Mencermati Langkah Prabowo Meniti Poros Jakarta-Moskwa
Prabowo di Vladivostok: Ambisi Jakarta Memperluas Sayap Ekonomi ke Eurasia
Lenterafakta.com – Empat hari di Vladivostok, Rusia, pada 1–4 September 2026 menjadi panggung bagi Presiden Prabowo Subianto untuk menegaskan posisi Indonesia dalam lanskap geopolitik yang terus bergeser. Kehadirannya di Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 bukan sekadar kunjungan diplomatik rutin, melainkan sinyal bahwa Jakarta ingin memastikan aksesnya ke pasar dan rantai pasok di kawasan Eurasia tidak bergantung pada satu poros tunggal.
Ini bukan pertemuan pertama antara Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sepanjang empat kesempatan berbeda, kedua pemimpin telah duduk bersama sebanyak lima kali — satu di antaranya berlangsung di Tiongkok berdampingan dengan Presiden Xi Jinping, sementara tiga lainnya digelar di wilayah Rusia. Intensitas kontak bilateral ini mencerminkan prioritas yang sengaja dibangun oleh kedua belah pihak.
Perjanjian Perdagangan Bebas: 11.882 Pos Tarif dalam Satu Paket
Agenda utama kunjungan kali ini berpusat pada percepatan implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU). Blok yang beranggotakan Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia itu masih menyisakan prosedur internal yang harus diselesaikan sebelum perjanjian benar-benar berlaku. Di sisi lain, Jakarta telah menuntaskan seluruh tahapan ratifikasi di dalam negeri.
Cakupan perjanjian ini sangat luas: 11.882 pos tarif, yang mewakili lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan, akan mengalami penurunan atau penghapusan bea masuk bertahap. Bagi sektor manufaktur, pertanian, dan ekspor nonmigas Indonesia, pembukaan akses ke pasar Eurasia berarti memperluas basis konsumen sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional di Asia Timur dan Amerika.
Di luar kerangka tarif, Prabowo juga menggaungkan penguatan kolaborasi di sektor energi, teknologi, industrialisasi, ketahanan pangan, dan aliran investasi. Ia bahkan melontarkan usulan agar nilai perdagangan bilateral kedua negara digandakan, serta agar jalur pelayaran dan penerbangan langsung dibuka untuk memangkas biaya logistik.
"Kami mengupayakan (kerja sama) pengetahuan dan investasi dalam energi terbarukan, jaringan listrik pintar, dan tenaga nuklir untuk tujuan damai, termasuk teknologi modular dan skala penuh, berdasarkan standar keselamatan tertinggi dan perlindungan internasional," ucap Prabowo di Vladivostok, Rusia, Kamis pekan lalu.
Pergeseran Peta Kekuatan dan Peran Rusia
Kenapa Moskwa Menjadi Prioritas?
Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, menilai intensitas pendekatan Prabowo terhadap Putin tidak bisa dipisahkan dari transformasi struktur kekuatan global yang sedang berlangsung. Ia menggambarkan Tiongkok dan Rusia sebagai "orbit" kekuatan baru yang mengisi ruang yang ditinggalkan oleh menurunnya kepemimpinan Amerika Serikat di panggung internasional.
Dalam kerangka teori hubungan internasional, pergeseran semacam itu kerap melahirkan apa yang disebut vacuum of power — kekosongan otoritas di berbagai kawasan yang sebelumnya dijamin oleh satu hegemon. Ketidakpastian di sektor energi dan ekonomi global memperbesar gejolak tersebut. Langkah-langkah Amerika Serikat di sejumlah kawasan, terutama Timur Tengah, turut menggeser keseimbangan kekuatan yang berdampak hingga Asia Tenggara, Asia Timur, dan Eropa.
Dalam konteks itu, Rusia dipandang memiliki modal strategis untuk tampil sebagai kekuatan penyeimbang sekaligus pesaing Washington — baik secara mandiri maupun melalui aliansi dengan Tiongkok atau mitra lain.
"Rusia memenuhi semua syarat untuk menjadi pesaing. Entah itu dalam posisinya sendiri ataupun dia berduet dengan China atau dengan siapa pun. Rusia punya potensi itu. Bisa kita ambil indikator teknologi,ekonomi, sumber daya alam, diplomasi global, Rusia masih unggul," ujar Teuku Rezasyah saat dihubungi Kompas.com, Minggu (6/9/2026).
Diversifikasi Pasokan: Pelajaran dari Dua Krisis
Di balik kalkulasi geopolitik, terdapat alasan ekonomi yang sangat konkret: Indonesia membutuhkan mitra perdagangan yang beragam agar tidak terjebak pada ketergantungan tunggal untuk kebutuhan energi maupun komoditas strategis. Ketika satu negara menjadi sumber utama pasokan, setiap konflik atau ketegangan geopolitik dapat berubah menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Teuku Rezasyah menunjuk dua preseden yang relevan. Pertama, pecahnya perang Rusia-Ukraina pada 2022, ketika Moskwa meminimalkan pengiriman gas ke negara-negara Eropa di tengah memburuknya hubungan dengan Barat. Eropa terpaksa mencari sumber energi alternatif dalam waktu singkat, dengan konsekuensi inflasi dan disrupsi industri yang signifikan. Kedua, gejolak di Timur Tengah tahun ini, ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran sempat mengganggu pelayaran serta arus minyak melalui Selat Hormuz — jalur yang menyalurkan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Kedua insiden tersebut memperlihatkan pola yang sama: konsentrasi pasokan pada satu koridor atau satu pemasok menciptakan titik kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh pihak yang memiliki kepentingan geopolitik. Bagi Indonesia, yang mengimpor sebagian besar kebutuhan migas dan komoditas industrinya, diversifikasi bukan lagi pilihan melainkan keharusan.
Dengan demikian, langkah Prabowo meniti poros Jakarta–Moskwa dapat dibaca sebagai upaya strategis ganda: memperluas ruang ekonomi nasional sekaligus membangun posisi tawar yang lebih seimbang di tengah dunia yang semakin multipolar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia akan terlibat dalam dinamika kekuatan global, melainkan seberapa cepat dan seberapa cerdas Jakarta mampu memanfaatkan setiap jendela yang terbuka.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mencermati Langkah Prabowo Meniti Poros Jakarta?Mencermati Langkah Prabowo Meniti Poros Jakarta is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mencermati Langkah Prabowo Meniti Poros Jakarta matter?Mencermati Langkah Prabowo Meniti Poros Jakarta matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.