Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Cerita Pedagang Kaki Lima di Borobudur yang Mulai Menabung Setelah Beralih ke QRIS

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

dan Perubahan Finansial Cerita Pedagang Kaki Lima di Borobudur - Dalam upaya mempercepat transaksi di Taman Wisata Candi Borobudur, banyak pedagang kaki lima

Cerita Pedagang Kaki Lima di Borobudur yang Mulai Menabung Setelah Beralih ke QRIS

Cerita Pedagang Kaki Lima Borobudur: Transisi ke QRIS dan Perubahan Finansial

Cerita Pedagang Kaki Lima di Borobudur – Dalam upaya mempercepat transaksi di Taman Wisata Candi Borobudur, banyak pedagang kaki lima mulai beralih ke metode pembayaran digital. Fokus utama pada Cerita Pedagang Kaki Lima di Borobudur ini menyoroti bagaimana penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) memengaruhi pengelolaan uang dan kebiasaan menabung para pengusaha lokal. Perubahan ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga menggambarkan transformasi ekonomi kecil yang mendorong efisiensi dan keberlanjutan usaha.

Transformasi Pemenuhan Kebutuhan Pengusaha Kaki Lima

Sabil, salah satu pedagang souvenir di Dusun Tingal Wetan, Magelang, menjadi contoh nyata perubahan ini. Sebelum beralih ke QRIS, ia mengelola bisnis dengan uang tunai yang seringkali tidak cukup untuk menutupi pengeluaran tak terduga. Kini, dengan QRIS, ia bisa mengatur keuangan lebih rapi. “Pembayaran melalui QRIS membuat pengeluaran dan pemasukan terpisah, sehingga lebih mudah diawasi,” katanya dalam wawancara dengan Kompas.com, Sabtu (20/6/2026).

Peralihan ke QRIS juga mempercepat proses transaksi. Slamet, pedagang pentol biru di Tuksongo, menjelaskan bahwa penggunaan kode QRIS mengurangi waktu tunggu pembeli dan menghindari kesalahan kembalian. “Dulu, saya sering bingung menghitung uang, tapi sekarang bisa langsung masukkan ke rekening,” ujarnya. Dengan cara ini, para pedagang dapat fokus pada pengembangan bisnis dan pengelolaan dana yang lebih terstruktur.

Peran QRIS dalam Meningkatkan Akuntabilitas

QRIS tidak hanya menyederhanakan proses pembayaran, tetapi juga memicu perubahan mindset dalam pengelolaan uang. Arifin, penjual es krim keliling yang telah berjualan di Borobudur selama dua dekade, mengatakan bahwa dengan sistem ini, ia bisa menabung untuk modal tambahan. “Saya pernah membeli bahan baku secara boros karena uang tunai selalu habis, tapi sekarang lebih terkontrol,” tambahnya.

Kawasan Borobudur yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas jual beli tunai, kini berkembang menjadi lingkungan yang lebih digital. Pendaftaran QRIS bisa dilakukan di kantor BRI Borobudur, dengan persyaratan seperti KTP, foto tempat usaha, dan Surat Keterangan Usaha (SKU). “Setelah semua dokumen lengkap, pendaftaran merchant QRIS bisa langsung dilakukan di kantor BRI,” jelas Jatun Sigit P., Kepala Unit BRI Borobudur, Rabu (24/6/2026).

Manfaat yang Muncul dari Penggunaan QRIS

Beralih ke QRIS memberi dampak signifikan terutama dalam aspek keuangan. Para pedagang kaki lima tidak hanya bisa menyimpan hasil penjualan ke rekening, tetapi juga mengakses layanan keuangan lainnya, seperti pinjaman atau tabungan. “Saya bisa memperbesar modal usaha karena uang hasil penjualan lebih aman dan terpisah dari pengeluaran harian,” ungkap Sabil. Keuntungan ini terutama dirasakan di akhir pekan, ketika transaksi meningkat drastis.

Di samping manfaat finansial, QRIS juga membantu para pedagang menghadapi kenaikan biaya operasional. Dengan transaksi digital, mereka tidak lagi perlu menyimpan uang di lokasi usaha, mengurangi risiko pencurian atau hilangnya uang. “Saya sudah tidak khawatir jika ada kehilangan uang saat berjualan,” tambah Slamet, yang mengelola bisnis dari rumah. Transisi ini juga mendorong para pedagang lebih aktif dalam mencatat keuntungan dan pengeluaran secara rutin.

Perkembangan Ekonomi Lokal dan Perspektif Masa Depan

Kawasan Dusun Tingal, yang sebelumnya hanya menjadi tempat berjualan sementara, kini berkembang menjadi pusat UMKM yang lebih terorganisir. Dengan QRIS, para pedagang bisa memperluas jaringan pelanggan, karena pembeli dari luar kota pun bisa menggunakan metode ini. “QRIS membuat bisnis saya lebih terjangkau oleh wisatawan dari berbagai wilayah,” kata Arifin, yang mangkal di area parkir pusat oleh-oleh. Kebiasaan menabung dan penggunaan uang secara lebih bijak semakin terbentuk, membuka peluang untuk investasi kecil.

Transisi ke QRIS di Borobudur menjadi cerminan dari kemajuan teknologi di sektor ekonomi rakyat. Para pedagang kaki lima yang awalnya skeptis, kini melihat manfaat jangka panjang. Dengan pemerintah yang terus mendorong adopsi QRIS, harapan muncul bahwa kebiasaan menabung ini akan bertahan dan menginspirasi bisnis lain untuk ikut serta dalam transformasi digital.

Kesimpulan: Masa Depan yang Lebih Terarah

Cerita Pedagang Kaki Lima di Borobudur ini menunjukkan bahwa adopsi QRIS bukan hanya mengubah cara bertransaksi, tetapi juga membentuk kebiasaan keuangan yang lebih baik. Perubahan ini berdampak pada manajemen keuangan, peningkatan efisiensi, serta kemampuan para pedagang untuk menabung dan memperluas usaha. Dengan bantuan teknologi digital, bisnis kecil di Borobudur semakin mampu bertahan di tengah dinamika pasar yang cepat berubah.

Join the discussion