Benarkah Perempuan Lebih Rentan Terkena Autoimun? Ini Penjelasan Pakar UGM
Benarkah perempuan lebih rentan terkena penyakit autoimun dibandingkan laki-laki? Pertanyaan ini sering muncul mengingat data menunjukkan adanya perbedaan
Benarkah Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Autoimun? Penjelasan Lengkap dari Pakar UGM Mengenai Faktor Risiko dan Pencegahan
Lenterafakta.com – Benarkah perempuan lebih rentan terkena penyakit autoimun dibandingkan laki-laki? Pertanyaan ini sering muncul mengingat data menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam prevalensi gangguan sistem imun berdasarkan jenis kelamin. Penyakit autoimun terjadi ketika mekanisme pertahanan tubuh salah mengidentifikasi sel-sel sendiri sebagai ancaman luar. Secara normal, sistem imun bertugas mendeteksi dan menyingkirkan bakteri, virus, parasit, serta zat berbahaya lainnya dari dalam tubuh.
Namun pada kondisi autoimun, pertahanan tubuh justru menyerang organ dan jaringan tubuh sendiri, menyebabkan berbagai gejala dan komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga psikologis pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Perbedaan Risiko Berdasarkan Jenis Kelamin
Profesor dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa perempuan memiliki kecenderungan lebih besar mengalami gangguan ini. Data menunjukkan sekitar 80 persen kasus autoimun terjadi pada wanita, sementara sisanya 20 persen pada pria. Angka ini cukup signifikan dan menunjukkan bahwa perempuan memang lebih rentan terkena autoimun.
Kelompok perempuan usia muda atau dalam masa reproduksi memiliki risiko lebih tinggi karena sistem kekebalan mereka masih sangat aktif. Hormon estrogen berperan penting dalam mengatur fungsi imun, sehingga ketidakseimbangan atau perubahan kadar hormon dapat menjadi pemicu munculnya autoimun. Hal ini menjelaskan mengapa banyak kasus autoimun ditemukan pada perempuan usia produktif.
“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” ungkap Nyoman, dikutip dari laman UGM, Selasa (21/7/2026).
Jenis-Jenis Penyakit Autoimun yang Umum Ditemui
Gangguan ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, pankreas, hingga kelenjar tiroid. Secara umum, autoimun dikelompokkan menjadi dua kategori utama yang memiliki karakteristik dan penanganan berbeda.
Pertama, autoimun organ spesifik yang hanya menyerang satu organ tertentu. Contoh paling umum adalah Hashimoto yang menyerang kelenjar tiroid, serta kondisi autoimun pada pankreas yang menyebabkan diabetes melitus tipe 1. Kedua, autoimun sistemik yang menyerang beberapa organ secara bersamaan. Penyakit dalam kategori ini meliputi lupus, rheumatoid arthritis, dan scleroderma.
Faktor Pemicu Selain Genetik dan Hormon
Selain faktor genetik dan hormonal, kondisi lingkungan serta kesehatan psikologis juga berkontribusi terhadap munculnya autoimun. Polusi udara, pola makan tidak sehat, stres, dan kelelahan kronis disebut dapat memperburuk kondisi pasien. Faktor-faktor ini sering kali saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain.
Nyoman menyoroti bahwa tekanan akademik merupakan faktor signifikan bagi mahasiswa. Banyak kasus yang ia tangani menunjukkan pola serupa, di mana tekanan mental dan fisik menjadi pemicu munculnya gejala autoimun.
“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ungkapnya.
Panduan Mengelola Autoimun Secara Efektif
Pasien autoimun disarankan untuk memperhatikan tiga pemicu utama, yaitu kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari berlebihan. Menjaga waktu tidur, membatasi aktivitas berlebihan, serta menggunakan tabir surya saat berada di luar ruangan menjadi langkah penting dalam mengelola kondisi ini.
Terkait pola makan, belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan makanan tertentu sebagai pemicu universal bagi semua penderita. Setiap pasien disarankan untuk mengenali respons tubuh masing-masing dengan mencatat makanan yang dikonsumsi dan mengamati kemunculan gejala. Pendekatan personal ini membantu pasien menemukan strategi terbaik untuk diri mereka sendiri.
Nyoman juga menekankan pentingnya tidak menghentikan pengobatan secara tiba-tiba meskipun kondisi sudah membaik. Konsultasi dengan dokter tetap diperlukan sebelum mengubah regimen pengobatan. Penghentian obat secara mendadak dapat menyebabkan kekambuhan gejala yang lebih parah.
“Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” pesannya.
Kondisi autoimun yang berat juga perlu mendapat perhatian khusus bagi perempuan yang sedang hamil atau merencanakan program kehamilan, karena dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin. Pemantauan ketat dan penanganan yang tepat sangat diperlukan dalam kasus-kasus seperti ini untuk memastikan hasil yang optimal bagi kedua pihak.
