LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Lapor ke Prabowo, Gubernur BI Beberkan Kondisi Rupiah dan Inflasi RI

Published Oktober 19, 2026 · Updated Oktober 19, 2026 · By Nancy Anderson - lenterafakta.com

Foto : Nancy Anderson - lenterafakta.com

Gubernur BI Laporkan Kondisi Rupiah dan Inflasi kepada Presiden Prabowo

Lenterafakta.com – Lapor ke Prabowo Gubernur BI Beberkan perkembangan nilai tukar rupiah dan kondisi inflasi Indonesia dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026). Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi volatilitas global yang tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, Destry menjelaskan bahwa dinamika ekonomi internasional masih menjadi faktor penting bagi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Inflasi di sejumlah negara disebut masih berada di atas target, sementara ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama juga terus menjadi perhatian pasar.

"Kemudian untuk Rupiah, kita tahu juga global situasinya juga tadi sampaikan oleh Pak Menku bahwa volatilitas masih tinggi, mereka menghadapi situasi higher for longer juga, inflasi yang jauh diatas target mereka," kata Destry di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Kondisi tersebut berkaitan dengan arah kebijakan moneter global, khususnya kemungkinan perubahan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Funds Rate (FFR). Menurut Destry, peluang kenaikan FFR pada Oktober semakin kecil. Meski demikian, ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga tetap menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi dalam menjaga stabilitas rupiah.

Destry menegaskan bahwa faktor eksternal dapat memengaruhi arus modal dan sentimen pasar terhadap aset di negara berkembang. Karena itu, Bank Indonesia terus mencermati perubahan kondisi global agar kebijakan yang ditempuh dapat menjaga stabilitas nilai tukar secara berkelanjutan.

BI Menjaga Stabilitas Rupiah melalui Berbagai Instrumen

Dalam laporan kepada Presiden, Destry menyebut BI berhasil menjaga stabilitas rupiah dalam dua hari terakhir. Ia mengatakan terjadi perlambatan, meskipun kondisi tersebut juga dialami sejumlah negara di kelompok emerging market atau negara berkembang.

"Tapi so far dua hari ini Rupiah bisa kami jaga stabilitasnya sehingga terjadi memang pelambatan, sedikit pelambatan dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market," tegasnya.

Menurut Destry, Bank Indonesia akan tetap berjaga di pasar untuk merespons perkembangan yang terjadi. Pernyataan ini menegaskan komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan dengan kepercayaan pasar dan kondisi ekonomi nasional.

Presiden Prabowo Subianto juga meminta BI terus mengoptimalkan instrumen kebijakan yang tersedia. Dalam konteks Lapor ke Prabowo Gubernur BI Beberkan strategi penguatan stabilitas rupiah, Destry menyampaikan bahwa langkah yang dilakukan mencakup intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF).

Intervensi Spot, DNDF, dan NDF Jadi Bagian Kebijakan BI

Intervensi di pasar spot dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Sementara itu, DNDF dan NDF merupakan instrumen yang digunakan dalam pengelolaan pasar valuta asing. Penggunaan berbagai instrumen tersebut menunjukkan bahwa BI menyiapkan beberapa jalur kebijakan untuk merespons tekanan terhadap rupiah.

Destry menyampaikan bahwa arahan Presiden adalah agar BI tetap mengupayakan kebijakan yang dimiliki, baik melalui intervensi maupun instrumen lain yang mendukung stabilitas pasar. Kebijakan ini diarahkan untuk menghadapi volatilitas global serta menjaga kondisi rupiah tetap terkendali.

"Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki apakah itu bentuknya intervensi di spot DNDF dan NDF ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging yang juga sudah kami berikan sejak akhir bulan Juni yang lalu," ujarnya.

Insentif Hedging Dorong Aliran Dana Masuk

Selain intervensi di pasar, BI memberikan insentif biaya lindung nilai atau hedging untuk mendorong aliran modal masuk. Insentif biaya hedging tersebut telah diberikan sejak akhir Juni 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah yang disampaikan dalam laporan mengenai kondisi rupiah kepada Presiden Prabowo.

Menurut Destry, hingga saat ini insentif tersebut telah mendatangkan aliran dana masuk melalui instrumen swap dan DNDF sekitar 8 miliar dollar AS hingga 9 miliar dollar AS. Aliran dana masuk itu menjadi bagian dari perkembangan yang diperhatikan BI dalam menjaga pasar keuangan domestik.

Lapor ke Prabowo Gubernur BI Beberkan kondisi rupiah sekaligus memperlihatkan bahwa stabilitas nilai tukar terus dipantau melalui kombinasi kebijakan pasar dan insentif lindung nilai. BI menegaskan akan tetap berjaga di pasar seiring perkembangan global, terutama terkait inflasi dan arah suku bunga internasional.

FAQ Kondisi Rupiah dan Kebijakan Bank Indonesia

Apa yang dilaporkan Gubernur BI kepada Presiden Prabowo?

Gubernur BI Destry Damayanti melaporkan perkembangan nilai tukar rupiah dan kondisi inflasi Indonesia, termasuk tantangan dari volatilitas global serta ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Instrumen apa yang digunakan BI untuk menjaga rupiah?

BI mengoptimalkan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF. Selain itu, BI memberikan insentif biaya hedging untuk mendorong aliran modal masuk.

Berapa aliran dana masuk dari insentif hedging?

Menurut Destry, insentif biaya hedging yang diberikan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan inflow melalui instrumen swap dan DNDF sekitar 8 miliar dollar AS hingga 9 miliar dollar AS.

Related Reading