Jalan Pembebasan Gen Z
Jalan Pembebasan Gen Z menjadi tema penting saat membaca laporan Kompas.com hari Minggu (26/07/2026). Berita tersebut mengabarkan pengungsian massal puluhan
Jalan Pembebasan Gen Z: Mengatasi Krisis Iklim dan Struktural
Lenterafakta.com – Jalan Pembebasan Gen Z menjadi tema penting saat membaca laporan Kompas.com hari Minggu (26/07/2026). Berita tersebut mengabarkan pengungsian massal puluhan ribu warga di Perancis dan Spanyol pada Jumat (24/07/2026) akibat kebakaran hutan yang melanda kedua negara tersebut. Spanyol bahkan mencatatkan sejarah dengan menyatakan keadaan darurat nasional untuk pertama kalinya karena fenomena ini. Melalui Jalan Pembebasan Gen Z, kita dapat memahami bagaimana generasi muda Indonesia menghadapi tantangan serupa.
Awalnya, hubungan antara peristiwa Eropa dan Gen Z Indonesia tampak tidak jelas. Namun, analisis lebih mendalam mengungkapkan bahwa kejadian di Perancis dan Spanyol merupakan sinyal penting bagi masa depan generasi muda Indonesia. Pertanyaannya bukan apakah Gen Z akan menghadapi situasi serupa yang juga sering terjadi di tanah air, melainkan bagaimana relasi sistemik yang membentuk kehidupan mereka. Jalan Pembebasan Gen Z menawarkan perspektif baru untuk memahami dinamika ini.
Dampak Ekstrem Perubahan Iklim
Kebakaran hutan di Eropa dipicu oleh gelombang panas yang melanda benua tersebut sejak beberapa waktu terakhir. Suhu tercatat melonjak tajam melebihi 40 derajat Celsius, jauh dari kisaran normal musim panas Eropa yang berkisar antara 18 hingga 30 derajat Celsius. Peningkatan suhu ekstrem ini tidak hanya menyebabkan kebakaran, tetapi juga memicu stres, penurunan imunitas tubuh, hingga kematian.
Menurut laporan Kompas.com tanggal 13/07/2026, lonjakan kematian di Eropa mencapai lebih dari 10.000 orang selama gelombang panas yang berlangsung sejak Juni. Fenomena ini mengingatkan kita pada dampak perubahan iklim global yang semakin nyata. Dalam konteks Jalan Pembebasan Gen Z, generasi muda Indonesia perlu bersiap menghadapi ancaman serupa di masa depan.
Di kota saya, Jember, kondisi cuaca juga menunjukkan ketidakstabilan yang mencolok. Suhu pagi hari bisa turun drastis hingga 16 derajat Celsius, padahal biasanya berkisar antara 22-24 derajat Celsius. Musim kemarau tidak selalu berarti kering; hujan lokal masih kerap turun, bahkan saat esai ini saya tulis. Ketidakpastian ini menjadi bagian dari Jalan Pembebasan Gen Z yang harus dihadapi.
Perubahan yang Mengguncang Kehidupan
Ketidakstabilan cuaca ini mengganggu sistem “pranata mangsa” yang selama ini digunakan petani tembakau di Jember dan sekitarnya. Tembakau, yang dikenal sebagai “emas hijau” dan menjadi andalan Jember sejak sebelum Indonesia merdeka, sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Akibatnya, banyak petani yang mulai meninggalkan tanaman ini.
Inilah sebagian kecil fakta perubahan iklim global yang sering luput dari perhatian. Dampaknya bisa dibilang tidak kalah mengerikan dibandingkan perang, meskipun tidak ada Perang Dunia yang terjadi. Albert Camus dalam novel “Sampar” (judul asli “La Peste”, terbit 1947) secara metaforis menggambarkan keputusasaan manusia akibat perang. Membaca karya tersebut, saya membayangkan kengerian serupa akan dihadapi generasi mendatang, bukan karena perang, melainkan perubahan iklim. Jalan Pembebasan Gen Z menuntut respons kolektif terhadap ancaman ini.
Gen Z: Korban yang Tak Terelakkan
Siapa yang akan menjadi korban utama? Tentu saja Gen Z dan generasi berikutnya yang terdampak dan harus menghadapi perubahan ini. Yang menarik adalah ketika masalah global ini dikaitkan dengan kondisi nasional Indonesia. Gen Z mendominasi komposisi penduduk, namun secara struktural mereka berada pada posisi rentan untuk “jatuh terhimpit tangga”. Jalan Pembebasan Gen Z menjadi kunci untuk mengubah posisi rentan ini menjadi kekuatan.
Gen Z Indonesia tidak selalu seindah gambaran yang sering disampaikan para elite nasional. Mereka kerap dipuji sebagai generasi yang akan membawa bonus demografi bagi Indonesia pada tahun 2045. Harapan untuk mewujudkan “Indonesia Emas” satu abad mendatang memang tidak keliru, namun hanya akan menjadi angan-angan jika masalah yang dihadapi Gen Z tidak ditangani secara serius. Jalan Pembebasan Gen Z memerlukan kebijakan yang tidak hanya retorik, tetapi juga substantif.
Negara cenderung enggan membuka tabir gelap masa depan Gen Z untuk merumuskan kebijakan yang tidak meninabobokkan. Para elite dan politikus lebih sering melihat masalah ini dari perspektif elektoral semata. Padahal, Jalan Pembebasan Gen Z seharusnya menjadi agenda nasional yang prioritas.
Akar Historis Kegelisahan Gen Z
Dalam konteks ini, saya sependapat dengan temuan Airlangga Pribadi Kusman dan Rocky Gerung. Melalui buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z” yang terbit pada Juni 2026, kedua cendekiawan ini menyoroti posisi rentan Gen Z Indonesia. Mereka menemukan bahwa Gen Z kita umumnya merasa marah, sementara negara cenderung mendangkalkan masalah-masalah yang dihadapi generasi muda. Jalan Pembebasan Gen Z dimulai dari pengakuan terhadap kegelisahan ini.
Airlangga dan Rocky mengidentifikasi akar kegelisahan, kegusaran, dan kemarahan Gen Z lebih dari satu abad lalu. Saat itu, Soekarno membaca bahwa kaum tani yang dipersonifikasikan dalam sosok Kang Marhaen juga sedang gelisah dan marah, bahkan melahirkan pemberontakan kaum tani pada akhir abad ke-19.
Gen Z memang hidup di zaman yang berbeda dengan Kang Marhaen. Jika Kang Marhaen memiliki cangkul dan tanah sebagai alat produksi, Gen Z memiliki gawai dan jaringan internet. Namun, perbedaan zaman dan alat produksi tidak menghilangkan sistem eksploitasi yang membuat mereka terasing dari pekerjaannya dan terbelenggu kemerdekaannya. Jalan Pembebasan Gen Z adalah tentang membebaskan generasi muda dari belenggu-struktural tersebut.
“Jalan Pembebasan Gen Z bukan hanya tentang menghadapi perubahan iklim, tetapi juga tentang mengubah relasi kekuasaan yang selama ini meminggirkan generasi muda.” – Airlangga Pribadi Kusman & Rocky Gerung, 2026
