Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Key Issue: 5 Bantahan Hotman Paris Soal Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Robert Anderson - lenterafakta.com 3 mins read

Key Issue: 5 Bantahan Hotman Paris Soal Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah Key Issue - Kasus dugaan korupsi yang menimpa Febrie Adriansyah, mantan Jaksa

Key Issue: 5 Bantahan Hotman Paris Soal Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Key Issue: 5 Bantahan Hotman Paris Soal Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah

Key Issue – Kasus dugaan korupsi yang menimpa Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), menjadi isu utama dalam pemeriksaan di Kejaksaan Agung pada Jumat (17/7/2026). Febrie diperiksa tanpa status penahanan, dengan durasi wawancara mencapai 18 pertanyaan. Melalui kuasa hukumnya, Hotman Paris, ia membantah segala tuduhan yang dibawa kepadanya. Hotman menilai pernyataan penyidik terkait kasus ini tidak memiliki dasar yang jelas dan berpotensi menyesatkan.

Bantahan Soal Aset dan Tindakan Penyidik

Hotman Paris membantah tegas klaim bahwa Febrie terlibat dalam pengelolaan aset mewah seperti rumah di Sentul, Cafe De Clan, dan kasus blackout. Menurutnya, semua bukti yang disajikan penyidik tidak relevan. “Tuduhan tentang aset mewah dan blackout terasa seperti lelucon,” ujar Hotman, seperti dilansir dari tayangan Kompas TV. Ia menekankan bahwa Kasus PT Asabri sudah dimulai sebelum Febrie menjabat sebagai Jampidsus, sejak Agustus 2021. Sementara itu, Febrie baru menempati posisi tersebut pada 22 Januari 2022. Hotman menilai perlu adanya penjelasan lebih lanjut mengenai kenapa Tan Kian, nama yang disebut dalam pemeriksaan, belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Kenapa si Tan Kian sampai sekarang belum jadi tersangka? Mengapa langsung loncat kepada penerima suap? Ada keanehan,” tambah Hotman, yang juga menjadi isu utama dalam penyelidikan ini.

Hotman mengkritik cara penyidik menetapkan tersangka tanpa mempertimbangkan urutan kronologis peristiwa. Ia menilai ini bisa mengakibatkan kesalahan interpretasi dalam memahami peran Febrie dalam kasus PT Asabri. Selain itu, Hotman menyoroti bahwa pemeriksaan perdana Febrie berlangsung sejak pagi hari hingga sore, fokus pada aspek terkait PT Asabri. Dua isu lain, yaitu dugaan korupsi batu bara dan kasus lain, belum dibahas secara mendalam dalam pemeriksaan kali ini.

Asal Usul Rumah Sentul dan Cafe De Clan

Rumah di Sentul yang digeledah sebagai bagian dari penyelidikan, menurut Hotman, bukan milik Febrie. Aset tersebut, jelasnya, telah dihibahkan ke cucu dari mertuanya sejak 2022. “Secara sertifikat, rumah itu tidak berada di bawah nama Febrie,” terang Hotman. Selain itu, Cafe De Clan, yang sempat dikaitkan dengan kasus ini, dikelola bersama Febrie sebelum bangkrut. Setelah itu, Don Ritto, advokat yang terlibat dalam kasus korupsi dan pencucian uang, mengambil alih sepenuhnya.

Isu utama lainnya adalah tentang hubungan Febrie dengan proyek pelabuhan di Kalimantan. Hotman menyebut uang Rp 60 miliar yang diterimanya berasal dari kerja sama dengan pengusaha. Ia menegaskan bahwa uang tersebut tidak langsung terkait dengan kerugian negara. Selain itu, Hotman juga mengingatkan bahwa perusahaan dalam kasus blackout tidak menjadi pemasok batu bara di Sumatera Utara, melainkan Bali dan Suralaya.

Analisis Kerugian Negara dan Proses Hukum

Kuasa hukum Febrie mempertanyakan dasar perhitungan kerugian negara yang disebut mencapai Rp 5 triliun dalam kasus ini. “Kerugian negara harus disertai bukti yang solid, bukan hanya dugaan,” jelas Hotman. Ia menilai bahwa nilai kerugian negara terlalu besar dan perlu dibuktikan melalui data konkret. Selain itu, Hotman menyoroti bahwa pemeriksaan saat ini tidak melibatkan pihak-pihak lain yang terkait langsung dengan kasus ini.

Isu utama lainnya adalah tentang status tersangka. Hotman berharap penyidik menyediakan alasan yang jelas mengapa Febrie ditetapkan sebagai tersangka, terutama dalam kasus dugaan korupsi PT Asabri. Ia menilai bahwa ada kelemahan dalam penggunaan istilah “terlibat” tanpa bukti yang jelas. “Ini perlu diselidiki lebih dalam agar tidak ada kesalahan penafsiran,” tegas Hotman. Dengan bantahan-bantahan ini, Hotman Paris berupaya menjaga kredibilitas nama kliennya dalam kasus yang masih dalam penyelidikan.

Kasus dugaan korupsi yang menimpa Febrie Adriansyah, sejauh ini, masih menjadi isu utama dalam lingkaran hukum dan media. Dengan peran Hotman Paris sebagai pengacara, berbagai aspek dari penyelidikan ini terus diperjelas, termasuk hubungan antara aset, proyek, dan kerugian negara. Penyidik, di sisi lain, tetap mempertahankan alasan-alasan yang mereka ajukan, meski pihak Febrie terus mengungkit perbedaan waktu dan peran dalam proyek tersebut.

Join the discussion