Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Buah Matang Kandung Gula Lebih Tinggi? Ini Penjelasan Guru Besar IPB

Jennifer Thomas - lenterafakta.com 3 mins read

Ketika berbelanja di pasar atau supermarket, banyak konsumen yang hanya berpatokan pada preferensi pribadi tanpa mempertimbangkan tingkat kematangan buah

Buah Matang Kandung Gula Lebih Tinggi? Ini Penjelasan Guru Besar IPB

Apakah Buah yang Lebih Matang Memang Mengandung Lebih Banyak Gula?

Lenterafakta.com – Ketika berbelanja di pasar atau supermarket, banyak konsumen yang hanya berpatokan pada preferensi pribadi tanpa mempertimbangkan tingkat kematangan buah. Namun, ternyata fase kematangan memiliki dampak signifikan terhadap komposisi nutrisi yang terkandung di dalamnya. Prof. Antonius Suwanto, seorang Guru Besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, mengklarifikasi bahwa buah dengan kematangan lebih tinggi cenderung memiliki kadar gula yang lebih besar dibandingkan buah yang masih mengkal.

Proses ini terjadi karena selama fase pematangan berlangsung, pati kompleks yang tersimpan di dalam jaringan buah mengalami proses penguraian bertahap. Hasilnya adalah pembentukan gula-gula sederhana yang lebih mudah diserap tubuh. Antonius menjelaskan bahwa pada buah yang belum sepenuhnya matang, komposisi karbohidratnya masih didominasi oleh pati resisten. Pati jenis ini memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna oleh sistem pencernaan manusia.

Proses Biokimia di Balik Kematangan Buah

Seiring berjalannya waktu pematangan, transformasi tersebut mengubah pati kompleks menjadi glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Perubahan kimiawi inilah yang menyebabkan rasa buah menjadi semakin manis seiring kematangannya. Proses enzimatik ini melibatkan berbagai enzim seperti amilase yang bekerja memecah molekul pati menjadi unit-unit gula yang lebih kecil.

“Makanya, makin matang buahnya, makin tinggi juga kandungan gulanya dan rasanya jadi semakin manis,” ujar Antonius saat dihubungi Kompas.com, Kamis (30/7/2026).

Pertimbangan Nutrisi dan Kesehatan

Meskipun kadar gula meningkat, buah matang tidak kehilangan kandungan vitamin dan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Oleh karena itu, keputusan untuk mengonsumsi buah matang atau mengkal sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi individu serta kondisi kesehatan masing-masing. Beberapa jenis buah memiliki karakteristik kematangan yang unik dan berbeda-beda.

Sebagai contoh, durian dengan kulit keras namun daging buah lunak memiliki kandungan gula yang masih relatif rendah dibandingkan durian yang matang sempurna. Kondisi ini menjadikan buah mengkal sebagai pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin membatasi asupan fruktosa. Penting untuk dicatat bahwa jumlah total buah yang dikonsumsi ternyata lebih menentukan daripada sekadar tingkat kematangannya.

Konsumsi buah matang dalam porsi moderat bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan memakan buah setengah matang dalam jumlah besar. Hal ini karena tubuh dapat menyerap nutrisi dari buah matang dengan lebih efisien berkat proses pencernaan yang lebih optimal.

Manfaat Serat dan Kesehatan Usus

Antonius menekankan bahwa kedua jenis buah, baik yang matang maupun mengkal, memberikan manfaat kesehatan selama dikonsumsi secara bijak. Salah satu saran penting adalah mengonsumsi buah dalam kondisi utuh agar kandungan serat alaminya tidak hilang. Serat alami tersebut berfungsi sebagai prebiotik yang menjadi sumber makanan bagi bakteri menguntungkan di usus besar.

Kehadiran bakteri baik ini berperan penting dalam menjaga sistem imun tubuh sekaligus memproduksi berbagai senyawa esensial, termasuk vitamin dan hormon yang berkontribusi terhadap kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan. Proses fermentasi serat oleh bakteri usus juga menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat bagi kesehatan kolon.

“Kalau konsumsi buah, sebaiknya buah yang utuh karena buah utuh mengandung serat. Dua-duanya, baik buah mengkal maupun matang, tetap jauh lebih baik daripada ngemil junk food,” pungkasnya.

Join the discussion