LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BMKG: Gempa M 5,9 Guncang Kepulauan Seribu Jakarta akibat Aktivitas Intraslab

Published September 12, 2026 · Updated September 12, 2026 · By Michael Miller - lenterafakta.com

Foto : Michael Miller - lenterafakta.com

BMKG: Gempa M 5,9 Guncang Kepulauan Seribu akibat Intraslab

Lenterafakta.com – BMKG melaporkan gempa bumi bermagnitudo M 5,9 mengguncang wilayah utara Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu, 12 September 2026. Gempa terjadi pada pukul 04.23.55 WIB dan getarannya dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa hingga Sumatera.

Berdasarkan analisis awal BMKG, gempa tersebut termasuk gempa bumi dalam yang dipicu aktivitas intraslab. Kajian dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter. Aktivitas intraslab merujuk pada pergerakan yang terjadi di dalam lempeng bumi yang menunjam, sehingga karakter guncangannya dapat berbeda dengan gempa dangkal.

Perbedaan karakter gempa juga memengaruhi persebaran getaran yang dirasakan masyarakat. Meski pusat gempa berada di wilayah utara Kepulauan Seribu, laporan intensitas menunjukkan getaran menjangkau berbagai daerah dengan tingkat kekuatan yang tidak sama.

Analisis BMKG tentang Sumber Gempa

Supervisor on Duty InaTEWS, Debi Safari Yogaswara, menyampaikan bahwa hasil analisis mekanisme sumber memperlihatkan adanya kombinasi pergerakan pada bidang patahan. Mekanisme gempa itu disebut sebagai gerakan geser turun atau oblique normal.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser turun (oblique normal),” ujar Debi melalui keterangan tertulis.

Informasi mekanisme sumber penting untuk membantu memahami proses yang memicu gempa. Namun, data awal kegempaan dapat diperbarui apabila BMKG menerima tambahan catatan dari jaringan sensor dan proses analisis lanjutan.

Masyarakat yang merasakan guncangan diimbau mengutamakan informasi resmi. Penyebaran kabar yang belum terverifikasi, terutama mengenai dampak atau kemungkinan aktivitas lanjutan, dapat memicu kekhawatiran yang tidak perlu.

Wilayah yang Merasakan Guncangan

Peta tingkat guncangan atau shakemap BMKG menunjukkan intensitas tertinggi mencapai IV MMI di Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, dan Tanggamus. Pada skala tersebut, getaran umumnya dapat dirasakan banyak orang saat berada di dalam bangunan dan sebagian orang ketika berada di luar ruangan.

Dalam intensitas IV MMI, benda pecah belah dapat bergetar atau bahkan pecah. Jendela dan pintu juga bisa berbunyi atau berderik akibat getaran. Dampak yang dirasakan setiap warga tetap dapat berbeda, antara lain karena kondisi bangunan dan jenis tanah di lokasi masing-masing.

Getaran dengan intensitas III MMI dilaporkan terasa di Tangerang, Tanjung Priok, Kecamatan Nagrak, Kecamatan Kalapanunggal, serta Cilacap. Pada tingkat ini, guncangan biasanya jelas dirasakan di dalam rumah dan kerap disamakan dengan sensasi kendaraan besar yang melintas di sekitar bangunan.

Sementara itu, Rancaekek, Lembang, Garut, Kota Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Kabupaten Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman, dan Solok Selatan mengalami getaran pada kisaran II hingga III MMI. Getaran pada tingkat tersebut dapat terasa ringan hingga cukup nyata, khususnya bagi warga yang sedang berada di dalam ruangan.

Di Lemong, Semaka, dan Bengkunat, intensitas gempa tercatat II MMI. Pada level ini, getaran biasanya hanya dirasakan sebagian orang dan benda-benda ringan yang digantung dapat terlihat bergerak.

Pemantauan Gempa Susulan

Hingga pukul 05.00 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya aktivitas gempa susulan. Pemantauan tetap dilanjutkan untuk mengamati perkembangan aktivitas seismik setelah gempa utama bermagnitudo M 5,9 tersebut.

Belum adanya gempa susulan dalam periode pemantauan awal merupakan informasi kondisi pada waktu tersebut. Warga tetap perlu mengikuti pembaruan dari BMKG karena informasi kegempaan dapat berubah seiring masuknya data baru dari jaringan pemantauan.

Perbedaan intensitas antardaerah merupakan hal yang lazim terjadi. Selain dipengaruhi jarak dari episenter dan kedalaman sumber gempa, getaran dapat terasa berbeda karena kondisi geologi setempat serta karakter konstruksi bangunan.

Arti Skala MMI dan Magnitudo

Skala Modified Mercalli Intensity atau MMI menggambarkan tingkat getaran dan dampak yang dirasakan di suatu lokasi. Karena menggambarkan pengalaman di lapangan, nilai MMI dari satu gempa dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lain.

Magnitudo M 5,9, di sisi lain, menunjukkan besaran energi yang dilepaskan oleh gempa. Dengan memahami perbedaan magnitudo dan MMI, masyarakat dapat mengetahui mengapa gempa yang sama terasa kuat di satu wilayah tetapi lebih ringan di wilayah lainnya.

Saat merasakan gempa, warga dianjurkan tetap tenang dan memperhatikan keadaan sekitar. Apabila berada di dalam bangunan, hindari benda yang berpotensi jatuh dan cari perlindungan di lokasi yang aman. Setelah getaran berhenti, periksa kondisi lingkungan serta ikuti arahan pihak berwenang.

FAQ Gempa BMKG

Apa yang harus dilakukan setelah merasakan gempa? Tetap tenang, periksa kondisi diri dan lingkungan sekitar, serta perhatikan kemungkinan benda atau bagian bangunan yang berbahaya. Gunakan informasi resmi BMKG dan pihak berwenang sebagai rujukan utama.

Mengapa getaran gempa terasa berbeda di tiap daerah? Intensitas yang dirasakan dipengaruhi jarak dari pusat gempa, kedalaman sumber gempa, kondisi tanah, dan karakter bangunan. Karena itu, satu peristiwa gempa dapat memiliki skala MMI yang berbeda di sejumlah wilayah.

Apakah ada gempa susulan setelah gempa M 5,9 ini? Hingga pukul 05.00 WIB, BMKG belum mendeteksi gempa susulan. Pemantauan terhadap aktivitas seismik tetap dilakukan dan masyarakat perlu mengikuti pembaruan resmi.

Related Reading