Apakah Penghasilan Menentukan Desil? Ini 8 Indikator yang Dipakai Pemerintah
Desil Bukan Ukuran Penghasilan: Bagaimana Pemerintah Mengelompokkan Kesejahteraan Keluarga
Lenterafakta.com – Di ruang digital, perdebatan soal kecocohan desil dengan kondisi riil ekonomi warga terus bergulir. Banyak warganet mengeluh bahwa mereka tercantum pada desil 9 atau 10, padahal kemampuan finansial mereka jauh dari kata makmur. Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa angka desil sama sekali tidak merepresentasikan besaran pendapatan seseorang.
Apa Sebenarnya yang Diukur oleh Desil?
Margaretha Ari Anggorowati, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, menjelaskan bahwa desil merupakan pengelompokan keluarga menurut tingkat kesejahteraan sosial-ekonomi. Dalam sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), seluruh keluarga di Indonesia dibagi ke dalam sepuluh kelompok. Desil 1 mewakili 10 persen keluarga berkejahteraan terendah, sementara desil 10 mewakili 10 persen keluarga berkejahteraan tertinggi.
"Jadi, desil bukan angka yang menunjukkan besarnya pendapatan seseorang, melainkan posisi relatif suatu keluarga dalam distribusi tingkat kesejahteraan," ucapnya.
Ari menekankan bahwa penentuan posisi desil tidak semata-mata bergantung pada besaran gaji atau penghasilan bulanan. Sejumlah indikator sosial-ekonomi turut dipertimbangkan dalam proses pengelompokan tersebut.
Contoh Nyata: Warga Sragen yang Terkejut Masuk Desil 9
Ipeh, seorang pemuda berusia 27 tahun asal Sragen, menjadi salah satu contoh nyata kebingungan publik. Setelah memeriksa statusnya di laman DTSEN, ia mendapati namanya tercatat pada desil 9.
"Kaget banget tiba-tiba saya masuk desil 9, padahal gaji masih UMR dan rumah saya bahkan hanya memiliki daya listrik 900 VA," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (16/8/2026).
Ipeh tinggal bersama empat anggota keluarga lain—ayah, ibu, kakak, dan adik. Hunian sederhana mereka di salah satu kecamatan di Sragen baru berdiri sekitar dua tahun lalu; sebelumnya keluarga tersebut menyewa rumah kontrakan.
Mengapa Muncul Ketidaksesuaian antara Desil dan Kondisi Riil?
Ari mengidentifikasi penyebab paling umum dari keluhan tersebut: kondisi sosial-ekonomi keluarga bersifat dinamis, sedangkan data administrasi atau hasil pendataan memiliki waktu referensi tertentu. Seseorang bisa saja baru kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan pendapatan, berpindah tempat tinggal, memperoleh atau kehilangan aset, atau mengalami perubahan susunan keluarga. Perubahan semacam itu belum tentu langsung tercermin saat warga mengecek status desilnya.
"Selain itu, desil merupakan peringkat relatif, bukan penilaian absolut. Artinya, posisi suatu keluarga ditentukan dengan membandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lainnya. Karena itu, perubahan kondisi keluarga lain juga dapat memengaruhi posisi relatif sebuah keluarga," jelas Ari.
Ia menambahkan bahwa pemerintah menyadari ketidaksesuaian masih mungkin terjadi. DTSEN dirancang sebagai basis data yang dinamis dan terus dimutakhirkan, termasuk melalui verifikasi atau ground check di lapangan.
"Dengan demikian, desil yang tercantum bukan berarti kondisi ekonomi sebuah keluarga tidak mungkin berubah, tetapi merupakan hasil pengelompokan berdasarkan informasi yang tersedia pada saat proses pemeringkatan dilakukan," ucapnya.
Infrastruktur Data di Balik DTSEN
DTSEN dibangun dari integrasi tiga sumber data utama, yakni Regsosek, DTKS, dan P3KE. Data tersebut kemudian diperkaya dengan informasi dari PLN, Pertamina, dan BPJS Kesehatan, serta dipadankan dengan data administrasi kependudukan. Pemutakhiran dilakukan melalui ground check dan sumber data lainnya, lalu disinkronkan kembali dengan data administrasi kependudukan.
BPS terus berupaya meningkatkan kualitas DTSEN melalui integrasi, pemadanan, validasi, serta pemutakhiran data. Verifikasi lapangan turut dilakukan agar informasi dalam basis data semakin sesuai dengan kondisi nyata masyarakat.
"DTSEN bukan data yang sekali dibuat kemudian tidak berubah. Data ini bersifat dinamis dan diperbarui secara berkala," kata Ari.
"Pemutakhiran dilakukan oleh berbagai kementerian/lembaga/dinas maupun Pemerintah Pusat/Daerah," tambahnya.
Status Pemutakhiran per Juli 2026
Berdasarkan DTSEN Versi 3 Tahun 2026 per 10 Juli 2026, sekitar 33,3 persen keluarga telah dimutakhirkan. Total record keluarga tercatat sebanyak 95,98 juta keluarga dan record individu sebanyak 290,13 juta orang yang telah direkonsiliasi bersama Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri.
Ari menutup penjelasannya dengan pesan bahwa apabila masyarakat merasa kondisi sosial-ekonominya saat ini tidak sesuai dengan desil yang tercantum, mekanisme pemutakhiran dan verifikasi lapangan tersedia untuk mengakomodasi perubahan tersebut.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Apakah Penghasilan Menentukan Desil Ini 8 Indikator?Apakah Penghasilan Menentukan Desil Ini 8 Indikator is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Apakah Penghasilan Menentukan Desil Ini 8 Indikator matter?Apakah Penghasilan Menentukan Desil Ini 8 Indikator matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.