LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bertahan dengan Ikan, Burung, dan Air Hujan, WNI Selamat Usai 26 Hari Terombang-ambing di Samudera Pasifik

Published Agustus 21, 2026 · Updated Agustus 21, 2026 · By Nancy Anderson - lenterafakta.com

Esau Sidemo Kembali ke Tanah Air Setelah 26 Hari Bertahan di Samudera Pasifik

Lenterafakta.com – Esau Sidemo, pria berusia 57 tahun dari Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, akhirnya menginjakkan kaki kembali di Indonesia pada 14 Agustus 2026. Ia terbang dari Bandara Internasional Shanghai Pudong menuju Jakarta setelah hampir sebulan penuh terombang-ambing di tengah lautan lepas.

Momen Penemuan oleh Kapal LNG Endeavour

Perjalanan panjang Esau berakhir pada 1 Agustus 2026 ketika awak kapal pengangkut gas alam cair berbendera Perancis, LNG Endeavour, yang sedang melaju dari Australia ke China, melihat perahunya di perairan Samudera Pasifik. Saat kapal besar itu mendekat, Esau memilih melompat ke laut sebelum pelampung dilemparkan. Ia kemudian meraih pelampung tersebut dan ditarik ke atas dek dalam keadaan sangat lemah. Awak kapal langsung memberikan pertolongan darurat.

Pada saat ditemukan, Esau telah hanyut sejauh sekitar 800 mil laut dari pulau tempat tinggalnya.

Berawal dari Aktivitas Memancing Harian

Segalanya bermula pada 6 Juli 2026, ketika Esau berangkat memancing menggunakan perahu milik saudaranya. Aktivitas itu sudah menjadi rutinitas baginya; biasanya ia hanya melaut sejauh dua hingga tiga mil laut untuk menangkap ikan bagi kebutuhan keluarga. Namun kali itu, ia tidak membawa ponsel dan hanya membawa sekitar satu liter air mineral tanpa bekal makanan apa pun.

Perahu yang digunakannya kemudian rusak, sehingga Esau terbawa arus semakin jauh dari daratan. Keluarga segera melaporkan kepergiannya ke kepolisian dan pemerintah setempat. Operasi pencarian pun dilancarkan, tetapi tidak membuahkan hasil hingga akhir Juli 2026. Keluarga sempat kehilangan harapan dan mengira Esau telah meninggal dunia.

Bertahan Hidup di Tengah Laut

Selama 26 hari terombang-ambing, Esau bertahan dengan cara menangkap ikan dan burung untuk dimakan serta menampung air hujan sebagai sumber minum. Setelah berhasil dievakuasi ke atas kapal, ia segera menghubungi keluarganya di Ternate melalui sambungan telepon.

Koordinasi Pemulangan oleh KJRI Shanghai

Basarnas meminta pihak LNG Endeavour berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di Shanghai mengingat kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju China. KJRI Shanghai kemudian berkoordinasi dengan Imigrasi China serta kapten kapal untuk memastikan seluruh proses administrasi, penanganan, hingga pemulangan berjalan lancar.

"Kami mendapat laporan baik dari Indonesia maupun dari kapal yang menemukan Pak Esau, kemudian berkoordinasi dengan pihak Imigrasi China untuk proses administrasi dan kepulangannya ke Tanah Air," ujar Konsul Muda Protokol dan Konsuler KJRI Shanghai, Batara Yonathan, saat dihubungi ANTARA di Beijing, Kamis (20/8/2026).

Batara menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan panggilan video dengan Esau yang masih berada di atas kapal.

"Awalnya kapal dijadwalkan merapat pada 7 atau 8 Agustus tapi karena cuaca buruk, baru bisa bersandar di Shanghai pada 12 Agustus," ungkap Batara.

Kedatangan di Shanghai dan Kepulangan ke Jakarta

Esau tiba bersama LNG Endeavour di Yangshan Port, Provinsi Zhejiang, pada 12 Agustus 2026. Keesokan harinya, ia menjalani pemeriksaan kesehatan di Shanghai dan dinyatakan dalam kondisi baik serta layak melakukan perjalanan udara. Pada 14 Agustus 2026, KJRI Shanghai melepas kepulangannya dari Shanghai menuju Jakarta, mengakhiri perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah perahu memancing kecil di perairan Maluku Utara.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Bertahan dengan Ikan Burung dan Air Hujan?

Bertahan dengan Ikan Burung dan Air Hujan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bertahan dengan Ikan Burung dan Air Hujan matter?

Bertahan dengan Ikan Burung dan Air Hujan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.