Nyata, China Mulai Kerahkan Robot Jadi Polisi Lalu Lintas, Apa Saja Kemampuannya?
Lenterafakta.com – Pemandangan tak biasa mulai terlihat di persimpangan jalan di Hangzhou, China. Sebuah robot setinggi 1,88 meter berdiri di tengah lalu lintas dan menjalankan sejumlah tugas yang biasanya dilakukan polisi lalu lintas. Robot tersebut dapat mendeteksi pengendara sepeda listrik yang tidak mengenakan helm, memperingatkan pelanggar, hingga menggerakkan kedua lengannya mengikuti gerakan petugas ketika mengatur lalu lintas.
Namun, robot ini belum seperti "RoboCop" dalam film Hollywood. Ia tidak membawa senjata dan tidak memiliki kewenangan untuk menangkap pelanggar. Robot bernama T2 tersebut dikembangkan perusahaan teknologi China, SUPCON Information.
Bobotnya mencapai 98 kilogram. T2 merupakan bagian dari proyek uji coba untuk menyerahkan sebagian tugas rutin pengaturan lalu lintas kepada mesin. Kepala Pusat Inovasi Sistem Tak Berawak Cerdas SUPCON, Cao Hui, menyebut robot T2 menggunakan kamera, radar, dan sistem komputasi yang terpasang di dalamnya untuk mengenali sejumlah pelanggaran.
Pelanggaran yang dapat dideteksi antara lain pengendara sepeda listrik tanpa helm, sepeda listrik yang membawa penumpang, kendaraan yang berhenti melewati garis marka, serta pejalan kaki yang menyeberang ketika lampu lalu lintas tidak mengizinkan. Penggunaan robot polisi lalu lintas ini merupakan bagian dari upaya industri teknologi China membawa robot ke pekerjaan praktis, bukan hanya menjadi pajangan dalam pameran teknologi. Selain mengawasi lalu lintas, robot tersebut dapat menjawab pertanyaan warga mengenai arah jalan, lokasi parkir, serta aturan lalu lintas.
Dalam keadaan darurat, pengguna juga dapat mengakses fungsi yang menghubungkan mereka dengan polisi setempat. Lengan robot yang memiliki tujuh sendi dapat menirukan gerakan standar polisi lalu lintas dan menyelaraskannya dengan lampu lalu lintas. SUPCON telah menempatkan 15 robot di Hangzhou sejak Mei 2026.
Perusahaan mengklaim robot-robot tersebut telah memberikan lebih dari 170.000 peringatan kepada pengguna jalan. Sebagaimna dilansir Reuters, Kamis (20/8/2026), menurut SUPCON, penggunaan robot juga membantu menurunkan jumlah pelanggaran pengendara tanpa helm dan kendaraan yang melewati garis berhenti lebih dari 40 persen dalam sebulan. Namun, angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Kepolisian lalu lintas Hangzhou juga tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Cao mengatakan, SUPCON telah menguji robot tersebut selama ribuan jam di berbagai lokasi, mulai dari kawasan wisata, zona sekolah, kawasan bisnis hingga jalanan yang padat pada jam sibuk. Robot juga diuji dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Meski demikian, kamera dan radar yang digunakan robot tetap memiliki keterbatasan. Cahaya matahari yang terlalu kuat, hujan, serta suhu ekstrem dapat memengaruhi kinerjanya. SUPCON mengeklaim tingkat akurasi robot dalam mengenali pelanggaran mencapai lebih dari 95 persen.
Menurut Cao, tujuan utama penggunaan robot bukan semata-mata memberikan hukuman setelah pelanggaran terjadi, tetapi memberikan peringatan sedini mungkin agar perilaku tersebut tidak menjadi kebiasaan. "Robot tidak merasa lelah," kata Cao. Robot tersebut dapat beroperasi secara mandiri mulai pukul 07.00 hingga 18.00 waktu setempat.
Robot berpindah di antara sejumlah titik yang telah ditentukan di persimpangan tanpa harus dikendalikan dari jarak jauh. Petugas polisi lalu lintas tetap dapat memantau dan mengerahkan robot melalui sebuah platform pusat. SUPCON mengatakan, hampir 50 robot serupa kini telah beroperasi di sekitar delapan kota yang tersebar di tiga provinsi di China.
Jumlah tersebut diperkirakan mendekati 200 unit pada akhir 2026. Penggunaan robot untuk tugas kepolisian lalu lintas juga mulai dilirik untuk pasar internasional. Perusahaan robotika AiMOGA yang didukung produsen otomotif Chery melihat peluang penggunaan robot tersebut di negara-negara yang petugas lalu lintasnya harus bekerja dalam kondisi berat.
Contohnya, suhu tinggi di kawasan Timur Tengah atau musim hujan berkepanjangan di Asia Tenggara. Namun, mengekspor robot polisi ternyata tidak sesederhana mengekspor mobil. Eksekutif AiMOGA Zhang Guibing menyampaikan, robot kepolisian harus dapat terintegrasi dengan sistem teknologi informasi penegak hukum di negara tujuan.
Robot juga harus memenuhi persyaratan sertifikasi serta aturan perlindungan data setempat. Persoalan data menjadi perhatian khusus karena robot dilengkapi kamera dan berbagai sensor yang dapat mengumpulkan informasi di ruang publik. Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7.
Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Nyata China Mulai Kerahkan Robot Jadi?Nyata China Mulai Kerahkan Robot Jadi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Nyata China Mulai Kerahkan Robot Jadi matter?Nyata China Mulai Kerahkan Robot Jadi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.