Berbagai Mitos dan Fakta soal Gempa Megathrust, Apakah Selalu Berkekuatan Besar?
Berbagai Mitos dan Fakta soal gempa megathrust masih menjadi bahan perdebatan di masyarakat Indonesia. Sebagai negara yang terletak di Cincin Api Pasifik
Mitos dan Fakta Gempa Megathrust: Mitos Besar vs Realita
Lenterafakta.com – Berbagai Mitos dan Fakta soal gempa megathrust masih menjadi bahan perdebatan di masyarakat Indonesia. Sebagai negara yang terletak di Cincin Api Pasifik, Indonesia memang sering mengalami gempa megathrust dengan intensitas getaran yang bervariasi. Dua contoh terkini adalah gempa di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada April 2023 yang mencapai magnitudo 6,9. Selain itu, wilayah Pacitan, Jawa Timur juga diguncang gempa megathrust pada Februari 2026 dengan kekuatan M 6,4. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua gempa megathrust menghasilkan guncangan dahsyat.
Daryono, pakar gempa bumi dan tsunami dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa masih banyak persepsi keliru mengenai fenomena ini. Ia menyampaikan pesan penting melalui keterangan yang diterima Kompas.com pada Jumat, 31 Juli 2026. Menurut Daryono, pemahaman yang tepat tentang berbagai mitos dan fakta soal gempa megathrust sangat penting untuk kesiapsiagaan bencana.
“Megathrust bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami dan diantisipasi. Kita tidak bisa mencegah gempa, tetapi kita bisa mengurangi risikonya,” ujarnya.
Enam Mitos Umum yang Perlu Diluruskan
Mitos pertama menyatakan bahwa gempa megathrust selalu menghasilkan guncangan besar. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar menurut Daryono. Ia menjelaskan bahwa megathrust sebenarnya merujuk pada zona subduksi tempat lempeng Bumi saling bertumbukan. Zona ini memang berpotensi menghasilkan gempa besar, namun tidak selalu demikian. Gempa di zona ini bisa berkekuatan M 2,0 hingga 3,0, namun juga mampu mencapai magnitudo 8,0 bahkan 9,0.
Mitos kedua berkaitan dengan tsunami. Banyak orang beranggapan bahwa gempa megathrust pasti diikuti tsunami besar. Padahal, menurut Daryono, keberadaan tsunami bergantung pada beberapa faktor seperti mekanisme, lokasi, kedalaman, serta besarnya deformasi dasar laut. Tidak semua gempa megathrust memicu gelombang tsunami yang merusak.
Mitos ketiga adalah anggapan bahwa gempa megathrust akan segera terjadi. Kenyataannya, waktu pastinya tidak dapat diprediksi secara tepat. Yang bisa diketahui hanyalah potensi dan tingkat risikonya. Para ilmuwan terus mengembangkan metode prediksi, namun ketidakpastian tetap ada.
Mitos keempat menyatakan bahwa gempa megathrust hanya mengancam wilayah pesisir. Daryono meluruskan hal ini dengan menjelaskan bahwa gempa kuat dapat berdampak luas hingga ke wilayah daratan, sementara tsunami terutama mengancam kawasan pesisir. Jarak epicenter juga menentukan seberapa jauh dampak felt.
Mitos kelima adalah pandangan bahwa masyarakat tidak bisa berbuat banyak saat bencana terjadi. Faktanya, risiko dapat dikurangi melalui bangunan aman, tata ruang berbasis risiko, edukasi, simulasi, dan evaluasi mandiri. Kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci utama.
Mitos keenam mengira ancaman bencana berakhir setelah gempa besar megathrust terjadi. Daryono menegaskan bahwa gempa susulan dan tsunami masih dapat terjadi sehingga kewaspadaan tetap diperlukan. Periode pasca-gempa bisa berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
“Gempa susulan dan tsunami masih dapat terjadi sehingga kewaspadaan tetap diperlukan,” beber Daryono.
13 Zona Megathrust di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa wilayah Indonesia dikelilingi oleh 13 zona megathrust. Berdasarkan data yang dikutip dari Kompas.com pada 22 Juni 2025, berikut ini daftar 13 zona megathrust di Indonesia beserta potensi magnitudonya:
Zona pertama adalah Megathrust Sumatera yang membentang dari Aceh hingga Lampung dengan potensi magnitudo hingga 9,0. Zona kedua adalah Megathrust Jawa yang mencakup wilayah dari Banten hingga Jawa Timur dengan potensi magnitudo 8,5. Zona ketiga adalah Megathrust Sunda Kecil yang meliputi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Zona keempat adalah Megathrust Sulawesi yang membentang dari Sulawesi Utara hingga Sulawesi Tenggara. Zona kelima adalah Megathrust Maluku yang mencakup wilayah Maluku dan Maluku Utara. Zona keenam adalah Megathrust Banda yang terletak di perairan Maluku bagian timur.
Zona ketujuh adalah Megathrust Halmahera yang membentang di sekitar Kepulauan Halmahera. Zona kedelapan adalah Megathrust Papua Barat yang mencakup wilayah barat Papua. Zona kesembilan adalah Megathrust Papua yang membentang di sepanjang pesisir utara Papua.
Zona kesepuluh adalah Megathrust Papua Timur yang terletak di perairan timur Papua. Zona kesebelas adalah Megathrust Flores yang mencakup wilayah Flores dan sekitarnya. Zona kedua belas adalah Megathrust Timor yang membentang di perairan selatan Nusa Tenggara. Zona ketiga belas adalah Megathrust Aru yang terletak di perairan Maluku bagian selatan.
Dengan memahami berbagai mitos dan fakta soal gempa megathrust, masyarakat Indonesia dapat lebih siap menghadapi potensi bencana. Kesiapsiagaan, edukasi, dan mitigasi yang tepat menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan dampak bencana megathrust di masa depan.
