LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ibu Siswa yang Keracunan MBG di Karo Marah ke Dokter, Anaknya Kejang tapi Disebut Normal

Published September 8, 2026 · Updated September 8, 2026 · By Robert Anderson - lenterafakta.com

Foto : Robert Anderson - lenterafakta.com

Konfrontasi Ibu dan Dokter di RSUP H Adam Malik: Anak Masih Kejang, Namun Dinyatakan "Normal"

Lenterafakta.com – Seorang ibu di Medan harus menelan kenyataan pahit ketika dokter menyatakan kondisi putrinya "normal", sementara di ruang tunggu bagian neurologi, anak itu masih mengalami kejang. Elvinus Lusiana Sitanggang (49), ibu dari Febiona Purba (16), siswa asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengungkapkan rasa kecewanya setelah membawa anaknya menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik Medan pada Selasa (8/9/2026). Bagi Elvinus, label "normal" yang ditempelkan pada kondisi anak yang secara fisik masih menunjukkan gejala kejang terasa tidak masuk akal dan mengabaikan fakta yang ia saksikan langsung.

Latar Belakang: Konsumsi MBG dan Gejala yang Muncul

Peristiwa bermula pada 13 Agustus 2026, ketika Febiona mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya. Menu yang ia terima saat itu disebut berupa ikan tuna atau tongkol. Elvinus menuturkan bahwa putrinya sempat mengeluhkan rasa makanan tersebut sebelum akhirnya memakannya karena lapar.

"Rasanya pahit dan keras, katanya. Tapi pikirnya kek gitu rasanya. Makan aja dia karena udah lapar," ujar Elvinus.

Beberapa waktu setelah mengonsumsi makanan tersebut, Febiona mulai merasakan pusing, gatal-gatal di kulit, muntah, dan tubuh yang terasa lemas. Keluarganya segera membawa Febiona ke sejumlah fasilitas kesehatan di Karo untuk penanganan awal. Gangguan kesehatan yang dialami Febiona oleh keluarganya dikaitkan langsung dengan konsumsi makanan program MBG tersebut.

Pemeriksaan Lanjutan di Medan dan Ketegangan di Ruang Neurologi

Setelah penanganan awal di Karo, Febiona dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada kunjungan Selasa itu, Febiona menjalani kontrol medis untuk ketiga kalinya. Ia ditangani oleh dokter spesialis gastroenterologi anak, neurologi anak, dan psikiatri. Pemeriksaan electroencephalography (EEG) juga telah dilakukan untuk memetakan aktivitas listrik otak dan mendeteksi kemungkinan abnormalitas yang memicu kejang.

Momen paling menegangkan bagi Elvinus terjadi ketika putrinya menunggu hasil pemeriksaan di bagian neurologi. Di ruang tunggu itulah, Febiona kembali mengalami kejang. Elvinus menyaksikan langsung kejadian tersebut dan merasa pernyataan dokter yang menyebut kondisi anaknya "normal" tidak sejalan dengan apa yang ia lihat.

"Jadi tadi cek hasilnya. Tapi gak ada kata dokternya penyakitnya. Normal, katanya. Marah lah aku di ruangannya," kata Elvinus.

Ia mempertanyakan logika di balik pernyataan tersebut dengan nada penuh emosi.

"Gimana maksud kalian, sementara anakku tadi di situ kejang-kejang, di bagian neurologi saat nunggu hasilnya. Tadi cuma jumpa satu dokter neurologi," katanya.

Instruksi Dokter: Pantau dan Rekam di Rumah

Setelah pemeriksaan, dokter meminta Elvinus untuk memantau kondisi Febiona selama berada di rumah. Apabila kejang terulang, ia diminta merekam kejadian tersebut dalam bentuk video dan mengirimkannya kepada tim medis agar penanganan farmakologis dapat diberikan secara tepat.

"Jadi kalau kejang lagi pas di rumah, nanti dikirim videonya ke mereka biar dikasih obatnya, katanya," ucapnya.

Model penanganan berbasis pemantauan jarak jauh ini menimbulkan pertanyaan bagi keluarga: apakah cukup aman membiarkan pasien dengan riwayat kejang tanpa pengawasan medis langsung selama periode pemulihan yang belum jelas batas waktunya?

Respons Humas RSUP H Adam Malik

Rosario Dorothy Simanjuntak, Humas RSUP H Adam Malik, menjelaskan bahwa Febiona berstatus pasien rawat jalan dan telah menjalani kontrol untuk ketiga kalinya. Ia menegaskan bahwa kondisi Febiona saat ini stabil, sehingga penanganan lanjutan tidak memerlukan hospitalisasi.

"Kondisinya kan stabil. Jadi saat ini yang diperlukan rawat jalan saja dan sepertinya dalam jangka waktu yang lama," kata Rosario.

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa proses pemulihan Febiona berpotensi berlangsung berkepanjangan. Istilah "jangka waktu yang lama" yang diucapkan Rosario menunjukkan bahwa tim medis belum dapat memastikan kapan gejala neurologis akan sepenuhnya mereda, sehingga pemantauan berkala menjadi kebutuhan utama.

Konteks Program MBG dan Implikasinya

Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif pemerintah yang bertujuan menyediakan asupan gizi bagi siswa di berbagai daerah. Program ini dijalankan melalui dapur-dapur penyedia makanan yang mendistribusikan menu harian ke sekolah-sekolah. Ketika gangguan kesehatan terjadi dan dikaitkan dengan konsumsi makanan program, pertanyaan tentang standar keamanan pangan, rantai distribusi, serta mekanisme respons cepat menjadi sorotan publik.

Kasus Febiona menambah daftar keluhan keluarga siswa yang melaporkan gejala setelah mengonsumsi makanan MBG. Bagi keluarga di Karo dan daerah lain, insiden semacam ini menimbulkan kekhawatiran: apakah mekanisme pelaporan dan investigasi pangan berjalan cukup cepat? Apakah siswa yang mengalami gejala mendapat penanganan medis tanpa hambatan birokrasi? Dan apakah pihak penyedia makanan dituntut untuk memberikan penjelasan transparan mengenai bahan baku serta proses pengolahan?

Di sisi lain, respons medis yang menyebut kondisi "stabil" dan mengarahkan pasien ke jalur rawat jalan bukan berarti mengabaikan keluhan. Namun, bagi seorang ibu yang menyaksikan putrinya kejang di ruang tunggu, jarak antara pernyataan klinis dan pengalaman langsung terasa sangat lebar. Situasi ini menyoroti kebutuhan akan komunikasi medis yang lebih empati dan transparan, terutama ketika pasien masih di bawah umur dan keluarganya menjadi satu-satunya pengawas di rumah.

Bagi Febiona sendiri, jalan pemulihan masih panjang. Dengan instruksi untuk merekam setiap episode kejang dan mengirimkannya kepada dokter, ia akan menjalani periode pemantauan yang belum diketahui kapan berakhir. Sementara itu, pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada 13 Agustus 2026 di piring makan siang sekolahnya tetap menggantung, menunggu jawaban yang belum diberikan oleh pihak mana pun.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ibu Siswa yang Keracunan MBG di Karo?

Ibu Siswa yang Keracunan MBG di Karo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ibu Siswa yang Keracunan MBG di Karo matter?

Ibu Siswa yang Keracunan MBG di Karo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.