Destry dalam menjaga inflasi tetap terkendali—di tengah volatilitas harga pangan, dinamika global, dan tantangan struktural domestik—akan menentukan apakah mandat stabilitas harga BI tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Destry Pimpin BI Pengendalian Inflasi Jadi?

Destry Pimpin BI Pengendalian Inflasi Jadi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Destry Pimpin BI Pengendalian Inflasi Jadi matter?

Destry Pimpin BI Pengendalian Inflasi Jadi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.