Latest Program: Listrik Nasional Masih Sering Mati, Pakar ITS Sarankan Penerapan PLTS Atap Rumah Tangga
Listrik Nasional Masih Mati, Pakar ITS Sarankan PLTS Atap Rumah Tangga Latest Program menyoroti krisis listrik yang masih sering terjadi di berbagai daerah
Listrik Nasional Masih Mati, Pakar ITS Sarankan PLTS Atap Rumah Tangga
Latest Program menyoroti krisis listrik yang masih sering terjadi di berbagai daerah Indonesia. Meski pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan stabilitas pasokan energi, gangguan listrik bergilir masih menjadi masalah nyata. Misalnya, pada 22 Mei 2026, pulau Sumatera mengalami pemutusan listrik selama 6-10 jam, menimbulkan dampak signifikan pada kegiatan ekonomi masyarakat dan perekonomian nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan listrik yang meningkat akibat pertumbuhan industri dan kehidupan digital masih belum diimbangi dengan ketersediaan energi yang cukup.
Strategi Peningkatan Ketahanan Energi Nasional
Dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Ir Arman Hakim Nasution MEng, menegaskan bahwa sistem kelistrikan Indonesia perlu diperbaiki untuk menghadapi ancaman krisis. Menurutnya, ketersandaran pada bahan bakar fosil, terutama batu bara, memperparah ketidakseimbangan pasokan. “Sistem listrik nasional kini sangat bergantung pada energi primer yang tidak terduga, seperti permintaan yang melonjak atau produksi yang turun,” jelas Arman. Ia menekankan bahwa kebijakan yang konsisten dan efektif menjadi kunci untuk mencegah kegagalan serupa di masa depan.
“Kebijakan kelistrikan yang tidak sistemik akan menyebabkan ketidakstabilan yang berkelanjutan,” tambah Arman.
Arman menyoroti bahwa implementasi kebijakan domestic market obligation (DMO) dan sinkronisasi antarlembaga belum optimal. Ini menyebabkan ketergantungan pada pasokan batu bara yang cenderung rentan terhadap fluktuasi harga global. Selain itu, kebutuhan listrik yang diprediksi turun setelah pandemi ternyata meningkat karena percepatan aktivitas ekonomi dan penggunaan teknologi. Dengan demikian, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret dalam Latest Program untuk memastikan ketersediaan energi yang lebih berkelanjutan.
Penerapan PLTS Atap sebagai Solusi Inovatif
Pakar ITS mengusulkan penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap rumah tangga sebagai bagian dari Latest Program. PLTS atap, yang bisa dipasang di atap bangunan, dianggap sebagai solusi desentralisasi yang dapat meningkatkan ketersediaan energi serta mengurangi beban pada jaringan listrik pusat. Menurut Arman, biaya produksi PLTS atap berkisar sekitar Rp 1.100 per kWh, lebih rendah dibandingkan tarif konvensional yang mencapai Rp 1.400 per kWh. “PLTS atap tidak hanya murah, tetapi juga ramah lingkungan dan bisa memberi kontribusi besar dalam kemandirian energi,” ujarnya.
“PLTS atap memungkinkan masyarakat menjadi prosumer, yaitu produsen dan konsumen listrik sekaligus,” kata Arman.
Penerapan PLTS atap juga memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan ekonomi. Dengan mengurangi ketergantungan pada subsidi energi, pemerintah dapat membebaskan anggaran untuk sektor lain. Arman menekankan bahwa Latest Program harus melibatkan perencanaan jangka panjang dan dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, pengusaha, dan lembaga kebijakan. “Kebijakan harus menyesuaikan dengan dinamika ekonomi dan lingkungan,” pungkasnya.
Krisis listrik bergilir yang sering terjadi menunjukkan urgensi perubahan struktur energi nasional. PLTS atap bisa menjadi bagian penting dari Latest Program, terutama jika diimbangi dengan pengembangan infrastruktur pendukung, seperti kebijakan yang memudahkan akses dan penggunaan teknologi ini. Arman juga menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi untuk memastikan program tersebut berjalan efektif dan berkelanjutan. “Kolaborasi ini akan menjadi penentu keberhasilan transisi ke energi bersih,” jelasnya.
