Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Key Discussion: 5 Pola Asuh Ini Sebabkan Anak Jadi Penyiksa Pasangan Saat Dewasa

Mary Smith - lenterafakta.com 3 mins read

Kekerasan Pasangan di Masa Dewasa Key Discussion - Dalam dunia pendidikan anak, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua memiliki dampak besar terhadap

Key Discussion: 5 Pola Asuh Ini Sebabkan Anak Jadi Penyiksa Pasangan Saat Dewasa

Key Discussion: 5 Pola Asuh yang Menjadi Akar Kekerasan Pasangan di Masa Dewasa

Key Discussion – Dalam dunia pendidikan anak, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional dan perilaku sosial anak. Psikolog Danti Wulan Manunggal menegaskan bahwa lima bentuk pengasuhan tertentu berpotensi membentuk individu yang cenderung melakukan kekerasan terhadap pasangan saat dewasa. Faktor ini bisa memengaruhi cara anak memahami konsep cinta, kontrol, dan hubungan interpersonal, yang pada akhirnya memengaruhi interaksi mereka di masa depan.

Pola Asuh Kepatuhan Mutlak

Pola ini mengutamakan ketaatan anak terhadap aturan tanpa ruang untuk mengekspresikan keinginan sendiri. Orang tua sering kali menerapkan kekuasaan dengan cara yang keras dan tidak fleksibel, sehingga anak belajar bahwa penerimaan dan kebahagiaan tergantung pada kepatuhan. Key Discussion menyebutkan bahwa pengalaman ini bisa mengarahkan anak menjadi pribadi yang menganggap dominasi sebagai bentuk penghargaan, yang pada masa dewasa mungkin mereka terapkan dalam hubungan dengan pasangan.

“Anak yang dibesarkan dalam pola ini menganggap kekerasan sebagai cara efektif untuk memenuhi keinginan, karena mereka tidak pernah belajar bahwa perasaan dan keinginan bisa dinyatakan secara lembut,” jelas Danti kepada Kompas.com, Jumat (26/6/2026).

Keluarga yang Terlalu Melindungi

Orang tua yang selalu melindungi anak dari rasa sakit atau kesulitan sering kali menciptakan ketergantungan emosional yang berlebihan. Key Discussion menyoroti bahwa pola ini bisa membuat anak tidak memiliki pengalaman menghadapi konflik secara langsung, sehingga mereka meniru cara orang tua mengatasi masalah dengan memaksa pasangan memenuhi keinginan mereka. Anak-anak yang terbiasa dibela dari segala bentuk penolakan mungkin memandang hubungan yang tidak saling menghargai sebagai sesuatu yang wajar.

“Ketidakmampuan anak menghadapi kesulitan secara mandiri membuat mereka merasa pasangan harus selalu mendukung dan memenuhi kebutuhan mereka, tanpa pertimbangan keseimbangan dalam hubungan,” tambah Danti.

Keterlibatan Emosional yang Tidak Konsisten

Pola asuh yang terjadi ketika orang tua hanya memenuhi kebutuhan fisik anak namun kurang memberikan dukungan emosional bisa memicu ketidakstabilan psikologis. Key Discussion mengungkapkan bahwa anak-anak yang terbiasa merasa diabaikan atau tidak dicintai akan mengembangkan cara bertindak yang memaksa pasangan untuk memenuhi rasa aman. Mereka mungkin menganggap perhatian dan cinta sebagai sesuatu yang bisa dikontrol, bukan diberikan secara alami.

“Ketidakstabilan emosional dari orang tua menjadi sumber ketidakamanan bagi anak, yang kemudian mereka bawa ke dalam hubungan intim,” imbuh Danti.

Kondisi Hypervigilance di Rumah

Orang tua yang terus-menerus menciptakan suasana tegang atau menekankan pentingnya kehati-hatian dalam interaksi bisa membentuk anak yang hiperwaspadah. Key Discussion menegaskan bahwa anak-anak yang terbiasa mengamati emosi orang lain untuk memastikan keberhasilan akan mengembangkan kebiasaan mengendalikan perasaan pasangan melalui manipulasi. Ini bisa menjadi alat untuk mengurangi rasa takut atau ketidakpastian yang mereka alami sejak kecil.

“Anak yang terbiasa hidup dalam kondisi hypervigilance akan memperkirakan setiap tindakan pasangan sebagai ancaman, sehingga mereka menggunakan cara yang paling efektif—terkadang dengan kekerasan—untuk mencapai kestabilan,” kata Danti.

Pola Asuh yang Mengamati Kekerasan

Berdasarkan Teori Pembelajaran Sosial, anak-anak yang sering menyaksikan atau menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga cenderung meniru perilaku tersebut. Key Discussion menjelaskan bahwa kekerasan dianggap sebagai bentuk komunikasi yang sah, dan anak-anak bisa menganggap ini sebagai cara valid untuk menyelesaikan konflik. Pola ini tidak hanya memengaruhi cara mereka bersikap kepada pasangan, tetapi juga mengubah struktur kekuasaan dalam hubungan.

“Kekerasan dalam keluarga menjadi pelajaran awal tentang cara mengendalikan emosi dan kekuasaan, yang bisa berkembang menjadi pola dalam interaksi sosial mereka di masa dewasa,” tambah Danti.

Key Discussion menegaskan bahwa pengasuhan yang baik membutuhkan keseimbangan antara batasan dan kebebasan. Orang tua yang mampu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional anak akan mengurangi risiko kekerasan dalam hubungan pasangan di masa depan. Pola asuh yang mendorong komunikasi terbuka, empati, dan pengakuan terhadap perasaan orang lain menjadi kunci untuk membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Dengan memahami dampak dari setiap pola asuh, orang tua bisa memperbaiki cara mendidik anak sejak dini.

Join the discussion