LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Wantimpres dan Bisikan di Balik Pintu Istana

Published Oktober 3, 2026 · Updated Oktober 3, 2026 · By Michael Miller - lenterafakta.com

Foto : Michael Miller - lenterafakta.com

Ujian bagi Dewan Pertimbangan Presiden: Bukan Sekadar Banyak Nama

Lenterafakta.com – Pelantikan 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada Jumat, 2 Oktober 2026, menandai hadirnya lingkaran penasihat yang besar di sekitar Presiden Prabowo Subianto. Pratikno dipercaya sebagai Ketua, Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, sementara Muhammad Qodari menjalankan peran Sekretaris.

Komposisi tersebut menggabungkan pengalaman dari beragam bidang. Sejumlah nama yang masuk di antaranya Chairul Tanjung, Sinta Nuriyah Wahid, M. Quraish Shihab, Budi Gunawan, Anwar Usman, Rocky Gerung, dan Ignasius Jonan. Ada jejak birokrasi, dunia usaha, keagamaan, kampus, hukum, hingga gerakan sosial dalam satu wadah konsultatif bagi kepala negara.

Keberagaman latar belakang itu dapat dibaca sebagai upaya memperluas cakrawala pertimbangan Presiden. Pemerintahan sebuah negara berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa menghadapi persoalan yang tidak sederhana: ketahanan pangan, pekerjaan, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pengelolaan sumber daya, hubungan internasional, serta perubahan geopolitik. Tidak masuk akal jika seluruh isu itu hanya dipandang dari satu disiplin atau satu pengalaman hidup.

Namun, banyaknya orang di sekitar pusat kekuasaan tidak otomatis menghasilkan nasihat yang lebih baik. Pertanyaan pentingnya justru terletak pada kualitas ruang diskusi yang tercipta: apakah anggota dewan dapat menyampaikan pandangan yang berbeda, terutama saat pandangan itu tidak menyenangkan bagi pemegang keputusan?

Kedekatan yang Tidak Menghilangkan Kejujuran

Posisi penasihat selalu berada dalam ketegangan yang khas. Ia perlu cukup dekat dengan penguasa agar dapat memahami persoalan dan didengar. Pada saat bersamaan, ia mesti menjaga jarak batin agar tidak kehilangan kemampuan mengkritik. Kedekatan berlebihan mudah mengubah pertimbangan menjadi pengulangan dari kehendak yang sudah ada.

Niccolò Machiavelli telah menyoroti dilema ini dalam Bab XXIII The Prince. Intinya, seorang pemimpin membutuhkan orang-orang bijak yang diberi ruang untuk menyampaikan kebenaran. Peringatan itu tetap relevan karena kekuasaan umumnya tidak pernah kekurangan pihak yang cakap merangkai kata-kata menyenangkan. Yang lebih sukar ditemukan adalah orang yang mampu menyampaikan keberatan secara jernih, tepat waktu, dan bertanggung jawab.

Dalam praktik pemerintahan, nasihat yang berguna bukanlah dukungan otomatis atas setiap kebijakan. Nasihat bernilai ketika ia membantu menguji asumsi, menunjukkan risiko yang mungkin luput, menawarkan pilihan lain, dan menjelaskan konsekuensi dari tiap keputusan. Presiden tetap memiliki kewenangan menentukan arah, tetapi keputusan yang kuat seharusnya lahir setelah melewati percakapan yang sungguh-sungguh.

Risiko Keseragaman di Tengah Keragaman

Keberadaan 26 anggota memang menyediakan peluang bagi banyak sudut pandang. Akan tetapi, keragaman daftar nama belum tentu berarti keberagaman pemikiran hadir dalam ruang rapat. Sebuah forum dapat dihuni banyak tokoh dengan rekam jejak berbeda, tetapi tetap bergerak menuju kesimpulan yang sama bila tidak ada kebiasaan untuk menguji pendapat dominan.

Psikolog Irving Janis pada 1972 memperkenalkan gagasan groupthink, yakni kecenderungan kelompok untuk mengutamakan kesepakatan sehingga penilaian kritis terhadap alternatif melemah. Orang-orang cerdas pun dapat menghasilkan pilihan yang kurang baik jika mereka lebih takut mengganggu harmoni daripada memeriksa kelemahan suatu rencana.

Karena itu, tantangan Wantimpres bukan hanya menghimpun figur berpengalaman. Dewan tersebut juga perlu memiliki budaya kerja yang memungkinkan perbedaan pendapat disampaikan tanpa dipandang sebagai pembangkangan. Ketidaksetujuan yang disertai alasan, data, dan perhatian pada kepentingan publik merupakan unsur penting dalam proses pengambilan kebijakan yang sehat.

Dalam konteks ini, perbedaan pandangan bukan hambatan bagi pemerintahan. Justru sebaliknya, perbedaan yang dikelola dengan baik dapat mencegah keputusan dibuat terlalu cepat atau didasarkan pada informasi yang tidak lengkap. Penasihat yang baik tidak harus selalu menang dalam perdebatan, tetapi ia wajib memastikan pertanyaan yang sulit tidak dibiarkan menghilang.

Dasar Hukum dan Ukuran Efektivitas

Keberadaan Dewan Pertimbangan Presiden memiliki pijakan konstitusional. Pasal 16 UUD 1945 memberi kesempatan kepada Presiden untuk membentuk dewan yang bertugas memberikan nasihat serta pertimbangan. Pengaturannya kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006.

Perubahan melalui Undang-Undang Nomor 64 Tahun 2024 menghapus pembatasan jumlah anggota secara maksimal seperti ketentuan sebelumnya. Jumlah anggota ditentukan sesuai kebutuhan Presiden dengan tetap mempertimbangkan efektivitas pelaksanaan pemerintahan. Artinya, formasi yang besar tidak serta-merta menimbulkan persoalan dari sisi hukum.

Meski demikian, legalitas tidak menutup kebutuhan akan evaluasi publik. Ukuran utama bukan apakah jumlah anggota diperbolehkan, melainkan apakah susunan tersebut benar-benar menghasilkan masukan yang memperbaiki mutu kebijakan. Masyarakat berhak menilai manfaat kelembagaan dari kerja para penasihat, terutama bila rekomendasi mereka membantu pemerintah merespons persoalan secara lebih matang.

Biaya Jabatan dan Nilai yang Harus Dihasilkan

Ada pula dimensi anggaran yang tidak dapat diabaikan. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2026 menetapkan hak keuangan Ketua dan setiap anggota Wantimpres sebesar Rp76,5 juta per bulan, di luar fasilitas yang setara dengan menteri. Jika 26 pejabat menerima hak keuangan itu selama dua belas bulan penuh, nilainya mendekati Rp2 miliar setiap bulan atau sekitar Rp23,9 miliar dalam setahun.

Hitungan tersebut bukan gambaran realisasi belanja pada 2026. Para anggota baru dilantik pada 2 Oktober 2026, sehingga masa penerimaan pada tahun berjalan tidak mencapai satu tahun penuh. Angka Rp23,9 miliar hanya menggambarkan skala biaya tahunan apabila seluruh susunan itu bekerja selama dua belas bulan, dan belum mencakup fasilitas maupun dukungan kelembagaan.

Nilai tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan biaya itu terlalu besar ataupun terlalu kecil. Dalam pemerintahan, pengeluaran perlu dibaca bersama manfaat yang dihasilkan. Jika dewan mampu mencegah kebijakan yang keliru, memperluas pilihan pemerintah, atau membantu merumuskan langkah yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, nilai publiknya dapat jauh melampaui angka administratif di atas kertas.

Sebaliknya, jika Wantimpres hanya menjadi ruangan yang menguatkan pendapat yang sudah mapan, maka jumlah anggota dan besarnya fasilitas sulit memperoleh pembenaran yang meyakinkan. Pada akhirnya, keberhasilan dewan ini tidak akan diukur dari panjangnya daftar tokoh yang dilantik, melainkan dari keberanian, kejernihan, dan kegunaan nasihat yang sampai ke meja Presiden.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Wantimpres dan Bisikan di Balik Pintu?

Wantimpres dan Bisikan di Balik Pintu is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wantimpres dan Bisikan di Balik Pintu matter?

Wantimpres dan Bisikan di Balik Pintu matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.