Petani dan Peternak Jepang Kini Bekerja di Malam Hari, Apa yang Terjadi?
Malam Hari Jadi Jam Kerja Baru bagi Petani dan Peternak Jepang
Lenterafakta.com – Setiap tahun, panas ekstrem merenggut nyawa pekerja di sektor pertanian Jepang. Pada 2024, tercatat 59 orang meninggal akibat suhu yang melampaui batas aman di ladang dan kandang ternak. Angka itu melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding jumlah kematian pada 2021. Dampak ekonominya pun masif: riset Lancet Countdown memperkirakan bahwa paparan panas ekstrem sepanjang 2024 saja telah menggerus 926 juta jam kerja di sektor pertanian Jepang. Di seluruh industri, total jam yang hilang karena panas nyaris menggandakan rata-rata yang tercatat pada dekade 1990-an. Kerugian pendapatan setara sekitar 46 miliar dollar AS — kira-kira Rp 718 triliun — atau sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto Jepang.
Krisis ini tidak lagi sekadar statistik. Ia mengubah secara fundamental cara petani dan peternak di Jepang menjalani hari mereka. Gelombang panas yang kian intens membuat musim panas berubah menjadi ancaman kelangsungan hidup, dan jam kerja tengah hari yang dulu sibuk kini dihindari karena dianggap mematikan. Aktivitas pertanian digeser ke malam hari atau dini hari untuk menjaga tanaman, hewan ternak, dan keselamatan pekerja itu sendiri.
Rumah Kaca yang Menyala di Kegelapan
Di sebuah rumah kaca berlampu di sebelah utara Tokyo, Motoaki Iijima — petani bunga berusia 36 tahun — memanen bunga gerbera berwarna merah muda dan oranye ketika langit sudah gelap total. Ia memilih bekerja di luar ruangan sepanjang malam dan baru berhenti ketika sinar Matahari pagi mulai terasa membakar kulit.
Iijima mengubah lahan padi milik keluarganya di kota Nikko menjadi perkebunan bunga sekitar sepuluh tahun lalu. Keputusan ekstrem itu lahir setelah seorang pekerja paruh waktu mengalami heatstroke saat memetik bunga matahari di dalam rumah kaca pada tiga musim panas lalu. Suhu udara luar yang melampaui 35 derajat Celsius — kondisi yang kini makin sering terjadi di wilayahnya — mampu mendorong suhu di dalam rumah kaca melonjak melewati 40 derajat Celsius.
"Jam-jam di sekitar senja sangat berharga. Saat itulah kami bisa berada di luar," kata Iijima sambil menyapu keringat di dahi di bawah deretan lampu halogen. "Kami secara bertahap menjadi nokturnal. Ini adalah tentang melindungi tubuh kami dan, pada akhirnya, nyawa kami."
Generasi Lansia di Garis Depan
Jepang menjadi negara yang sangat rentan terhadap krisis panas ini. Sekitar 70 persen petani di Jepang berusia 65 tahun ke atas, kelompok yang sangat rentan terhadap tekanan panas (heat stress), terutama ketika diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi.
Survei Japan Weather Association pada 2025 terhadap petani berusia 20 hingga 50-an tahun menunjukkan bahwa sekitar 60 persen responden pernah mengalami heatstroke secara pribadi atau mengenali seseorang yang mengalaminya. Hampir 60 persen petani juga telah menggeser jam kerja mereka menjadi lebih awal atau lebih lambat untuk menghindari sengatan panas.
Berlari Melawan Suhu
Di perkebunan Iijima, para pekerja kini memulai aktivitas hingga dua jam lebih awal dari jadwal lama. Miyoko Asada, salah seorang pekerja senior berusia 68 tahun, tiba di ladang sesaat setelah Matahari terbit.
"Kami harus berpacu dengan waktu," ujar Asada sembari bergegas memotong bunga aster ungu bersama delapan pekerja lainnya sebelum suhu udara melonjak melewati batas aman.
Kandang Ayam dan Rutinitas Tengah Malam
Di wilayah terdekat, peternak unggas Tetsuya Usuba menghadapi krisis serupa. Enam musim panas lalu, ia kehilangan lebih dari 500 ekor ayam petelur akibat heatstroke selama gelombang panas yang berlangsung tiga hari. Kini, Usuba menerapkan rutinitas tengah malam secara ketat: lampu di dua kandangnya menyala otomatis pada pukul 02.30 pagi untuk membangunkan 4.400 ekor ayam sangkar agar dapat makan sebelum suhu panas menekan nafsu makan ternak.
Usuba juga memasang kipas angin tambahan, menyemprotkan air ke atap logam kandang, dan menambahkan asam sitrat ke dalam air minum ayam. Langkah-langkah adaptasi semacam ini kini menjadi standar di banyak peternakan dan perkebunan Jepang.
Fenomena Global
Pergeseran jam kerja ke malam hari atau pagi-pagi sekali demi menghindari sengatan panas bukan hanya terjadi di Jepang. Petani padi di Vietnam hingga pekerja perkebunan anggur di Spanyol mengalami tekanan serupa. Namun, kombinasi populasi petani yang menua, kelembapan tinggi, dan intensitas gelombang panas yang meningkat membuat Jepang berada di posisi paling rentan dalam krisis iklim pertanian ini.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Petani dan Peternak Jepang Kini Bekerja?Petani dan Peternak Jepang Kini Bekerja is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Petani dan Peternak Jepang Kini Bekerja matter?Petani dan Peternak Jepang Kini Bekerja matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.