Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Edu

Telur Ceplok dan Telur Dadar – Mana yang Lebih Sehat? Ini Kata Dosen IPB

Michael Miller - lenterafakta.com 3 mins read

h Sehat? Panduan dari Dosen IPB Telur Ceplok dan Telur Dadar—dua metode memasak telur yang sering dibandingkan dalam konteks kesehatan dan gizi—masih menjadi

Telur Ceplok dan Telur Dadar – Mana yang Lebih Sehat? Ini Kata Dosen IPB

Telur Ceplok dan Telur Dadar: Mana yang Lebih Sehat? Panduan dari Dosen IPB

Telur Ceplok dan Telur Dadar—dua metode memasak telur yang sering dibandingkan dalam konteks kesehatan dan gizi—masih menjadi topik diskusi utama di kalangan masyarakat. Karina Rahmadia Ekawidyani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, menjelaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan kecil dalam kandungan nutrisi, terutama jika dilihat dari jumlah lemak dan kalori. Dalam artikel ini, kita akan membandingkan secara lebih mendalam manfaat dan kekurangan kedua metode memasak ini, serta bagaimana pilihan Anda bisa disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kondisi kesehatan.

Perbandingan Nutrisi Telur Ceplok dan Dadar

Dalam proses memasak, Karina menekankan bahwa kandungan gizi telur ceplok dan telur dadar relatif serupa. Namun, perbedaan utama muncul dari jumlah minyak yang digunakan. Telur dadar, yang dipanaskan dengan menggoreng, cenderung menyerap lebih banyak lemak dan kalori dibandingkan telur ceplok yang biasanya dibuat dengan cara menyetel atau dihias dengan minyak dalam jumlah sedikit. Hal ini membuat telur dadar memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih tinggi, yang bisa menjadi pertimbangan bagi individu yang sedang menjaga asupan lemak, seperti penderita kolesterol tinggi atau penyakit metabolik.

“Perbedaan utama terletak pada jumlah minyak yang digunakan, sehingga memengaruhi kandungan lemak dalam telur,” jelas Karina. “Meski demikian, nilai nutrisi seperti protein, vitamin, dan mineral tetap hampir sama, karena telur memang sumber gizi lengkap.”

Dalam hal nutrisi, telur memainkan peran penting sebagai sumber protein hewani yang mudah dicerna. Karina mengungkapkan bahwa pemanasan secara alami memperbaiki struktur protein, sehingga tubuh bisa menyerapnya lebih efisien. Dalam studi terkini, proses memasak telur bisa meningkatkan daya cerna protein hingga 91 persen, dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen. Ini menunjukkan bahwa keduanya tetap memberikan manfaat, meski terdapat perbedaan dalam aspek kesehatan dan kenyamanan konsumsi.

Manfaat dan Risiko Masing-Masing Metode

Meski keduanya sehat, Karina menyarankan untuk memperhatikan suhu dan durasi pemanasan. Telur yang dimasak di atas suhu 60–80 derajat Celsius, seperti telur ceplok atau dadar, akan menjaga kualitas nutrisi dan mengurangi risiko kerusakan pada asam amino. Namun, jika dipanaskan terlalu lama atau dengan suhu tinggi seperti 150–160 derajat, maka sebagian protein dan nutrisi bisa terurai, sehingga mengurangi manfaatnya. Faktor ini sangat penting untuk diingat, terutama bagi penderita diabetes atau penyakit lambung.

Selain itu, pilihan metode memasak juga tergantung pada preferensi pribadi dan kondisi kesehatan. Untuk penggemar telur ceplok, metode ini bisa memberikan rasa yang lebih lembut dan tekstur yang khas. Sementara telur dadar, yang mengandung minyak, lebih cocok bagi orang yang ingin menambah rasa lezat tanpa terlalu banyak asupan lemak. Karina juga menyarankan agar menggunakan wajan anti lengket atau minyak semprot untuk mengurangi penggunaan minyak.

Berikutnya, mempertimbangkan nilai energi dan kandungan gula. Telur dadar yang dikombinasikan dengan bahan tambahan seperti keju, sosis, atau bahan berkarbohidrat bisa meningkatkan kalori total. Jika Anda sedang berdiet atau ingin mengurangi konsumsi gula, maka telur ceplok yang lebih sederhana bisa menjadi opsi yang lebih sehat. Namun, jangan lupa bahwa keju atau bahan lain yang ditambahkan juga memberikan manfaat nutrisi, seperti kalsium dan protein.

Karina menambahkan bahwa telur ceplok dan dadar bisa dipilih berdasarkan kebutuhan spesifik. Misalnya, bagi mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan, menghindari penggunaan minyak secara berlebihan adalah kunci. Sebaliknya, bagi individu yang membutuhkan energi tambahan, telur dadar bisa memberikan nutrisi yang lebih lengkap. “Keduanya tetap memiliki nilai gizi yang baik, asalkan dikonsumsi dengan cara yang tepat,” katanya.

Sebagai penutup, pilihan antara telur ceplok dan telur dadar bisa disesuaikan dengan kebiasaan makan dan tujuan kesehatan. Keduanya tetap menjadi sumber protein berkualitas tinggi, dan perbedaannya terletak pada bagaimana Anda memasaknya. Dengan mengetahui proses dan bahan tambahan yang digunakan, Anda bisa memaksimalkan manfaat telur untuk tubuh. Konsultasi dengan ahli gizi, seperti Karina, bisa membantu Anda menentukan metode yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi pribadi.

Join the discussion