LenteraFakta
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Toko Senjata di Thailand Kini Jual Roti, Pemilik: Lebih Capek, tapi Mau Bagaimana Lagi

Published Agustus 18, 2026 · Updated Agustus 18, 2026 · By Susan Jones - lenterafakta.com

Etalase Senjata di Bangkok Kini Penuh Aroma Roti Sourdough

Lenterafakta.com – Sejak awal Agustus 2026, kebijakan pemerintah Thailand terhadap perdagangan senjata api berubah drastis. Pemicunya: seorang remaja berusia 14 tahun menembak mati minimal sembilan orang di rumah dan sekolahnya di pinggiran Bangkok, lalu mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa itu mendorong Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengajukan rancangan undang-undang baru yang membekukan penerbitan izin pembelian dan kepemilikan senjata api. Kepolisian juga diperintahkan menghentikan perpanjangan izin serupa.

Dampak kebijakan tersebut langsung terasa di kawasan kota tua Bangkok. Di salah satu sudutnya, sebuah toko bernama Suchart and Friends Gun — yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penjual pistol dan senapan — kini memajang sesuatu yang sama sekali berbeda di balik kaca etalasenya: roti sourdough.

Pemilik Toko Memilih Roti Daripada Merumahkan Karyawan

Warintorn Boonyachai, pemilik toko, menjelaskan bahwa pengetatan aturan impor senjata memaksanya mencari jalan keluar agar bisnis tetap berjalan dan gaji pegawai tetap terbayar. Sekitar lima bulan lalu, ia mulai mengalihkan operasional toko dari penjualan senjata ke produksi roti.

"Saya tidak ingin merumahkan atau meninggalkan seorang pun karyawan saya," kata Warintorn, dikutip dari Reuters, Senin (17/8/2026).

Warintorn sejatinya juga mengelola sekolah memasak dan pembuatan roti. Ia memanfaatkan keahlian itu untuk melatih para pegawainya secara bertahap hingga mampu menguasai teknik sourdough.

"Saya bilang kepada mereka bahwa kita akan bekerja sama untuk mengubah pekerjaan kita. Jadi saya biarkan mereka belajar, dan hari ini, staf saya sudah sangat mahir membuat roti sourdough," ujarnya.

Harapan yang Belum Padam

Warintorn mengambil alih bisnis senjata tersebut untuk menggantikan suaminya yang baru-baru ini didiagnosis menderita kanker. Meskipun tidak lagi dapat mengimpor senjata api untuk dijual, ia tetap memperbarui lisensi senjata apinya setiap tahun.

"Saya masih menyimpan harapan. Jujur saja, jualan senjata jauh tidak secapek jualan roti," ujarnya.

Akan tetapi, peluang untuk kembali ke bisnis semula tampak semakin tipis seiring pengetatan regulasi yang terus berlanjut.

Dampak pada Industri Senjata Thailand

Ketua Asosiasi Pedagang Senjata Api Thailand, Thititorn Bupparamanee, menilai pembekuan izin bukan jawaban atas akar persoalan kejahatan bersenjata di negara itu.

"Pemerintah tidak membenahi masalah di titik yang tepat. Kalau benar, tentu angka kriminalitas sudah turun," kata Thititorn.

Ia menambahkan bahwa menutup akses legal masyarakat untuk membeli senjata justru berisiko mendorong sebagian orang beralih ke pasar gelap. Berdasarkan estimasi Small Arms Survey pada 2017, warga sipil Thailand diperkirakan memegang sekitar 10,3 juta senjata api — setara sekitar 15 senjata per 100 penduduk. Rasio itu menempati peringkat kedua tertinggi di Asia setelah Pakistan. Dari total tersebut, sekitar 6 juta senjata terdaftar secara resmi, sementara sekitar 4 juta lainnya tidak terdaftar atau ilegal.

Thititorn memperkirakan industri senjata api Thailand bernilai ekonomi sekitar 2 miliar baht, atau sekitar Rp 950 miliar.

Toko Lain yang Menyusut

Kondisi serupa dialami toko senjata lain di Bangkok yang telah beroperasi hampir tujuh dekade. Kini di etalase toko itu hanya tersisa dua pucuk senjata dan enam orang pegawai. Kedua senjata tersebut tidak dapat dijual, dan stok baru tidak bisa didatangkan akibat pembatasan impor. Para pegawai meminta identitas mereka dirahasiakan karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media.

Suara Publik: Antara Dukungan dan Kewaspadaan

Di tengah pengetatan aturan, sebagian masyarakat tetap mendukung hak kepemilikan senjata. Ibu seorang siswa berusia 14 tahun yang selamat dari penembakan di sebuah sekolah pada 7 Agustus 2026 menyatakan dirinya masih mendukung kepemilikan senjata, namun meminta pengawasan jauh lebih ketat, khususnya terkait aturan membawa senjata di luar rumah.

"Pengawasan senjata harus benar-benar diperketat di mana-mana. Lagipula, pisau pun sama menakutkannya," ujarnya.

Perhatian publik terhadap isu senjata di Thailand sebenarnya sudah menguat sejak penembakan di pusat perbelanjaan Siam Paragon pada 2023, ketika seorang remaja melakukan aksi penembakan di lokasi tersebut. Insiden itu menjadi titik balik yang memicu gelombang tuntutan pengetatan regulasi, yang kini berujung pada pembekuan izin dan penghentian impor senjata api.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Toko Senjata di Thailand Kini Jual?

Toko Senjata di Thailand Kini Jual is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Toko Senjata di Thailand Kini Jual matter?

Toko Senjata di Thailand Kini Jual matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.