LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Australia Tangguhkan Work and Holiday Visa dari 24 Negara Termasuk Indonesia, Ada Apa?

Published Agustus 20, 2026 · Updated Agustus 20, 2026 · By Nancy Anderson - lenterafakta.com

Australia Ganti Rem Mendadak: 24 Negara Termasuk Indonesia Kehilangan Akses Work and Holiday Visa

Lenterafakta.com – Sejak 1975, program Working Holiday Maker (WHM) Australia menjadi jembatan pertukaran budaya bagi kaum muda lintas negara. Mekanisme ini memfasilitasi perjalanan wisata sekaligus pekerjaan paruh waktu di tanah kanguru, sekaligus menjadi tulang punggung tenaga kerja di berbagai sektor, khususnya di kawasan regional. Namun, pada Selasa (18/8/2026), pemerintah Australia secara tiba-tiba menutup pintu penerimaan permohonan visa dari 24 negara — dan Indonesia termasuk di dalamnya.

Detail Penangguhan dan Dampaknya

Dilansir dari ABC Australia, langkah ini berdampak langsung pada generasi muda yang merencanakan tinggal sementara di Australia untuk berwisata dan mencari penghasilan. Yang membuat situasi semakin membingungkan, Canberra tidak memberikan penjelasan spesifik mengenai alasan penghentian sementara tersebut. Konteks kebijakan ini muncul di tengah upaya pemerintah menekan volume migrasi masuk.

Dari sisi kuota, Indonesia selama ini memperoleh jatah 5.000 work and holiday visa setiap tahun. Sementara itu, permohonan dari lima negara lain masih tetap dibuka. San Marino dan Turkiye masing-masing memiliki alokasi 100 visa dengan mekanisme siapa cepat dia dapat. Adapun warga China, India, dan Vietnam masih dapat mengajukan diri melalui sistem undian atau ballot.

Arsitektur Visa WHM

Program WHM beroperasi melalui dua jalur visa. Subclass 417 (Working Holiday) tidak dibatasi kuota secara keseluruhan dan saat ini melayani 19 negara mitra, antara lain Kanada, Perancis, Jepang, dan Inggris. Sebaliknya, subclass 462 (Work and Holiday) menerapkan kuota tetap per negara dan mencakup 29 negara.

Berdasarkan data Departemen Dalam Negeri Australia, Indonesia, China, dan Amerika Serikat menempati tiga posisi teratas sebagai negara asal pemegang kewarganegaraan terbanyak untuk visa subclass 462 dalam periode enam bulan hingga 30 Juni 2025. Secara keseluruhan, tercatat 206.187 pemegang work and holiday visa berada di Australia per tanggal tersebut.

Respons Pemerintah dan Dunia Hukum

Menteri Dalam Negeri Tony Burke hanya menyatakan bahwa permohonan work and holiday visa kini diproses lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Di laman resmi pemerintah, penangguhan sementara dapat dilakukan ketika kuota suatu negara nyaris terpenuhi, atau ketika otoritas ingin menyebarkan pengajuan sepanjang tahun program. Penangguhan juga bisa menjadi instrumen pengaturan kebijakan migrasi demi keberlanjutan program WHM.

Pengacara imigrasi Chris Johnston menilai langkah ini cukup tidak biasa. Menurutnya, Australia memang pernah menghentikan sementara penerimaan dari negara tertentu saat kuota habis, tetapi kali ini cakupannya jauh lebih luas karena hampir seluruh negara berkuota dalam skema visa terdampak.

"Ini berbeda dengan satu negara yang kehabisan kuota atau penghentian sementara satu kali," kata Johnston kepada ABC.

Johnston juga menyoroti cara pengumuman dilakukan. Tidak ada pernyataan resmi yang menjelaskan perubahan tersebut secara luas; informasi mengenai penghentian permohonan hanya muncul di situs Departemen Dalam Negeri Australia.

Konteks Migrasi Bersih

Mantan Wakil Sekretaris Departemen Imigrasi Abul Rizvi menduga kebijakan ini berkaitan dengan upaya mengendalikan net overseas migration (NOM), yakni selisih antara jumlah migran masuk dan keluar dalam periode tertentu. Pemerintah Partai Buruh menargetkan angka migrasi bersih turun menjadi 225.000 orang per tahun.

Rizvi menilai memperlambat pemrosesan visa bukan pendekatan yang efektif untuk mencapai target tersebut.

"Pemrosesan yang lambat biasanya hanya menciptakan lebih banyak masalah daripada menyelesaikannya," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perlambatan proses visa hanya menjadi solusi jangka pendek untuk persoalan migrasi yang bersifat jangka panjang. Rizvi turut menyoroti kebijakan yang memungkinkan pemegang work and holiday visa memperpanjang masa tinggal hingga tiga tahun, dan menilai penghapusan ketentuan semacam itu perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari restrukturisasi program secara menyeluruh.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Australia Tangguhkan Work and Holiday Visa?

Australia Tangguhkan Work and Holiday Visa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Australia Tangguhkan Work and Holiday Visa matter?

Australia Tangguhkan Work and Holiday Visa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.