Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Generasi Tanpa “Ideologi”

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

Sejak era modern, hampir setiap lapisan masyarakat memiliki "agama politik" yang diyakini dengan penuh pengabdian. Generasi 1945 digerakkan oleh semangat

Generasi Tanpa “Ideologi”

Generasi Tanpa Ideologi: Perubahan Paradigma Politik Generasi Z

Lenterafakta.com – Sejak era modern, hampir setiap lapisan masyarakat memiliki “agama politik” yang diyakini dengan penuh pengabdian. Generasi 1945 digerakkan oleh semangat nasionalisme yang romantis. Sementara itu, Generasi 1966 terbelah oleh antikomunisme serta dorongan kuat untuk membangun negara. Generasi Reformasi pula hidup dalam takdir demokrasi dan kebebasan sipil. Bagi kalangan tersebut, ideologi melampaui sekadar opsi politik di kertas suara. Ia merupakan jalur hidup eksistensial, lensa memandang realitas, serta identitas yang melahirkan semangat militan. Banyak individu rela kehilangan jabatan, mendekam di penjara, atau bahkan mengorbankan nyawa demi mempertahankan keyakinan mereka. Kesetiaan semacam ini menjadi pondasi masyarakat selama puluhan tahun.

Namun, ketika Generasi Z mengambil alih panggung sejarah, peta sosiologis itu mulai runtuh perlahan. Manusia pertama yang tumbuh tanpa gesekan pertarungan ideologi besar ini hidup di dalam ceruk banjir informasi. Mereka lahir setelah Perang Dingin meredup, tidak merasakan trauma Orde Baru, tidak turun ke jalan pada 1998, serta tidak mengenal dunia tanpa internet. Di pangkuan Gen-Z, ideologi tidak datang melalui pidato membahana atau bariton suara yang menggema. Ia hadir dalam narasi singkat, kadang tidak lebih dari 30 detik. Namun, hal ini justru menciptakan adiksi sikap dan tindakan yang begitu kuat.

Perubahan dalam Pewarisan Nilai

Hubungan mereka terhadap nilai tidak lagi dituntun oleh institusi tradisional—seperti keluarga, sekolah, partai politik, atau organisasi keagamaan—yang kini mengalami pengeroposan otoritas simbolik. Mata rantai pewarisan nilai itu putus, hilang, atau (mungkin) tidak lagi dikenali. Bahkan di kampus, misalnya, otoritas dosen kini bersaing dengan content creator. Di rumah, otoritas nasihat orang tua tergeser oleh sistem rekomendasi dari komen dan “like” di media sosial. Secara perlahan dan pasti, ideologi perlahan digantikan oleh algoritma.

Dalam sosiologi klasik, Karl Mannheim melihat ideologi sebagai sistem berpikir yang mengikat individu pada kelompok sosial. Namun, logika algoritma tidak peduli pada narasi koheren jangka panjang. Algoritma tidak pernah bertanya, “Apa yang Anda yakini?” melainkan, “Apa yang paling lama Anda tonton?” Pergeseran ini terpotret telanjang pada Pemilu 2024. Dukungan masif pemilih muda terhadap figur politik tertentu tidak didorong oleh kedekatan ideologis atau manifesto partai, melainkan oleh strategi visual digital: potongan video belasan detik, gimik “gemoy”, hingga narasi personal yang cair.

Demokrasi sebagai Prosedur

Penelitian Burhanuddin Muhtadi dkk. menyebut mereka sebagai complacent democrats. Demokrasi diterima sebagai sesuatu yang sewajarnya ada, bukan lagi sebagai cita-cita yang harus terus diperjuangkan. Demokrasi berubah dari perjuangan menjadi sekadar prosedur. Ketika kualitasnya menurun, kegelisahan itu tidak tumbuh sebanding dengan kepuasan yang mereka rasakan terhadap sistem yang ada. Di sini preferensi politik tak lagi dibangun oleh memori sejarah, melainkan oleh pengalaman digital yang dangkal. Pilihan politik tidak lagi dibuat rumit dan ruwet, melainkan oleh sesuatu yang begitu artifisial.

Fenomena ini jelas sekali telah melampaui urusan bilik suara. Dalam ruang ekonomi dan budaya populer, kita menyaksikan apa yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity (modernitas cair). Loyalitas menjadi barang langka. Hari ini mengagumi satu merek atau idola, besok berpindah tanpa beban psikologis. Identitas Gen Z bekerja secara modular. Mereka bisa menjadi aktivis lingkungan di hari Senin, membicarakan mental health di hari Rabu, dan hanyut dalam tren investasi kripto di akhir pekan. Perpindahan ini bukan sekadar inkonsistensi, melainkan cermin bahwa identitas masa kini berbentuk etalase: sementara, mudah dibongkar-pasang, dan sangat bergantung pada siklus viralitas.

Maka, dalam struktur saraf dan mindset mereka, politik berubah menjadi kompetisi perhatian (attention competition). Dengan sendirinya, terlihat bahwa perhatian kini jauh lebih mahal dan seksi daripada kesetiaan. Tentu, melihat fenomena ini secara moralistik—dengan menuduh Gen Z malas membaca atau apatis—adalah kekeliruan analisis. Mereka bukan generasi yang kehilangan kecerdasan. Merekalah masyarakat yang paling terbuka pada gagasan baru, fleksibel, dan terbebas dari dogmatisme fanatik. Namun, konsekuensi sosiologisnya tidak main-main. Ketika seluruh keputusan publik bergantung pada algoritma, maka Generasi Tanpa Ideologi bukan sekadar label, melainkan realitas baru yang harus dipahami dengan lebih dalam.

Join the discussion