Israel Bangun Tanggul Raksasa Sepanjang 23 Km di Gaza, Warga Khawatir Jadi Batas Permanen
```html Israel Bangun Tanggul Raksasa Sepanjang 23 Km di Gaza
Lenterafakta.com – “`html
Israel Bangun Tanggul Raksasa Sepanjang 23 Km di Gaza
Citra satelit terbaru mengungkap bahwa pasukan Israel telah menyelesaikan konstruksi penghalang tanah yang membentang lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Pembangunan masif ini terjadi dalam tempo singkat selama beberapa bulan terakhir, menurut laporan Associated Press yang diterbitkan pada hari Selasa, 21 Juli 2026. Kantong Palestina yang dihuni lebih dari dua juta jiwa ini kini semakin terfragmentasi akibat kehadiran struktur tersebut.
Dimensi dan Lokasi Penghalang
Dengan panjang mencapai 23 kilometer, tanggul raksasa ini melintasi berbagai permukiman yang sebelumnya hancur akibat operasi militer. Sebagai gambaran, seluruh Jalur Gaza memiliki ukuran panjang sekitar 40 kilometer dan lebar 11 kilometer. Artinya, konstruksi yang dibuat Israel melebihi setengah dari total panjang wilayah tersebut.
Sesudah Associated Press mempublikasikan foto satelit, pihak militer Israel membenarkan adanya penghalang fisik di sepanjang area yang dikenal sebagai “garis kuning”. Batas ini awalnya ditetapkan sebagai titik mundur pasukan Israel sesuai perjanjian gencatan senjata dengan Hamas yang mendapat dukungan Amerika Serikat. Dalam kesepakatan tersebut, garis kuning berfungsi sebagai penanda sementara sebelum penarikan total tentara Israel dari Gaza.
Namun, karena negosiasi gencatan senjata saat ini mengalami kemacetan, banyak warga Palestina khawatir batas sementara ini akan berubah menjadi permenan. Kedua CENTCOM yang bertanggung jawab memantau implementasi gencatan senjata serta Dewan Perdamaian pimpinan Presiden AS Donald Trump yang akan mengawasi Gaza, belum memberikan pernyataan resmi terkait pembangunan ini.
Kecepatan Pembangunan dan Reaksi Warga
Militer Israel menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari perluasan “zona keamanan” yang dilengkapi sistem intelijen dan teknologi canggih. Mereka juga tidak menjelaskan seberapa jauh penghalang tersebut akan diperpanjang ke depan. “Tujuan utama penghalang ini adalah mencegah infiltrasi serta melindungi pasukan dan komunitas Israel yang tinggal di dekat Gaza,” jelas pernyataan resmi militer.
Data dari Planet Labs PBC menunjukkan akselerasi pembangunan yang signifikan. Di kawasan selatan Gaza, satu ruas tanggul bertambah panjang dari 500 meter pada 1 Juli menjadi 2,4 kilometer pada 15 Juli. Struktur ini kini memisahkan reruntuhan Kota Rafah yang dikendalikan Israel dengan wilayah Al-Mawasi, tempat berkumpulnya kamp-kamp pengungsian terbesar.
Jika tren pembangunan terus berlanjut, tanggul ini akan menyatu dengan segmen terpanjang yang sudah membentang hampir tanpa jeda sepanjang 17 kilometer. Jalur tersebut dimulai dari Khan Younis di selatan hingga mendekati Kota Gaza di utara. Berdasarkan analisis citra satelit, pekerjaan di ruas utama dimulai sejak bulan Februari dan masih terus diperluas.
Antara 21 Juni hingga 7 Juli, panjang penghalang bertambah lebih dari satu kilometer di sekitar pangkalan militer yang didirikan di atas reruntuhan Kota Bani Suheila, dekat Khan Younis. Sementara itu, di bagian utara Gaza, beberapa segmen tambahan terlihat tersebar di sekitar Beit Lahia yang sebagian besar telah rata dengan tanah.
Kondisi Warga dan Wilayah
Ketinggian tanggul belum dapat dipastikan secara akurat. Di beberapa titik, posisi penghalang bahkan tampak berada di luar garis kuning yang telah disepakati sebelumnya. Menurut AP, Israel kini telah menghancurkan dan mengosongkan sebagian besar wilayah Gaza yang berada di bawah kendalinya.
Kebanyakan warga Palestina saat ini terkonsentrasi di wilayah pesisir sebelah barat garis kuning. Mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian darurat dengan keterbatasan fasilitas dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan internasional. Di sisi lain garis tersebut, citra satelit memperlihatkan pasukan Israel telah meratakan sebagian besar bangunan menggunakan buldoser dan bahan peledak.
Beberapa kota, termasuk Rafah yang sebelumnya dihuni lebih dari 250.000 orang, hampir seluruhnya hancur. Israel juga membangun jaringan jalan baru dan mendirikan pangkalan militer di bekas kawasan permukiman.
“Penghalang tersebut bertujuan untuk mencegah infiltrasi serta melindungi pasukan Israel dan komunitas Israel yang berada di dekat Gaza,” kata militer Israel.
“`
