LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kepala BGN Akui Siswa Lebih Senang Makan MBG Prasmanan: Makanan “Fresh”, Bisa Nambah

Published Oktober 20, 2026 · Updated Oktober 20, 2026 · By Mary Taylor - lenterafakta.com

Foto : Mary Taylor - lenterafakta.com

Uji Coba MBG Prasmanan Dinilai Membuat Siswa Lebih Antusias

Lenterafakta.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mendapat respons positif dari para siswa dalam masa uji coba. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan bahwa anak-anak terlihat lebih senang ketika makanan disajikan dalam konsep tersebut, terutama karena hidangan dapat dinikmati dalam kondisi lebih hangat dan segar.

Model prasmanan juga memberi kemungkinan bagi siswa untuk mengambil tambahan makanan apabila persediaan masih tersedia. Hal ini menjadi salah satu perbedaan penting dibanding pembagian makanan dengan porsi yang sudah ditetapkan sejak awal.

Uji coba yang berlangsung selama sepekan memperlihatkan tingkat konsumsi makanan yang lebih baik. Makanan yang disediakan juga disebut lebih cepat habis, sementara kondisi sajian dinilai lebih terjaga ketika sampai ke siswa.

“Kalau secara berdasarkan piloting yang seminggu ini, itu kita lihat hasilnya dari sisi tingkat kehabisannya lebih bagus. Kemudian freshness dari makanan yang disajikan lebih baik, lebih hangat. Terus antusiasme siswanya juga lebih senang ya, karena selain porsi yang dia dapat, kalau masih ada sisa masih bisa nambah,” ujar Sudaryono di Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Makanan Hangat dan Pilihan Tambahan

Dalam pelaksanaan di sekolah, kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh jenis menu, tetapi juga cara makanan tersebut disalurkan kepada siswa. Sistem prasmanan memungkinkan sajian ditempatkan di area pengambilan makanan sebelum anak-anak memilih porsi mereka. Kondisi ini dinilai membuat makanan terasa lebih fresh dibanding hidangan yang telah dibagikan dan menunggu lebih lama.

Bagi siswa, kesempatan menambah porsi menjadi hal yang menarik. Anak-anak dengan kebutuhan makan lebih besar dapat mengambil kembali makanan yang tersedia, sementara makanan yang tersisa berpotensi lebih sedikit. Meski demikian, pola tersebut tetap membutuhkan pengaturan agar seluruh siswa memperoleh kesempatan makan yang layak sebelum ada penambahan porsi.

Sudaryono belum menilai konsep prasmanan sebagai pola yang siap diterapkan tanpa penyesuaian. BGN masih memetakan berbagai tantangan yang bisa muncul di lapangan, termasuk kebutuhan edukasi bagi sekolah serta kesiapan tenaga kerja untuk melayani proses pembagian makanan.

“Enggak bisa sat set kita datang ke situ, terus kita berharap siswanya pasti paham,” ucapnya.

Sekolah dan Dapur Perlu Bersiap

Penerapan prasmanan tidak sekadar memindahkan makanan dari wadah makan ke meja saji. Sekolah perlu memahami alur pengambilan makanan, pengawasan siswa, serta pengaturan waktu agar kegiatan makan tidak mengganggu aktivitas belajar. Anak-anak juga perlu dibiasakan mengambil makanan secukupnya dan mengikuti antrean.

Di sisi lain, dapur penyedia MBG harus memiliki kesiapan untuk menghadapi kemungkinan penambahan porsi. Sistem ini dapat membuat proses penyajian menjadi lebih kompleks karena jumlah makanan yang disiapkan perlu mempertimbangkan kebutuhan tambahan, bukan hanya jumlah siswa yang terdaftar.

Sudaryono menyebut kesediaan dapur dan sekolah sebagai unsur penting dalam perluasan uji coba. Kedua pihak dapat menghadapi tambahan pekerjaan dibanding pola pembagian makanan biasa, sehingga penerapan konsep prasmanan perlu dilakukan melalui koordinasi yang matang.

“Karena kan prasmanan ini harus dapurnya harus mau. Mau tuh artinya dia memang bisa, karena dia ada nambah ya, ada nambah sedikit kerepotan gitu. Kemudian juga sekolahnya juga mesti mau, karena juga sekolahnya juga ada sedikit kerepotan gitu,” imbuh Sudaryono.

Perbedaan Kebutuhan Siswa SD

BGN juga memberi perhatian pada perbedaan usia peserta didik, khususnya di jenjang sekolah dasar. Pola makan siswa kelas awal tidak selalu sama dengan anak-anak yang sudah berada di kelas lebih tinggi. Karena itu, desain layanan prasmanan tidak bisa dipukul rata untuk seluruh kelompok usia.

Siswa kelas 1 dan kelas 2 SD, misalnya, masih membutuhkan pendampingan lebih besar saat mengambil makanan. Mereka memiliki kemampuan berbeda dalam menentukan porsi serta mengikuti alur pelayanan. Sementara siswa kelas 5 dan kelas 6 mungkin dapat lebih mandiri, meski tetap perlu pengawasan agar proses makan berjalan tertib.

“Atau misalnya prasmanan di SD kelas 1 kelas 2, itu kan beda sama kelas SD kelas 6 sama kelas 5 kan beda. Kelas 1 kelas 2 kan masih kecil-kecil, nah itu beberapa beberapa hal yang memang secara teknis harus kita harus kita solve gitu,” kata Sudaryono.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan prasmanan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan. Pengaturan ruang, pendampingan, jumlah petugas, hingga bentuk penyajian menu perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah dan usia anak-anak yang dilayani.

Target Ribuan Titik Uji Coba

BGN berencana melanjutkan pengujian konsep MBG prasmanan hingga penghujung 2026. Sudaryono berharap jumlah lokasi yang terlibat dapat mencapai 5.000 titik. Perluasan ini akan memberi gambaran lebih luas tentang kesiapan dapur, sekolah, tenaga pendukung, dan siswa dalam menjalankan mekanisme baru tersebut.

Uji coba di banyak lokasi penting untuk melihat tantangan teknis yang mungkin berbeda dari satu sekolah ke sekolah lain. Lingkungan sekolah, jumlah murid, ketersediaan ruang makan, serta kesiapan pengelola dapat memengaruhi kelancaran layanan prasmanan.

Dengan evaluasi yang berkelanjutan, pelaksanaan MBG prasmanan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan pola penyajian makanan yang paling sesuai. Respons positif siswa menjadi salah satu temuan awal, tetapi aspek kesiapan operasional tetap akan menentukan apakah konsep ini dapat dijalankan secara efektif dalam skala lebih luas.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kepala BGN Akui Siswa Lebih Senang?

Kepala BGN Akui Siswa Lebih Senang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kepala BGN Akui Siswa Lebih Senang matter?

Kepala BGN Akui Siswa Lebih Senang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.