LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pekatnya Asap di Palangka Raya Bikin Warga Sesak Saat Shalat Berjemaah

Published Oktober 13, 2026 · Updated Oktober 13, 2026 · By Joseph Anderson - lenterafakta.com

Foto : Joseph Anderson - lenterafakta.com

Kabut Asap Tebal Mengganggu Ibadah Warga Palangka Raya

Lenterafakta.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan dampaknya kini terasa hingga ke ruang-ruang ibadah. Sejumlah warga mengaku kesulitan bernapas, mengalami iritasi pada mata, serta merasa tidak nyaman ketika mengikuti shalat berjemaah di masjid maupun musala.

Kondisi udara yang memburuk tidak hanya menghambat kegiatan di luar rumah. Perjalanan singkat menuju tempat ibadah pun menjadi beban tersendiri, terutama bagi warga yang berjalan kaki. Asap pekat membuat sebagian jemaah memilih memakai masker saat beribadah demi mengurangi paparan udara yang dinilai tidak layak dihirup.

Perjalanan ke Musala Menjadi Tidak Nyaman

Akbar (30), warga Jalan Tjilik Riwut Km 4, Palangka Raya, mengatakan kepungan asap telah mengusik rutinitas ibadah keluarganya selama sekitar empat bulan terakhir. Ia dan keluarganya tetap berusaha mendatangi musala di dekat rumah, tetapi harus menghadapi perih di mata dan sesak napas sepanjang perjalanan.

“Terutama saat melangkah keluar rumah lalu berjalan kaki menuju mushola. Mata perih dan sesak meskipun kami sekeluarga menggunakan double masker saat shalat berjamaah,” ujar Akbar saat ditemui pada Senin (12/10/2026).

Bagi Akbar, gangguan itu tidak berhenti setelah tiba di musala. Asap yang telah terhirup saat berjalan membuat kenyamanan beribadah berkurang. Penggunaan masker ganda menjadi langkah perlindungan yang dilakukan keluarganya, meski ia melihat kebiasaan tersebut belum banyak diikuti warga lain di lingkungannya.

Ia menilai masyarakat membutuhkan arahan yang lebih jelas mengenai risiko asap karhutla, termasuk perlindungan kesehatan sederhana yang dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Akbar mengaku belum banyak menerima panduan, edukasi, ataupun sosialisasi dari pengurus RT dan RW di wilayah tempat tinggalnya.

“Sehingga selama shalat, hanya keluarga kami saja yang kontras terlihat menggunakan masker. Patut dipertanyakan kehadiran negara dalam lingkup unit kecil seperti RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, dan atasnya mengenai kesadaran mereka sebagai pemimpin yang perlu memberikan pengayoman bukan sekedar melakukan rutinitas biasa dan melakukan pungutan pajak dari uang rakyat,” tegas Akbar.

Jemaah Menghadapi Dilema Penggunaan Masker

Keluhan serupa disampaikan Najim Abadi (27), warga Palangka Raya yang merasakan dampak penurunan kualitas udara terhadap kegiatan harian dan ibadahnya. Ia memandang situasi saat ini menuntut kewaspadaan seperti ketika pandemi Covid-19, saat penggunaan masker dan penerapan protokol kesehatan dilakukan secara luas.

Namun, Najim melihat terdapat kebingungan di kalangan jemaah ketika masker dipakai saat shalat. Sebagian warga mempertimbangkan tata cara ibadah, terutama pada gerakan sujud, sementara kebutuhan untuk melindungi saluran pernapasan juga semakin mendesak ketika asap menyelimuti kota.

”Aktivitas apa pun pasti terganggu, apalagi kalau solat ini kan belum ada fatwanya kayak dulu Covid kan, ya. Kalau menurut saya ya, kan dulu Covid itu ada zamannya waktu pakai masker, ya. Nah, sekarang kan harusnya pakai masker nih karena udaranya enggak layak buat dihirup. Cuman kalau solat, mungkin ibadah ya, agama Islam shalat, nah itu ada pantangannya buat pakai masker, kan menghalangi posisi sujud-sujud,” jelas Najim saat dijumpai di Masjid Shalahuddin Palangka Raya.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak kabut asap tidak semata berkaitan dengan aktivitas ekonomi, pendidikan, atau perjalanan warga. Saat kualitas udara menurun dalam waktu lama, pelaksanaan kegiatan keagamaan pun ikut terdampak. Jemaah perlu mempertimbangkan kondisi tubuh, perjalanan menuju masjid atau musala, serta tingkat paparan asap yang dihadapi.

Keluhan seperti mata terasa pedih, tenggorokan tidak nyaman, batuk, dan sesak napas dapat mengganggu konsentrasi selama beribadah. Kelompok warga yang memiliki gangguan pernapasan, termasuk asma, dapat menghadapi risiko yang lebih besar saat paparan asap terjadi terus-menerus. Anak-anak, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh yang menurun juga membutuhkan perhatian khusus dalam kondisi udara buruk.

Harapan Akan Tindakan yang Lebih Tegas

Najim menilai keselamatan jemaah dan warga secara umum harus menjadi perhatian nyata pemerintah serta para pemangku kebijakan. Ia menyoroti ancaman gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, bronkitis, asma, hingga menurunnya stamina, yang dapat dialami masyarakat baik ketika berada di dalam maupun luar ruangan.

Baginya, persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan masalah yang dapat dibebankan kepada warga secara perorangan. Pemakaian masker memang dapat membantu mengurangi paparan, tetapi langkah perlindungan pribadi tidak menggantikan kebutuhan akan penanganan titik-titik api secara menyeluruh dan terstruktur.

”Kebijakan ini kan memang masalah struktural, yang membiarkan ini siapa? Negara tetangga aja sudah ngeluh loh. Berarti lebih ke berharap sebenarnya pemerintah, iya kita berharap ke pemerintah,” pungkas Najim.

Warga berharap upaya pemadaman karhutla dapat dilakukan hingga tuntas agar krisis asap tidak terus membatasi kehidupan sehari-hari. Selain penanganan sumber kebakaran, kebutuhan akan informasi yang mudah dipahami juga menjadi penting, terutama di tingkat lingkungan terkecil. Arahan yang jelas dapat membantu warga mengambil langkah perlindungan saat harus keluar rumah, bekerja, bersekolah, atau mengikuti kegiatan ibadah berjemaah.

Di tengah kabut asap yang belum reda, masyarakat Palangka Raya tetap berupaya menjaga rutinitas spiritual mereka. Namun, pengalaman Akbar dan Najim menunjukkan bahwa udara bersih bukan hanya kebutuhan kesehatan, melainkan juga bagian penting agar warga dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan khusyuk.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pekatnya Asap di Palangka Raya Bikin?

Pekatnya Asap di Palangka Raya Bikin is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pekatnya Asap di Palangka Raya Bikin matter?

Pekatnya Asap di Palangka Raya Bikin matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.