Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

10 Password Buatan Gen Z, Milenial, dan Boomers yang Mudah Dibobol Hacker

Susan Jones - lenterafakta.com 4 mins read

Kebiasaan membuat kata sandi di era digital ternyata tidak selalu sejalan dengan tingkat literasi teknologi. Meskipun sering diyakini bahwa kaum muda yang

10 Password Buatan Gen Z, Milenial, dan Boomers yang Mudah Dibobol Hacker

10 Password Buatan Gen Z Milenial dan Generasi Lainnya yang Mudah Dibobol Hacker

Lenterafakta.com – Kebiasaan membuat kata sandi di era digital ternyata tidak selalu sejalan dengan tingkat literasi teknologi. Meskipun sering diyakini bahwa kaum muda yang lahir di era digital otomatis lebih paham soal keamanan digital, temuan terkini membuktikan sebaliknya. Studi terbaru mengungkap bahwa kebiasaan membuat kata sandi pada individu berusia 18 tahun ternyata hampir identik dengan mereka yang berusia 80 tahun. Dengan kata lain, celah keamanan dalam pemilihan password masih meluas di berbagai lapisan umur, dari Generasi Silent hingga Generasi Z. Artikel ini membahas 10 Password Buatan Gen Z Milenial yang paling rentan terhadap serangan hacker berdasarkan data terbaru.

Hasil ini terangkum dalam publikasi tahunan berjudul “200 Kata Sandi Paling Umum” yang digarap oleh NordPass berkolaborasi dengan NordStellar. Selama tujuh tahun sejak laporan pertama kali dirilis, pola penggunaan password memang menunjukkan beberapa pergeseran. Namun, satu hal yang konsisten tetap ada: masyarakat cenderung memilih password yang lemah demi kemudahan, bukan keamanan. Temuan ini menjadi perhatian serius bagi para ahli keamanan siber yang memantau tren penggunaan kata sandi di Indonesia maupun global.

Metodologi dan Klasifikasi Generasi dalam Penelitian

Dalam edisi kali ini, para ahli ingin menelaah lebih dalam bagaimana kebiasaan password berbeda-beda di tiap generasi. Temuan menunjukkan bahwa praktik buruk dalam membuat password tetap menjadi tren, tanpa memandang usia pengguna. Laporan ini disusun bersama peneliti independen yang memiliki keahlian khusus di bidang insiden keamanan siber. Analisis dilakukan dengan meninjau data pelanggaran publik serta repositori dark web yang dikumpulkan selama periode September 2024 hingga September 2025.

Data tersebut kemudian diagregasi secara statistik dan dikelompokkan berdasarkan negara asal, sehingga peneliti bisa mengidentifikasi tren serta kerentanan password di 44 negara. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, fokus utama kali ini adalah perbandingan kebiasaan antargenerasi. Untuk mencapai hal tersebut, peneliti meninjau metadata yang menyertai setiap password, termasuk tanggal lahir apabila tersedia. Langkah ini memungkinkan pengelompokkan password secara akurat berdasarkan kelompok usia dan menghasilkan analisis statistik yang lebih relevan.

Generasi diklasifikasikan sebagai berikut: Generasi Z (1997-2007), milenial (1981-1996), Generasi X (1965-1980), dan baby boomer (1946-1964). Klasifikasi ini membantu peneliti memahami pola perilaku digital yang berbeda-beda di setiap kelompok usia. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun Gen Z dan milenial lebih aktif secara online, mereka tidak selalu lebih hati-hati dalam memilih kata sandi.

Password Lemah yang Masih Populer di Kalangan Muda

Yang menarik, data menunjukkan bahwa anak muda dari Gen Z dan milenial akhir masih menyukai penggunaan password 123456. Menurut NordPass, selama tujuh tahun terakhir, password 123456 menjadi kata sandi paling umum sekaligus paling lemah di seluruh dunia. Hal ini membuktikan bahwa kemudahan dalam mengingat lebih diutamakan daripada keamanan akun digital.

“Pengguna lebih menyukai kesederhanaan, mudah diingat, dan mereka rela mengorbankan keamanan pribadi,” tulis NordPass, dikutip pada Rabu (22/7/2026).

Selain 123456, masih banyak password lain yang sering digunakan oleh Gen Z dan milenial. Password seperti password, 12345678, dan qwerty juga masuk dalam daftar 10 password paling umum. Password-password ini mudah ditebak dan sering menjadi target utama serangan brute force oleh hacker. Meskipun teknologi keamanan terus berkembang, kebiasaan buruk dalam memilih kata sandi tetap sulit dihilangkan.

Tips Menjaga Keamanan Password di Era Digital

Agar mobile banking, media sosial, dan berbagai aplikasi lain yang mengandalkan kata sandi tetap aman, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, gunakan kata sandi dan frasa sandi yang kuat. Password yang baik harus mengandung minimal delapan karakter dengan kombinasi huruf besar dan kecil, angka, serta simbol khusus. Anda juga bisa memanfaatkan rangkaian kata yang dikenal sebagai frasa sandi.

Kedua, pastikan semua kata sandi Anda unik. Hindari penggunaan password yang sama berulang kali untuk menjaga keamanan akun. Menggunakan password berbeda untuk setiap akun memastikan bahwa meskipun satu akun diretas, akun lainnya tetap aman. Ketiga, waspadai potensi kerentanan dengan memeriksa kata sandi secara teratur. Identifikasi password yang lemah, lama, atau yang digunakan berulang kali, lalu perbarui ke kombinasi baru yang lebih kuat untuk tetap aman saat online.

Keempat, tambahkan lapisan keamanan ekstra pada akun Anda dengan mengaktifkan otentikasi multi-faktor (MFA). Setiap kali masuk, Anda perlu memverifikasi identitas, sehingga menyulitkan penjahat siber untuk mengakses akun. Dengan menerapkan tips-tips ini, Anda dapat mengurangi risiko akun diretas meskipun menggunakan password sederhana. Ingat, keamanan digital adalah tanggung jawab setiap pengguna internet, tanpa terkecuali.

Join the discussion