Prabowo di KTT BRICS: Kami Tidak Suka Didikte oleh Kekuatan Tertentu
Prabowo Tekankan Ketahanan Nasional dan Kemandirian di Forum BRICS
Lenterafakta.com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia perlu memiliki fondasi nasional yang kokoh agar dapat menetapkan kebijakannya secara mandiri di tengah dinamika global. Pesan itu ia sampaikan dalam sesi terbatas bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” pada KTT ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
Dalam forum yang mempertemukan negara-negara anggota BRICS tersebut, Prabowo menekankan bahwa kedaulatan tidak cukup dipahami sebagai posisi politik semata. Kemandirian harus ditopang kemampuan nyata sebuah negara dalam menjaga kebutuhan rakyat, membangun kepercayaan, serta memperkuat daya tahan ketika menghadapi tekanan dari luar.
“Kami tidak suka didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu. Kita harus tangguh dan kemudian kita akan benar-benar mandiri. Kami telah memperkuat fondasi kami untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan,” kata Prabowo.
Kekuatan Negara Berawal dari Kebutuhan Rakyat
Prabowo memandang kekuatan suatu bangsa tumbuh dari kondisi di dalam negeri. Ketika kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi dengan baik, negara memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan prioritas pembangunan serta mengambil sikap dalam hubungan internasional.
Pangan, energi, pendidikan, dan kesejahteraan menjadi unsur yang ia soroti dalam membangun ketahanan nasional. Keempat bidang tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan warga sekaligus menentukan seberapa kuat sebuah negara menghadapi gejolak ekonomi, perubahan situasi global, maupun gangguan pasokan.
“Kekuatan selalu bermula dari dalam negeri bersama rakyat kita, lewat kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, menjamin pasokan energi yang mereka perlukan, mendidik anak-anak kita, serta memberikan mereka kesempatan untuk hidup sejahtera,” ujar Prabowo.
Penekanan pada pangan menunjukkan pentingnya ketersediaan kebutuhan pokok yang stabil bagi masyarakat. Sementara itu, jaminan energi berkaitan dengan aktivitas rumah tangga, layanan publik, industri, dan pertumbuhan ekonomi. Pendidikan juga ditempatkan sebagai investasi jangka panjang karena kualitas sumber daya manusia akan menentukan kemampuan bangsa untuk beradaptasi dan berkembang.
Dalam kerangka tersebut, kesejahteraan rakyat bukan hanya hasil dari pembangunan, melainkan bagian dari kekuatan nasional itu sendiri. Negara yang mampu memperluas kesempatan hidup layak bagi warganya memiliki dasar sosial yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan publik.
Kerja Sama BRICS sebagai Penguat Ketahanan
Prabowo juga menilai penguatan kemampuan nasional dapat berjalan seiring dengan kolaborasi antarnegara. Keikutsertaan dalam BRICS dipandang sebagai ruang untuk membangun kerja sama yang saling menguatkan, tanpa mengurangi kebutuhan setiap anggota untuk menata fondasi domestiknya masing-masing.
BRICS dapat menjadi wadah bagi anggota untuk memperluas kemitraan pada bidang-bidang strategis. Dengan ketahanan yang kuat di tingkat nasional, negara-negara anggota memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan kerja sama yang memberi dampak pada keamanan ekonomi, stabilitas pasokan, serta daya tahan kawasan.
Energi menjadi salah satu contoh yang disampaikan Prabowo. Ia melihat konektivitas sistem energi dan penguatan keamanan energi lintas wilayah sebagai langkah penting untuk mendukung perekonomian sekaligus menciptakan ketahanan yang berkelanjutan.
“Energi adalah salah satu contoh yang jelas. Kita menghubungkan sistem energi kita dan memperkuat keamanan energi di seluruh wilayah kita untuk mendorong perekonomian kita, dan membangun ketahanan yang berkelanjutan,” kata Prabowo.
Kerja sama energi memiliki arti luas bagi negara-negara yang terlibat. Ketahanan energi tidak semata berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga dengan kepastian pasokan, kemampuan sistem untuk tetap berjalan, dan kesiapan menghadapi perubahan kebutuhan. Konektivitas yang lebih baik dapat membuka peluang koordinasi yang lebih erat di antara negara-negara mitra.
Indonesia sebagai Anggota Baru
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyatakan penghargaan atas penerimaan Indonesia sebagai salah satu anggota baru BRICS. Ia menyebut keanggotaan itu sebagai kehormatan bagi Indonesia, terutama karena kelompok tersebut menaungi negara-negara yang merepresentasikan porsi besar penduduk dunia.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada negara-negara pendiri BRICS yang telah membuka jalan bagi Indonesia untuk bergabung. Bagi Indonesia, kehadiran dalam forum ini menambah ruang dialog dengan berbagai negara mengenai isu global, termasuk tata kelola internasional, kerja sama ekonomi, energi, dan ketahanan pembangunan.
KTT ke-18 BRICS berlangsung pada 12–13 September 2026 di New Delhi di bawah keketuaan India. Sesi bertema tata kelola global yang inklusif dan penguatan multilateralisme menjadi panggung bagi para pemimpin untuk membahas pentingnya kerja sama yang lebih luas dalam menghadapi tantangan bersama.
Pernyataan Prabowo di forum tersebut menempatkan ketahanan nasional sebagai pijakan utama diplomasi Indonesia. Pesannya menegaskan bahwa kerja sama internasional akan lebih bermakna apabila dibangun oleh negara-negara yang mampu menjaga kepentingan rakyat, memperkuat kapasitas sendiri, dan tetap terbuka untuk membangun kepercayaan dengan mitra di berbagai kawasan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Prabowo di KTT BRICS?Prabowo di KTT BRICS is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Prabowo di KTT BRICS matter?Prabowo di KTT BRICS matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.