Mahasiswa BEM SI Desak Pendidikan Gratis Diwujudkan Lewat RUU Sisdiknas
Lenterafakta.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, pada Senin, 5 Oktober 2026. Demonstrasi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menagih komitmen pendidikan gratis dari jenjang Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi yang pernah disampaikan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Selain menyoroti janji pendidikan tanpa biaya, massa juga mendesak percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional atau RUU Sisdiknas. Bagi BEM SI, pembentukan aturan tersebut perlu menjadi langkah nyata agar kebijakan pendidikan benar-benar memberi perlindungan dan kesempatan setara bagi masyarakat.
Massa Berkumpul di Gerbang Barat DPR
Mahasiswa dari berbagai kampus mulai membentuk barisan di area depan gerbang utama sisi barat kompleks DPR RI. Jas almamater dari sejumlah universitas tampak dikenakan peserta aksi, sementara bendera BEM SI dan bendera kampus dikibarkan di antara kerumunan.
Orasi disampaikan secara bergantian oleh perwakilan mahasiswa. Seruan solidaritas juga menggema berulang kali di lokasi aksi.
“Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!”
Aksi pada hari itu tidak berdiri sendiri. Koordinator Wilayah BEM SI Jabodetabek Banten, Adelia Afifatuzzahra, menyebut demonstrasi tersebut melanjutkan rangkaian pengawalan isu pendidikan yang sebelumnya dilakukan di depan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta DPR RI.
Pengawalan itu berpusat pada substansi RUU Sisdiknas dan arah kebijakan pendidikan nasional. Mahasiswa menilai pembahasan rancangan undang-undang tersebut tidak boleh dipisahkan dari janji politik untuk memperluas akses pendidikan tanpa beban biaya bagi rakyat.
Janji Pendidikan Gratis Jadi Sorotan
Adelia menekankan bahwa komitmen pendidikan gratis dari TK sampai perguruan tinggi memiliki arti besar bagi masyarakat. Karena itu, BEM SI meminta agar komitmen tersebut tidak berhenti sebagai pernyataan, melainkan diterjemahkan ke dalam kebijakan dan regulasi yang jelas.
“Karena pada hari ini kita melihat janji Bapak Prabowo Subianto untuk menggratiskan pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi, ini merupakan janji yang begitu besar,” ujar Adelia kepada wartawan di lokasi, Senin.
Tuntutan pendidikan gratis mencakup persoalan akses yang lebih luas di setiap jenjang. Dalam pandangan mahasiswa, keberhasilan kebijakan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari tersedianya sekolah atau kampus, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk menjalani pendidikan tanpa hambatan biaya yang memberatkan.
RUU Sisdiknas dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk menentukan bagaimana prinsip tersebut akan dijalankan. Regulasi pendidikan dapat memengaruhi berbagai aspek, mulai dari hak peserta didik, tanggung jawab negara, posisi tenaga pendidik, hingga ketentuan mengenai wajib belajar.
Kesejahteraan Guru dan Wajib Belajar
BEM SI turut mengkritisi beberapa bagian dalam draf RUU Sisdiknas. Dua isu yang mendapat perhatian adalah pengaturan terkait gaji guru dan batasan wajib belajar yang dinilai belum cukup menyeluruh.
Mahasiswa memandang kesejahteraan guru sebagai unsur mendasar dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru memegang peran langsung dalam proses belajar, sehingga jaminan atas hak dan kesejahteraan mereka dinilai tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan mengenai kualitas pendidikan nasional.
Di sisi lain, BEM SI meminta adanya jaminan yang lebih setara bagi seluruh warga untuk menempuh pendidikan wajib hingga tingkat perguruan tinggi. Tuntutan ini berkaitan langsung dengan komitmen pendidikan gratis yang mereka tagih dalam aksi tersebut.
“Sehingga kita dari mahasiswa ataupun Badan Eksekutif Mahasiswa aliansi BEM SI akan terus mengawal isu ini sampai itu disahkan. Kalau memang Bapak Prabowo Subianto ingin menggratiskan pendidikan, maka per hari ini wujudkanlah dengan mengesahkan RUU Sisdiknas,” ujar Adelia.
Desakan pengesahan RUU Sisdiknas dari BEM SI bukan sekadar permintaan agar proses legislasi segera selesai. Mahasiswa menginginkan isi undang-undang yang lahir nantinya berpihak pada kepentingan rakyat, terutama dalam menjamin akses pendidikan dan memperkuat perlindungan bagi tenaga pendidik.
Mahasiswa Minta Dilibatkan dalam Pembahasan
Selain meminta DPR dan pemerintah mempercepat pengesahan rancangan undang-undang, BEM SI menuntut keterlibatan mahasiswa dalam Rapat Dengar Pendapat Umum atau RDPU serta tahapan pembahasan RUU Sisdiknas lainnya.
Keterlibatan publik dipandang penting karena kebijakan pendidikan menyentuh kehidupan pelajar, mahasiswa, guru, orang tua, dan masyarakat luas. BEM SI menghendaki proses penyusunan aturan dilakukan secara terbuka sehingga setiap keputusan dapat dipahami serta diuji oleh pihak-pihak yang terdampak.
“Kita ingin transparansi dan pembukaan pengesahan itu dilibatkan oleh seluruh mahasiswa, supaya jelas dan berpihak kepada rakyat,” ucapnya.
Permintaan transparansi tersebut menegaskan posisi mahasiswa sebagai kelompok yang ingin ikut mengawal arah pendidikan nasional. Mereka mendorong agar pembahasan RUU Sisdiknas tidak berlangsung secara tertutup dan aspirasi dari kalangan kampus memperoleh ruang dalam proses pengambilan keputusan.
Aksi di depan Gedung DPR/MPR RI ini memperlihatkan bahwa isu pendidikan gratis, kesejahteraan guru, wajib belajar, dan keterbukaan legislasi masih menjadi perhatian utama mahasiswa. BEM SI menyatakan akan terus mengawasi perkembangan RUU Sisdiknas hingga kebijakan yang dihasilkan dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Massa BEM SI Demo di Depan?
Massa BEM SI Demo di Depan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Massa BEM SI Demo di Depan matter?
Massa BEM SI Demo di Depan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

