LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Data Kemenkes: Kasus ISPA Akibat Asap Karhutla Tembus 333.470, Termasuk 75.172 Balita

Published Oktober 22, 2026 · Updated Oktober 22, 2026 · By Nancy Moore - lenterafakta.com

Foto : Nancy Moore - lenterafakta.com

Kasus ISPA di Wilayah Karhutla Mencapai 333.470, Balita Jadi Kelompok yang Rentan

Lenterafakta.com – Paparan asap kebakaran hutan dan lahan masih menimbulkan dampak serius bagi kesehatan warga di sejumlah daerah. Hingga 21 Oktober 2026, akumulasi infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di kawasan terdampak karhutla mencapai 333.470 kasus.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, menyampaikan bahwa angka tersebut dihimpun sejak 18 Agustus 2026. Kasus-kasus itu tersebar di 68 kabupaten dan kota pada tujuh provinsi yang terdampak kabut asap.

“Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla telah menembus angka 333.470 kasus,” kata Then Suyanti.

Dari jumlah keseluruhan pasien, 258.298 kasus dialami penduduk berusia lebih dari lima tahun. Sementara itu, 75.172 kasus tercatat pada anak berusia nol hingga lima tahun. Besarnya angka pada kelompok balita menjadi perhatian karena anak-anak lebih mudah mengalami gangguan saat kualitas udara memburuk.

Kabut Asap dan Ancaman Partikel PM2.5

Peningkatan penderita ISPA berlangsung seiring penebalan kabut asap di daerah-daerah terdampak. Asap karhutla membawa partikel halus PM2.5 yang dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil ini tidak selalu terlihat secara jelas, tetapi keberadaannya dapat membuat udara menjadi tidak aman untuk dihirup.

Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU oleh Kementerian Kesehatan pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah wilayah telah berada dalam kategori hitam atau berbahaya. Kategori tersebut ditandai dengan konsentrasi PM2.5 yang melampaui angka 300.

Dalam situasi udara seperti itu, keluhan kesehatan dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, hingga kesulitan bernapas. Asap juga dapat memperberat kondisi orang yang telah memiliki penyakit paru-paru. Karena itu, gejala yang tampak ringan tetap perlu diperhatikan, terutama bila terus memburuk setelah seseorang terpapar udara tercemar.

“Sebaran kasus ISPA yang tercatat berada pada 68 kabupaten/kota di 7 provinsi. Lonjakan drastis penderita ISPA ini sejalan dengan pekatnya kabut asap yang mencemari udara,” ungkap Then Suyanti.

Layanan Kesehatan Disiagakan

Untuk menghadapi dampak kesehatan akibat karhutla, Kementerian Kesehatan menyiagakan 1.691 puskesmas di wilayah terkait. Selain layanan tingkat pertama tersebut, tersedia pula 360 rumah sakit rujukan yang dapat menerima pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Dukungan penanganan juga disiapkan melalui 87 laboratorium kesehatan masyarakat. Keberadaan laboratorium ini menjadi bagian dari kesiapan layanan kesehatan dalam menghadapi dampak karhutla di daerah yang kualitas udaranya terdampak.

Pemerintah daerah telah menyediakan 491 rumah oksigen di masing-masing wilayah. Fasilitas ini dipersiapkan untuk membantu warga yang membutuhkan layanan terkait gangguan pernapasan akibat paparan asap.

“Pemerintah daerah juga telah menyiapkan rumah oksigen sebanyak 491 rumah oksigen yang sudah tersedia di masing-masing wilayah,” imbuh Suyanti.

Kementerian Kesehatan juga mencatat kesiapan 18.547 dokter umum dan tenaga dokter spesialis. Tenaga spesialis yang terlibat mencakup dokter mata, paru, telinga hidung tenggorokan atau THT, serta spesialis dermatologi dan venereologi atau DVE. Ketersediaan tenaga tersebut penting karena keluhan akibat asap tidak hanya menyerang saluran pernapasan, melainkan dapat pula berkaitan dengan mata dan kulit.

Perlindungan untuk Anak dan Lansia

Anak-anak dan lanjut usia perlu memperoleh perlindungan lebih besar ketika kualitas udara menurun. Balita memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang, sementara lansia dapat memiliki kondisi kesehatan yang membuat mereka lebih mudah terdampak polusi. Orang dengan riwayat gangguan paru-paru juga perlu membatasi paparan asap semaksimal mungkin.

Masyarakat dianjurkan memantau perkembangan kualitas udara secara rutin melalui ISPUnet yang telah terintegrasi dalam aplikasi SATUSEHAT. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah, khususnya saat indeks pencemar udara menunjukkan kondisi tidak sehat atau berbahaya.

Ketika asap pekat terjadi, kegiatan di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker, mencukupi kebutuhan air putih, serta mengupayakan agar asap tidak banyak masuk ke dalam rumah dapat membantu mengurangi paparan. Warga yang mengalami sesak napas atau batuk yang semakin berat dianjurkan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kita harus melindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,” tandasnya.

Lonjakan kasus ISPA ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kebakaran di lokasi kejadian. Kabut asap dapat menjangkau permukiman dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, sekolah, pekerjaan, serta kesehatan keluarga. Perhatian terhadap kualitas udara, pengurangan paparan, dan akses cepat ke layanan kesehatan menjadi langkah penting selama kondisi asap masih berlangsung.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Data Kemenkes?

Data Kemenkes is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Data Kemenkes matter?

Data Kemenkes matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.