Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Key Strategy: Rumah Jengki Disebut Lebih Adem Dibanding Rumah Belanda, Ternyata Ini Rahasianya

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

Rumah Jengki Disebut Lebih Adem Dibanding Rumah Belanda, Ternyata Ini Rahasianya Key Strategy - Gaya arsitektur rumah Jengki kini menjadi perbincangan hangat

Key Strategy: Rumah Jengki Disebut Lebih Adem Dibanding Rumah Belanda, Ternyata Ini Rahasianya

Rumah Jengki Disebut Lebih Adem Dibanding Rumah Belanda, Ternyata Ini Rahasianya

Key Strategy – Gaya arsitektur rumah Jengki kini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Seorang pengguna Twitter @it****3 memicu diskusi saat menilai bahwa bentuk rumah ini lebih sejuk dan nyaman dibandingkan arsitektur kolonial Belanda. Pernyataannya menanggapi ulasan yang sebelumnya memuji desain rumah Hindia Belanda. “Sama, aku juga naksir pol sama rumah Jengki, kayak adem dan lebih homie dibanding rumah Belanda yang aku juga taksir,” tulis dia. Key Strategy ini memperlihatkan bagaimana wacana tentang kenyamanan ruang bisa memengaruhi persepsi masyarakat terhadap gaya bangunan.

Sejarah dan Perbedaan Desain Rumah Jengki

Menurut Dosen Arsitektur Universitas Indonesia, Mohammad Nanda Widyarta, rumah Jengki merupakan konsep arsitektur yang muncul setelah Indonesia merdeka pada 1945. Awalnya, contoh rumah ini terdapat di Jalan Martimbang, Kebayoran Baru, yang dipercayakan kepada Bataafse Petroleum Maatschappij, anak perusahaan Shell. Key Strategy dalam pengembangan rumah Jengki mencerminkan adaptasi budaya dan teknologi lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pasca-kemerdekaan.

“Rumah Jengki pertama kali muncul di Jalan Martimbang, Kebayoran Baru. Konsep ini dihasilkan dari kebutuhan untuk menciptakan ruang yang lebih terbuka dan sejuk dibanding bangunan kolonial Belanda,” jelas Nanda kepada Kompas.com, Jumat (19/6/2026).

Konstruksi rumah Jengki menonjolkan elemen yang berbentuk miring, berbeda dari rumah kolonial yang cenderung memakai bentuk lurus dan tegas. Key Strategy ini didasarkan pada keinginan Gerardus Boom untuk memastikan talang bisa terlihat rapi dan fungsional. Struktur atap miring ini tidak hanya estetik, tetapi juga berperan dalam meningkatkan sirkulasi udara, yang membantu mengurangi panas di dalam ruangan.

Keunggulan Teknologi dan Material

Salah satu faktor utama mengapa rumah Jengki terasa lebih sejuk adalah lebar teritisnya. Key Strategy dalam desain ini memungkinkan udara dingin masuk dan mengalir leluasa, sementara udara panas terperangkap di luar. “Saat melewati ruang berbayang di bawah teritisan itu, udara mengalami penurunan suhu,” tambah Nanda. Dengan Key Strategy yang disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia, rumah ini dirancang untuk meminimalkan penggunaan AC dan menjaga kenyamanan berkelanjutan.

“Rumah Jengki sering dilengkapi dengan lubang roster yang meningkatkan sirkulasi udara. Perlubangan-perlubangan ini membuat ventilasi silangnya kuat, rosternya juga mungkin sebagian bisa diatur untuk penghawaan lebih baik,” kata Ikaputra, Guru Besar Teknik Arsitektur UGM.

Key Strategy dalam pemanfaatan material juga menjadi faktor penting. Dinding rumah Jengki biasanya menggunakan batu alam berwarna hitam atau kerikil kecil, yang memberikan efek pendinginan alami. Selain itu, lantai yang digunakan umumnya terbuat dari ubin abu-abu dengan pori-pori terbuka, yang lebih efektif menyerap panas dibanding keramik. Key Strategy ini menunjukkan bagaimana penggunaan bahan lokal bisa menjadi solusi inovatif untuk kenyamanan rumah.

Menurut Nanda, Key Strategy dalam arsitektur Jengki mencerminkan upaya menggabungkan keunikan budaya Indonesia dengan prinsip desain yang praktis. “Talang miring ini tidak hanya estetik, tetapi juga berperan dalam mengurangi panas yang terperangkap di dalam ruangan,” imbuhnya. Dengan Key Strategy yang terus berkembang, rumah Jengki kini tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga inspirasi bagi konsep hunian modern yang ramah lingkungan.

Key Strategy dalam pemahaman masyarakat tentang rumah Jengki terus berkembang seiring waktu. Istilah “jengki” yang awalnya merujuk pada bentuk bangunan khas, kini juga menggambarkan kenyamanan dan fungsionalitas yang tercipta dari desain lokal. “Di Indonesia masa 1950-an, yang disebut ‘jengki’ bukan hanya rumah, tetapi juga barang-barang modern,” tambah Nanda. Key Strategy ini menunjukkan bagaimana gaya arsitektur bisa berkembang menjadi bagian dari identitas budaya yang dinamis.

Key Strategy dalam membandingkan rumah Jengki dan Belanda juga mencakup aspek fungsional. Meskipun rumah Belanda dikenal dengan kekuatan struktur dan keanggunan, rumah Jengki lebih unggul dalam kenyamanan sejuk dan adaptasi lingkungan. Key Strategy ini memperlihatkan bagaimana desain yang sederhana bisa menghasilkan pengalaman hidup yang lebih optimal. Dengan Key Strategy yang terus diterapkan, rumah Jengki tetap relevan dalam era modern sebagai contoh arsitektur yang berakar pada kebutuhan masyarakat.

Join the discussion