Tokoh Lintas Agama Desak Perlindungan Anak dalam Evaluasi Program MBG
Lenterafakta.com – Nasib ribuan pelajar yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian serius sejumlah tokoh lintas agama. Dalam doa bersama yang digelar di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (11/9/2026) sore, mereka menyerukan agar keselamatan anak ditempatkan di atas kepentingan proyek maupun ambisi politik.
Aksi tersebut tidak hanya menyoroti dampak kesehatan yang dialami para siswa, tetapi juga menekankan kewajiban moral negara untuk memastikan makanan yang diberikan kepada anak aman, layak, dan dikelola secara bertanggung jawab. Bagi para tokoh agama yang hadir, kejadian keracunan tidak pantas diperlakukan sebagai deretan angka semata karena setiap korban adalah anak yang memiliki hak atas perlindungan dan kehidupan yang sehat.
Anak Tidak Boleh Menanggung Kesalahan Orang Dewasa
Pendeta Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Mezisita Herlina, menyampaikan bahwa anak-anak memiliki martabat yang harus dijaga. Ia menilai program apa pun yang menyasar peserta didik wajib dijalankan dengan kehati-hatian penuh, terutama ketika berkaitan langsung dengan konsumsi makanan.
“Anak adalah anugerah Tuhan. Mereka diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. Gereja berjuang mengupayakan yang terbaik bagi anak, dan demikian harapan kita juga bagi pemerintah. Stop menjadikan anak sebagai tumbal untuk mega proyek, stop menyalahkan anak atas kesalahan orang dewasa,”
Pesan itu menjadi penegasan bahwa pelaksanaan kebijakan publik tidak boleh memindahkan risiko kepada kelompok yang justru paling membutuhkan perlindungan. Anak-anak, khususnya siswa penerima makanan, berada dalam posisi yang bergantung pada mutu bahan pangan, kebersihan pengolahan, distribusi, serta pengawasan yang dilakukan pihak dewasa dan penyelenggara program.
Mezisita meminta pemerintah melihat persoalan keracunan MBG dengan hati nurani. Ia menekankan perlunya pembenahan yang menyeluruh agar kebutuhan paling mendasar dalam program ini dapat dipenuhi dan kejadian serupa tidak terus berulang di daerah lain.
“Program ini harus diperhatikan dengan lebih seksama, apa yang menjadi kebutuhan prioritas, tata kelolanya dibenahi dengan sebaik-baiknya dan sebagaimana mestinya agar tidak kembali memakan korban,”
Makanan Semestinya Menopang Kehidupan
Seruan serupa disampaikan Pastor Katolik dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Frans Kristi Adi. Ia mengingatkan bahwa makanan pada dasarnya berfungsi menjaga kehidupan, bukan menimbulkan penderitaan. Karena itu, kasus keracunan harus direspons dengan tanggung jawab yang jelas, terlebih bila korban mengalami dampak berkepanjangan.
“Makanan itu pada hakikatnya adalah penopang kehidupan dan tanda bahwa kita semua dipelihara, dirawat oleh Allah. Ketika makanan justru menimbulkan penyakit dan derita, martabat penerima, khususnya anak-anak dan mereka yang rentan itu sedang terabaikan. Maka harus ada tanggung jawab moral,”
Pernyataan tersebut menempatkan keamanan pangan sebagai unsur mendasar dari keberhasilan program makan bagi siswa. Penyediaan menu bergizi tidak cukup dinilai dari tujuan baiknya. Kualitas bahan, cara memasak, penyimpanan, pengiriman, hingga waktu makanan diterima anak perlu mendapat perhatian agar tujuan pemenuhan gizi tidak berubah menjadi sumber bahaya.
Para tokoh lintas agama juga mengingatkan bahwa kritik publik atas MBG tidak seharusnya langsung dipandang sebagai upaya politik untuk menghambat kebijakan pemerintah. Mereka menilai suara masyarakat muncul dari kepedulian atas banyaknya anak yang terdampak di berbagai wilayah Indonesia.
Kritik Diminta Dipahami sebagai Kepedulian
Perwakilan Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI), Pande K. Trimayuni, menegaskan bahwa desakan evaluasi didasarkan pada data, bukti, dan simpati kepada korban. Ia menyatakan kritik tersebut bukan gerakan untuk melawan pemerintah atau menggagalkan program yang sedang dijalankan.
“Semua kritikan dari masyarakat ini adalah sesuatu yang memang berbasis data, berbasis bukti, kepedulian kami terhadap anak-anak. Bukan sesuatu yang kemudian dimaksudkan untuk melawan atau menjegal program pemerintah,”
Dalam pandangannya, pemerintah perlu menunjukkan keterbukaan untuk mengakui kekurangan dan melakukan penilaian ulang secara total terhadap pelaksanaan MBG. Evaluasi yang sungguh-sungguh dipandang penting untuk menjawab kekhawatiran keluarga, sekolah, dan masyarakat luas atas keamanan makanan yang diterima siswa.
“Tolonglah Presiden Prabowo, pemerintah mengevaluasi MBG ini. Dan kalau harus dihentikan, tolong hentikan,”
Permintaan tersebut menegaskan bahwa keselamatan anak harus menjadi ukuran utama dalam menentukan kelanjutan program. Bila ada kelemahan dalam tata kelola, pengawasan, atau pelaksanaan di lapangan, langkah perbaikan perlu diarahkan pada pencegahan korban baru, bukan sekadar penanganan setelah insiden terjadi.
Doa bersama di depan Kantor BGN itu memperlihatkan bahwa persoalan MBG telah melampaui perdebatan administratif. Bagi tokoh-tokoh agama yang hadir, isu ini menyangkut penghormatan terhadap martabat anak, tanggung jawab penyelenggara negara, serta kepercayaan masyarakat terhadap program yang dirancang untuk mendukung kebutuhan gizi pelajar.
Pesan utama mereka sederhana: anak-anak tidak boleh menanggung akibat dari kelemahan pengelolaan orang dewasa. Setiap kebijakan yang menyentuh kehidupan siswa harus memiliki perlindungan yang kuat, pengawasan yang ketat, dan kesediaan untuk dievaluasi ketika keselamatan mereka terancam.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Anak adalah Anugerah Tuhan Tokoh Lintas?
Anak adalah Anugerah Tuhan Tokoh Lintas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Anak adalah Anugerah Tuhan Tokoh Lintas matter?
Anak adalah Anugerah Tuhan Tokoh Lintas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

