Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Ayah di China Gugat 4 Perusahaan Game, Minta Kompensasi karena Anaknya Kecanduan

Robert Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Seorang ayah dari Tanghe, Provinsi Henan, Tiongkok, telah mengajukan gugatan hukum terhadap empat perusahaan game terkemuka di negara tersebut. Qin, seorang

Ayah di China Gugat 4 Perusahaan Game, Minta Kompensasi karena Anaknya Kecanduan

Ayah di China Gugat 4 Perusahaan Game: Kasus Kecanduan Anak

Lenterafakta.com – Seorang ayah dari Tanghe, Provinsi Henan, Tiongkok, telah mengajukan gugatan hukum terhadap empat perusahaan game terkemuka di negara tersebut. Qin, seorang pekerja migran, menuntut kompensasi atas insiden yang menimpa putranya yang baru berusia 18 tahun pada awal tahun 2026. Pemuda tersebut dilaporkan menelan 18 tablet obat demam sekaligus pada malam hari tanggal 23 Mei lalu, beberapa bulan sebelum ayahnya memutuskan untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

Insiden Overdosis yang Memicu Gugatan

Beberapa jam setelah menelan obat-obatan tersebut, sang pemuda mengalami muntah-muntah hebat hingga akhirnya kehilangan kesadaran. Ia segera dibawa ke rumah sakit terdekat dan didiagnosis menderita keracunan obat. Setelah menjalani perawatan medis intensif, kondisinya membaik dan ia diperbolehkan pulang untuk beristirahat di rumah. Yang menarik, hingga saat ini sang pemuda belum mau menjelaskan kepada keluarganya mengapa ia mengonsumsi obat dalam jumlah besar padahal tidak menunjukkan gejala demam sama sekali.

Qin menduga hal ini mungkin berkaitan dengan perasaan bersalah atau kondisi pusing yang dialami putranya setelah bermain game dalam waktu yang sangat lama. Insiden ini menjadi titik balik bagi sang ayah untuk mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan game yang dianggap kurang bertanggung jawab dalam melindungi anak-anak dari kecanduan.

Latar Belakang Kecanduan Game

Menurut Qin, putranya yang merupakan siswa sekolah kejuruan telah mengalami kecanduan game selama beberapa tahun terakhir. Ketika berada di rumah pada akhir pekan, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan berbaring di tempat tidur sambil bermain game. Pola tidur yang tidak teratur juga menjadi masalah, karena ia kerap tertidur pada pukul 03.00 hingga 04.00 pagi setiap malam.

Kondisi fisik putranya juga mengalami penurunan signifikan. Berat badannya turun sekitar 10 kilogram akibat pola hidup yang tidak sehat. Data dari salah satu platform game menunjukkan bahwa sejak Maret 2024, putranya telah menghabiskan total 1.868 jam untuk bermain game. Rata-rata waktu bermain game tercatat mencapai lebih dari dua jam setiap hari, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan bagi seorang remaja.

Mekanisme Penghindaran Aturan

Qin bekerja sebagai pekerja migran di kota lain dan membelikan telepon seluler untuk putranya agar mereka tetap dapat berkomunikasi. Namun, putranya diduga berhasil mengakali aturan pembatasan game bagi anak di bawah umur di Tiongkok. Ia mendaftarkan akun game menggunakan kartu identitas kakaknya yang sudah dewasa, sehingga dapat bermain game tanpa batasan waktu yang berlaku.

Berdasarkan aturan yang berlaku di Tiongkok, pemain anak-anak hanya diperbolehkan bermain game pada pukul 20.00 hingga 21.00 pada hari Jumat, Sabtu, Minggu, serta hari libur nasional. Qin menilai perusahaan game harus bertanggung jawab karena dianggap tidak menjalankan kewajiban untuk memverifikasi identitas pemain secara ketat. Dalam gugatannya, ia menyebutkan bahwa keempat perusahaan tersebut seharusnya memiliki sistem yang lebih baik untuk mencegah anak-anak bermain game melebihi batas waktu yang ditentukan.

Tuntutan dan Harapan Sang Ayah

Dalam gugatan tersebut, Ayah di China Gugat 4 Perusahaan hanya menuntut kompensasi simbolis sebesar 10 yuan atau sekitar Rp 26.704,50. Namun, kompensasi bukan menjadi tujuan utama dari gugatan ini. Ia berharap pengadilan dapat memerintahkan atau mengawasi perusahaan-perusahaan game tersebut agar menjalankan kewajiban mereka dalam mencegah anak-anak dan remaja mengalami kecanduan bermain game.

Saya berharap pengadilan dapat memaksa perusahaan-perusahaan ini untuk memenuhi tanggung jawab mereka dalam mencegah kecanduan di kalangan anak-anak. Saya juga berharap persidangan digelar secara terbuka untuk menunjukkan kelemahan dalam pengelolaan industri ini.

Perkara tersebut semula dijadwalkan untuk disidangkan pada 6 Juli 2026. Tetapi, pada awal Juli, pengadilan memberi tahu Qin bahwa persidangan ditunda setelah keempat perusahaan game mengajukan keberatan terkait kewenangan pengadilan untuk menangani perkara tersebut. Keempat perusahaan yang digugat Qin diketahui berkantor di kota yang berbeda di Tiongkok, namun semuanya memiliki tanggung jawab yang sama dalam melindungi pemain muda.

Saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk melindungi hak anak saya. Game telah memberikan dampak yang merusak bagi anak-anak generasi ini. Jika saya tidak memperjuangkan hak anak saya, saya tidak layak disebut sebagai orangtua.

Kasus tersebut kemudian menarik perhatian jutaan orang di Tiongkok. Sejumlah warganet mendukung langkah Qin dan berharap gugatan tersebut dapat mendorong perusahaan game memperketat sistem perlindungan bagi pemain di bawah umur. Beberapa ahli juga menyatakan bahwa kasus ini bisa menjadi preseden penting dalam regulasi industri game di Tiongkok.

Saya berharap dia memenangkan kasus ini sehingga perusahaan game meningkatkan regulasi.

Join the discussion