Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau di Langit Yogyakarta yang Picu Dentuman di Cirebon

Susan Jones - lenterafakta.com 3 mins read

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau di Langit Yogyakarta yang Picu Dentuman di Cirebon Penjelasan dari Thomas Djamaluddin BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau di Langit Yogyakarta yang Picu Dentuman di Cirebon

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau di Langit Yogyakarta yang Picu Dentuman di Cirebon

Penjelasan dari Thomas Djamaluddin

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau – Ahli astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan mengenai fenomena kilatan cahaya hijau yang terjadi di langit Yogyakarta pada 11 Juli 2026. Peristiwa ini menarik perhatian publik karena diikuti oleh dentuman di wilayah Cirebon. Menurut Thomas, objek tersebut adalah meteor besar yang melintas dari Laut Jawa dan kemungkinan besar jatuh ke Samudra Hindia.

“Meteor besar melintas dari Laut Jawa terdeteksi di Bekasi sekitar pukul 21.22 WIB. Objek ini masih cukup tinggi, sehingga terlihat relatif kecil dan berwarna putih,”

penjelasan Thomas menunjukkan bahwa meteor yang teramati memiliki lintasan yang unik dan menyebabkan kejadian gejala sonik. Ia menjelaskan, fenomena ini terjadi karena gesekan udara saat meteor memasuki atmosfer Bumi, yang menciptakan panas hingga mencapai 120 kilometer di atas permukaan laut.

Fenomena Lintasan dan Warna Cahaya

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau – Dalam analisis lebih lanjut, Thomas menyoroti bahwa warna hijau yang terlihat dalam kilatan cahaya menunjukkan komposisi batuan antariksa yang mengandung magnesium. “Unsur magnesium dalam batuan meteor ini terbakar akibat gesekan atmosfer, sehingga memancarkan cahaya hijau yang membedakannya dari warna lain seperti putih atau biru,”

fenomena ini memperlihatkan bahwa penelitian tentang warna meteor bisa menjadi indikator penting untuk memahami sumber daya bumi dan interaksi antariksa.

Kilatan cahaya hijau tersebut juga diikuti oleh dentuman yang dirasakan oleh warga di Cirebon. “Dentuman terjadi karena gelombang kejut akibat meteor bergerak dengan kecepatan tinggi di atmosfer bawah,”

mengungkapkan bahwa suara yang terdengar bukanlah suara dari batu meteor itu sendiri, tetapi dari udara yang terdorong oleh tekanan tiba-tiba saat objek tersebut terbakar dan menghancurkan udara sekitarnya.

Pengamatan dari Astronomi Amatir

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau – Astronomi amatir Marufin Sudibyo mengamati peristiwa ini sebagai fenomena bolide, yaitu meteor superterang yang disertai fragmentasi dan suara dentuman. “Kilatan cahaya hijau menunjukkan adanya unsur nikel dalam batuan antariksa, yang sering ditemukan pada meteoroid yang berasal dari pecahan asteroid,”

penjelasannya menambahkan bahwa warna cahaya meteor bisa berubah tergantung pada komposisi kimia dan ketinggian di mana objek tersebut terbakar.

Menurut Marufin, meteor berwarna hijau ini terlihat secara jelas di beberapa daerah di Jawa Barat, termasuk Kuningan dan Majalengka. “Di Majalengka, cahaya meteor berwarna biru, sementara di Tasikmalaya, objek tersebut terlihat lebih terang karena melintasi awan,”

ini menunjukkan variasi komposisi dan lintasan meteor yang bisa menghasilkan warna berbeda pada setiap penampakan.

Analisis Statistik dan Frekuensi Peristiwa

BRIN Ungkap Asal Meteor Berwarna Hijau – Dalam konteks statistik, Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa peristiwa meteor berwarna hijau seperti ini terjadi rata-rata setiap 26 hari sekali. “Ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut bukanlah hal yang jarang, tetapi merupakan bagian dari siklus alamiah interaksi antariksa dengan Bumi,”

penelitian BRIN menggarisbawahi pentingnya pengamatan rutin terhadap objek langit untuk memahami pola kejadian dan dampaknya terhadap lingkungan.

Berdasarkan data yang dianalisis, meteor ini memasuki atmosfer Bumi di ketinggian sekitar 46 hingga 48 kilometer sebelum menghilang sebagai abu. “Karena hancur di atmosfer, meteor tidak mencapai permukaan laut, tetapi membentuk lapisan partikel yang mengandung logam dan mineral,”

hal ini membuka peluang untuk mempelajari komposisi batuan antariksa melalui pengamatan visual dan sensor pendeteksi udara.

Join the discussion