FIFA Dikabarkan Batal Jual Saham Bisnis Piala Dunia Usai Banjir Penolakan
FIFA Dikabarkan Batal Jual Saham dalam skema komersialisasi yang telah lama dirumuskan. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) memutuskan untuk membatalkan
FIFA Tinggalkan Rencana Jual Saham Bisnis Piala Dunia Setelah Ditolak Keras
Lenterafakta.com – FIFA Dikabarkan Batal Jual Saham dalam skema komersialisasi yang telah lama dirumuskan. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) memutuskan untuk membatalkan inisiatif menjual sebagian saham bisnisnya kepada investor luar. Keputusan ini diambil menyusul gelombang penolakan yang datang dari berbagai pejabat sepak bola di seluruh dunia, termasuk dari badan-badan regional dan internal organisasi.
Laporan yang dimuat New York Post dan dikutip Reuters pada hari Jumat, 31 Juli 2026, mengungkap bahwa skema penjualan saham tersebut sebelumnya bertujuan mengumpulkan dana mencapai 4,2 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan Rp 75,72 triliun berdasarkan kurs Rp 18.029 per dolar. Skema ini melibatkan pengalihan sekitar 20 persen kepemilikan pada entitas bisnis baru yang didirikan FIFA untuk mengelola aset komersialnya.
Entitas bisnis baru ini diperkirakan bernilai 20 miliar dolar AS atau Rp 360,58 triliun. Namun, menurut empat sumber yang memahami situasi, kesepakatan itu kini tidak lagi berjalan. Reuters belum bisa memverifikasi informasi ini secara mandiri. Hingga saat ini, FIFA belum memberikan respons atas permintaan keterangan pers terkait perkembangan terbaru dari rencana penjualan saham tersebut.
UEFA dan Internal FIFA Menolak Tegas
Proposal yang diumumkan FIFA pada hari Selasa, 28 Juli 2026, langsung mendapat perlawanan terbuka dari badan sepak bola Eropa, UEFA. Menurut BBC, UEFA menilai langkah komersialisasi ini mempertaruhkan masa depan serta “jiwa” sepak bola dunia. Penolakan kemudian meluas ke berbagai pihak, termasuk dari para pemain dan pelatih yang merasa kepentingan sepak bola terancam.
Pada Kamis, 30 Juli 2026, sebanyak 55 anggota UEFA sepakat untuk memboikot seluruh turnamen yang diselenggarakan FIFA. Gejolak juga merembet ke dalam struktur organisasi FIFA sendiri. Carlos Cordeiro, penasihat senior Presiden FIFA Gianni Infantino, mengundurkan diri pada hari Jumat sebagai bentuk protes terhadap rencana tersebut.
Kevin Lamour, Chief Operating Officer FIFA, juga menyampaikan kritik tajam terhadap proposal ini. Ia menyatakan bahwa para staf FIFA telah “ditipu” oleh Infantino dan menggambarkan rencana itu sebagai proyek yang berasal dari satu orang. Kritik ini semakin memperkuat posisi FIFA untuk menunda atau membatalkan rencana jual saham.
Detail Skema dan Investor Potensial
Sebelumnya, FIFA mengusulkan pembentukan anak usaha bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas ini dirancang untuk mengelola Piala Dunia serta berbagai kegiatan lain milik FIFA. Melalui skema ini, FIFA berencana menawarkan sebagian kepemilikan kepada investor eksternal sambil tetap mempertahankan kendali atas entitas tersebut. Thrive Eternal, sebuah dana investasi yang dijalankan oleh Thrive Capital, disebut-sebut akan menjadi investor utama dalam kelompok investor yang disiapkan untuk rencana tersebut.
Thrive Capital didirikan oleh Joshua Kushner, adik dari Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam upaya mendapatkan dukungan dari 211 asosiasi anggota FIFA, Infantino sebelumnya menjanjikan dana sebesar 40 juta dolar AS atau Rp 721,16 miliar untuk setiap asosiasi yang menyetujui proposal hingga batas waktu 19 September. Jika dikalikan dengan 211 asosiasi anggota FIFA, nilai tersebut setara dengan sekitar 8,44 miliar dolar AS atau Rp 152,12 triliun.
FIFA membantah anggapan bahwa rencana tersebut berarti menjual sepak bola. Organisasi itu menyatakan bahwa tidak ada pihak yang “menjual sepak bola” dan menilai proposal tersebut telah disalahartikan oleh pemberitaan media. FIFA juga menyatakan tidak akan melanjutkan rencana tersebut tanpa dukungan mayoritas asosiasi anggotanya. Namun, dengan penolakan keras dari UEFA dan anggota internal, FIFA Dikabarkan Batal Jual Saham dalam skema yang telah direncanakan selama beberapa bulan terakhir.
Rencana penjualan saham tersebut sebelumnya menjadi salah satu langkah besar FIFA untuk mendapatkan pendanaan eksternal dari bisnis penyelenggaraan Piala Dunia dan berbagai ajang lainnya. Tetapi, setelah menghadapi penolakan dari UEFA, boikot anggota UEFA, serta perselisihan di jajaran internal, rencana itu kini dikabarkan batal. Langkah ini menunjukkan bahwa FIFA lebih memilih untuk mendengarkan suara dari komunitas sepak bola global sebelum mengambil keputusan strategis jangka panjang.
