Darurat Keteladanan, Menuju Indonesia Emas.
Darurat Keteladanan Menuju Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak bagi bangsa. Ungkapan tradisional "Guru kencing berdiri, murid
Darurat Keteladanan Menuju Indonesia Emas: Tantangan dan Solusi
Lenterafakta.com – Darurat Keteladanan Menuju Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak bagi bangsa. Ungkapan tradisional “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” kini terasa semakin relevan dalam menggambarkan realitas sosial-politik kita. Teori Pembelajaran Sosial yang dirumuskan Albert Bandura pada tahun 1977 menegaskan bahwa manusia menyerap nilai-nilai melalui pengamatan dan peniruan terhadap figur-figur yang memiliki otoritas maupun pengaruh sosial. Dalam konteks ini, pemimpin tidak sekadar merancang kebijakan, melainkan juga menjadi arsitek karakter kolektif masyarakat. Perbuatan nyata seorang pemimpin jauh lebih mudah ditiru dibandingkan kata-katanya.
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Fenomena Keteladanan dalam Ruang Publik Indonesia
Ruang publik Indonesia belakangan ini dipenuhi oleh berbagai fenomena yang menguji makna keteladanan. Hampir setiap tahun, masyarakat disuguhkan berita tentang pejabat yang terlibat masalah hukum. Kasus korupsi bantuan sosial masa pandemi yang melibatkan Menteri Sosial masih segar dalam ingatan. Demikian pula perkara infrastruktur BTS 4G yang menyeret Menteri Komunikasi dan Informatika. Operasi tangkap tangan terhadap kepala daerah serta kasus-kasus di BUMN dan lembaga negara juga kerap menjadi sorotan.
Memasuki tahun 2024, Kejaksaan Agung membuka kasus tata niaga timah yang diperkirakan merugikan negara hingga Rp 300 triliun, menjadikannya salah satu kasus terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Tahun berikutnya, publik dikejutkan oleh dugaan korupsi pengelolaan minyak mentah di Pertamina dengan estimasi kerugian Rp 193,7 triliun. Tidak lama setelah itu, penyidikan pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan dengan nilai anggaran Rp 9,9 triliun juga menggema.
Di tahun 2026, masyarakat kembali menyaksikan dugaan penyimpangan pada Program Makan Bergizi Gratis yang melibatkan tiga mantan pimpinan Badan Gizi Nasional. Kasus lain yang menarik perhatian adalah dugaan korupsi dana pakan satwa di Kebun Binatang Surabaya oleh mantan Direktur Perusda KBS. Deretan kasus tersebut hanyalah sebagian kecil dari berbagai perkara yang terus-menerus mengisi pemberitaan.
Dampak Krisis Keteladanan terhadap Generasi Muda
Akibat finansial memang masih bisa diukur dalam angka rupiah, namun kerusakan terhadap karakter bangsa sulit dinyatakan dengan satuan pasti. Ketika masyarakat terus-menerus menyaksikan penyalahgunaan jabatan oleh figur yang seharusnya menjadi teladan, kepercayaan terhadap institusi negara perlahan terkikis. Integritas sebagai nilai luhur pun mulai dipertanyakan. Darurat Keteladanan Menuju Indonesia Emas menuntut kita untuk segera mengambil tindakan nyata.
Korupsi kini bukan lagi sekadar tindak pidana luar biasa, melainkan berpotensi menjadi proses pembelajaran sosial bagi generasi muda. Generasi Z dan Alpha yang tumbuh di era digital menyaksikan setiap penangkapan pejabat, konferensi pers, hingga persidangan melalui layar ponsel mereka. Mereka tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi sedang menyerap pola perilaku dari figur-figur berstatus tinggi.
Jika penyalahgunaan kekuasaan terus dipertontonkan, masyarakat dapat mengembangkan persepsi bahwa jabatan identik dengan privilese, kekuasaan identik dengan penyimpangan, dan pelanggaran hukum menjadi hal yang lumrah. Sosiolog Diane Vaughan menyebut fenomena ini sebagai normalisasi penyimpangan, yaitu ketika perilaku yang semula dianggap tidak dapat diterima perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa karena frekuensinya yang tinggi.
Masyarakat tidak lagi terkejut mendengar berita korupsi, melainkan muncul sikap apatis seolah korupsi adalah konsekuensi alami dari kekuasaan. Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia menghadapi krisis keteladanan yang lebih mendalam daripada sekadar krisis ekonomi atau hukum. Krisis ini merembes ke kehidupan sehari-hari, mulai dari menerobos lampu merah saat jalan sepi, melawan arus demi mempersingkat perjalanan, hingga memberikan uang agar urusan lebih cepat selesai.
Ungkapan “aturan dibuat untuk dilanggar” semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Kalimat tersebut mencerminkan lunturnya kepercayaan terhadap teladan yang seharusnya diberikan oleh para pemimpin. Indonesia menargetkan menjadi negara maju, namun tujuan tersebut tidak akan tercapai tanpa pemulihan keteladanan sebagai fondasi utama masyarakat. Darurat Keteladanan Menuju Indonesia Emas harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh lapisan bangsa.
