Biaya Perang Iran Tembus Rp 671 Triliun, Trump Tetap Ancam Serang Situs Nuklir
Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya menyusul peringatan keras yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kepala negara tersebut
Anggaran Perang Iran Capai Rp 671 Triliun, Ancaman Trump Terhadap Situs Nuklir Tetap Berjalan
Lenterafakta.com – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya menyusul peringatan keras yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kepala negara tersebut mengumumkan rencana serangan militer terhadap fasilitas nuklir strategis milik Iran. Sebagai respons, pimpinan komando militer tertinggi Iran menyatakan kesiapan untuk melancarkan serangan balasan berskala besar. Serangan tersebut akan menargetkan berbagai titik vital milik AS dan sekutunya di kawasan.
Trump memastikan bahwa militer Amerika Serikat akan menggempur kawasan situs nuklir bawah tanah di Gunung Pickaxe dalam waktu dekat. Lokasi ini merupakan kompleks bawah tanah yang sangat terfortifikasi dan berada di sekitar fasilitas pengayaan uranium Natanz. Hingga saat ini, situs misterius tersebut belum pernah diizinkan untuk diinspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.
“Kami akan menghantam area tersebut sangat segera. Dan tidak ada satu hal pun yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya,” tegas Trump di Gedung Putih, Selasa, seperti dikutip dari Fox News.
Presiden Trump juga menambahkan bahwa setiap fasilitas nuklir Iran yang terindikasi melakukan pengembangan teknologi atom akan dihantam dengan kekuatan penuh. Menanggapi ancaman langsung dari Washington, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengeluarkan pernyataan tegas melalui media pemerintah. Komando gabungan yang mengoordinasikan seluruh angkatan bersenjata Iran itu memperingatkan bahwa agresi AS terhadap situs nuklir atau fasilitas sensitif lainnya akan memicu perluasan perang di seluruh kawasan Timur Tengah.
Eskalasi militer ini menjadi sorotan utama dalam sidang dengar pendapat Komite Alokasi Anggaran Senat AS pada hari Selasa. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berhadapan langsung dengan para legislator untuk membahas situasi pertempuran terkini. Ia juga mengajukan anggaran bantuan tambahan sebesar 87,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.567 triliun. Anggaran tersebut mencakup biaya perang Iran serta bantuan sektor pertanian.
Dalam persidangan yang diwarnai demonstrasi aktivis anti-perang, Hegseth membongkar besaran dana operasi militer yang telah digelontorkan Washington. Saat menjawab pertanyaan dari Senator asal Illinois, Dick Durbin, ia menyebutkan angka 37,5 miliar dollar AS. Hegseth menjelaskan bahwa angka sekitar Rp 671 triliun tersebut mencakup pengeluaran operasional militer saat ini serta proyeksi biaya hingga akhir tahun fiskal pada 30 September mendatang.
“Saya hanya ingin mencatat bahwa secara militer, Iran telah kalah jauh dan dihancurkan sejak awal secara militer. Kemampuan mereka tidak ada apa-apanya dibanding milik kita,” cetus Hegseth merespons kritik Senator Chris Van Hollen.
Hegseth juga menolak narasi bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang memulai perang terbuka ini. Ia menegaskan bahwa Iran telah memulai perang ini 47 tahun yang lalu dan telah membunuh ribuan warga Amerika, termasuk saudara-saudara mereka di medan perang Irak. Menurut Hegseth, Iran telah menargetkan Amerika Serikat sejak lama.
Menteri Pertahanan menambahkan bahwa Presiden Trump layak mendapatkan pujian tinggi atas keberaniannya mengambil langkah tegas. Tujuannya adalah memastikan rezim di Teheran tidak mendapatkan senjata pemusnah massal. Meskipun menilai militer Iran kini berada dalam posisi terlemahnya dalam kurun 47 tahun terakhir akibat rentetan gempuran udara AS, Hegseth mewanti-wanti bahwa ancaman dari Teheran belum sepenuhnya meredup. Hal ini karena Iran masih menyembunyikan ribuan rudal balistik di dalam fasilitas bawah tanah.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mendesak Senat agar memberikan kepastian anggaran militer secara penuh. Ia menyoroti eskalasi ancaman global yang kian kompleks. Jenderal Caine menyatakan bahwa ia hadir di hadapan Senat untuk meminta dana yang diperlukan selagi berada di jendela kesempatan dan selagi waktu masih memihak mereka.
“Karakter perang sedang berubah. Medan pertempuran hari ini membentang dari dasar laut hingga ruang siber secara bersamaan, dan kita harus siap bertempur di semua lini tersebut,” lanjutnya.
Di tengah bergulirnya sidang di Senat, Presiden Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social. Ia membandingkan durasi waktu dan jumlah korban jiwa dalam berbagai konflik sejarah AS dengan operasi militer yang sedang berlangsung saat ini.
