Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barel, Tertinggi sejak Mei 2026
Kamis (23/7/2026) menjadi hari bersejarah bagi pasar energi global. Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026
Minyak Dunia Capai Rekor $100 per Barel, Tertinggi Sejak Mei 2026
Lenterafakta.com – Kamis (23/7/2026) menjadi hari bersejarah bagi pasar energi global. Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026. Pencapaian ini menempatkan harga minyak mentah di level Rp 1,8 juta per barel, mencerminkan sentimen optimis namun juga waspada dari para pelaku pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama yang mendorong harga komoditas energi ini melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.
Acuan internasional Brent mencatatkan penguatan lebih dari lima persen dalam sesi perdagangan hari ini. Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari tren positif yang telah berlangsung sejak awal minggu. Investor dan trader kini menyoroti eskalasi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran sebagai faktor penentu. Ketakutan akan terganggunya jalur pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah mendorong permintaan yang signifikan di pasar spot maupun futures.
Eskalasi Konflik dan Ancaman Jalur Ekspor
Tekanan pada pasar energi semakin meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak di perairan Laut Merah. Aksi tersebut mengancam salah satu rute ekspor vital yang dimanfaatkan Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi arteri penting bagi pengiriman minyak dari negara-negara produsen Teluk ke pasar global, terutama Asia dan Eropa.
Situasi di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran melaporkan adanya gangguan terhadap aktivitas pelayaran kapal tanker. Pada Kamis, tercatat tiga kapal tanker membatalkan rencana penyeberangan setelah ledakan terjadi di salah satu kapal dan memicu kebakaran besar. Peristiwa ini menambah kekhawatiran para analis tentang kelancaran distribusi energi dunia.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada pekan ini menyatakan bahwa pemerintah Iran belum menunjukkan kesiapan untuk mencapai kesepakatan.
Ketegangan di kawasan tersebut semakin memanas setelah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran gagal dipertahankan. Selain minyak, komoditas gas juga mengalami kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir. Harga gas acuan Inggris kini berada di kisaran 150 pence per therm, melonjak dibandingkan posisi pada 26 Juni 2026 yang tercatat sekitar 98 pence per therm.
Angka tersebut melonjak dibandingkan posisi pada 26 Juni 2026 yang tercatat sekitar 98 pence per therm. Kenaikan harga minyak dan gas mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi apabila perang di Timur Tengah terus meluas. Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan keamanan di Laut Merah dan Selat Hormuz, mengingat kedua kawasan tersebut memiliki peran krusial dalam perdagangan minyak dan gas dunia.
Para ahli memperkirakan bahwa volatilitas harga akan terus berlanjut selama konflik geopolitik belum menemukan titik penyelesaian. Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan terbaru di medan pertempuran dan negosiasi diplomatik. Jika eskalasi berlanjut, harga minyak berpotensi menyentuh level yang lebih tinggi lagi dalam beberapa minggu ke depan.
