Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Key Strategy: Hubungan AS-Israel Memanas, JD Vance Minta Israel Patuhi Perjanjian Damai Trump-Iran

Mary Taylor - lenterafakta.com 3 mins read

erukan Patuh pada Perjanjian Damai Trump-Iran Key Strategy menjadi strategi utama dalam upaya AS untuk mengembalikan kepercayaan diplomatik dengan Israel

Key Strategy: Hubungan AS-Israel Memanas, JD Vance Minta Israel Patuhi Perjanjian Damai Trump-Iran

Key Strategy: AS-Israel Memanas, JD Vance Serukan Patuh pada Perjanjian Damai Trump-Iran

Key Strategy menjadi strategi utama dalam upaya AS untuk mengembalikan kepercayaan diplomatik dengan Israel, meski hubungan keduanya kini terlihat memanas. Dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis (18/6/2026), Wakil Presiden AS J.D. Vance memberikan pernyataan tegas kepada pemerintah Israel, menegaskan bahwa negara itu harus segera menyetujui perjanjian damai (MoU) yang diperkenalkan mantan presiden Donald Trump kepada Iran. MoU ini dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat stabilitas regional dan mencegah konflik lebih lanjut.

Memperkuat Kerangka Perjanjian

Ketegangan antara AS dan Israel mencapai puncaknya setelah keduanya meluncurkan serangan bersama terhadap Iran hampir empat bulan lalu. Vance menekankan bahwa Israel perlu memperhatikan peran strategisnya dalam situasi geopolitik saat ini. Ia menyoroti bahwa hubungan AS-Israel, yang selama ini menjadi pilar utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat, kini terancam oleh keputusan Israel yang dianggap tidak kooperatif. Key Strategy ini bertujuan memastikan Israel memahami bahwa keberhasilan MoU akan membawa manfaat besar bagi keduanya.

“Jika saya menjadi anggota kabinet Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih ada di seluruh dunia,” kata Vance. Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran Vance bahwa tindakan Israel dalam menantang MoU bisa mengganggu kepentingan strategis AS.

MoU antara AS dan Iran menetapkan beberapa komitmen penting, termasuk Israel harus menghentikan serangan rudal ke Lebanon Selatan. Sebagai imbalan, Iran akan mendapatkan pemulihan ekonomi melalui pencabutan sanksi minyak mentah, serta menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini juga mencakup janji Iran untuk tidak memproduksi senjata nuklir. Vance menegaskan bahwa MoU ini akan menjadi fondasi untuk negosiasi 60 hari yang diharapkan bisa mengalirkan dana rehabilitasi sebesar 300 miliar dollar AS untuk Iran.

Reaksi dari Pihak Israel

Sejumlah media Israel menyuarakan ketidakpuasan terhadap peran Trump dan para utusan khususnya, Steve Witkoff serta Jared Kushner. Mereka dianggap sebagai pihak yang “menjual” kepentingan Israel demi keuntungan finansial. Vance memberikan respons defensif, menegaskan bahwa dua pertiga senjata pertahanan Israel didanai langsung oleh rakyat Amerika. Key Strategy ini juga menyoroti bahwa Israel tetap bergantung pada dukungan AS, meski telah memutus hubungan dengan sejumlah negara lain.

Kritik terhadap MoU terus meningkat, terutama dari para pejabat Israel yang merasa kurang puas dengan beberapa poin dalam perjanjian. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan pernyataan resmi sejak penandatanganan MoU, namun laporan dari Axios menyebutkan bahwa pihak Israel mengungkapkan “keprihatinan mendalam”. Seorang penasihat Netanyahu menegaskan bahwa negara itu tidak menganggap dirinya terikat pada poin kesepakatan yang menyangkut wilayah Lebanon.

“Pesan kami kepada warga Israel, sama seperti pesan kami kepada semua pihak, adalah kami ingin proses perdamaian ini memberi dampak positif bagimu,” kata Vance. “Kami tidak ingin Hizbullah menyerang Israel, tetapi untuk memastikannya terjadi, kita perlu membangun kerangka kerja regional yang bisa memutus dukungan Iran dan menghormati kedaulatan Lebanon.”

Di sisi lain, Vance menyoroti bahwa operasi serangan mematikan di Beirut, Lebanon, yang diluncurkan Israel, telah menyebabkan banyak korban sipil. Ia berpendapat bahwa tindakan tersebut berpotensi mengganggu kesepakatan besar yang sedang dibahas. Key Strategy ini menekankan bahwa keberhasilan MoU akan bergantung pada kemampuan AS untuk memastikan Israel menghormati prinsip-prinsip perdamaian yang ditetapkan.

Perjanjian Trump-Iran juga menghadapi kritik dari dalam Partai Republik AS. Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker dari Mississippi, menyayangkan keputusan MoU ini karena dianggap tidak sejalan dengan tujuan Presiden. “Saya khawatir perjanjian ini menegosiasikan kembali kemenangan Operation Epic Fury dengan cara yang jauh dari harapan,” ujarnya. Senator Bill Cassidy dari Louisiana juga menyoroti bahwa MoU ini dianggap sebagai “blunder kebijakan terburuk dalam satu dekade”, dengan jumlah dana yang dialokasikan untuk Iran membuat kesepakatan era Obama terlihat kecil.

Join the discussion