Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Kok Bisa Ada Orang Hidup 100 Tahun meski Merokok dan Hobi Makan Es Krim? Ini Penjelasan Sains

Mary Smith - lenterafakta.com 3 mins read

Fenomena ini memang menarik perhatian banyak orang. Di tengah berbagai anjuran medis, ada individu yang mencapai usia seratus tahun dengan kebiasaan yang

Kok Bisa Ada Orang Hidup 100 Tahun meski Merokok dan Hobi Makan Es Krim? Ini Penjelasan Sains

Orang Tua 100 Tahun: Rahasia Genetik dan Gaya Hidup

Lenterafakta.com – Fenomena ini memang menarik perhatian banyak orang. Di tengah berbagai anjuran medis, ada individu yang mencapai usia seratus tahun dengan kebiasaan yang justru berlawanan. Mereka merokok, minum bir, makan es krim, dan mengonsumsi soda tanpa khawatir. Penelitian terbaru memberikan penjelasan ilmiah tentang hal ini.

Umur panjang ternyata bergantung pada keseimbangan dua elemen utama: genetik dan lingkungan. Masing-masing menyumbang porsi sebesar lima puluh persen. Kontribusi faktor genetik ini lebih besar dari yang dilaporkan dalam riset-riset sebelumnya. Namun, hal ini tidak berarti masa hidup seseorang ditentukan secara kaku oleh DNA. Bagi kebanyakan orang, menerapkan pola hidup sehat melalui diet seimbang, aktivitas fisik teratur, dan tidur yang cukup tetap menjadi strategi paling ampuh.

Peran Genetik yang Lebih Besar

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science dan dipimpin oleh tim peneliti dari Weizmann Institute of Science di Israel ini telah menarik perhatian luas. Penelitian tersebut membuktikan bahwa genetik memegang kendali lebih besar dalam menentukan umur panjang dibandingkan perkiraan sebelumnya. Temuan ini menentang narasi yang berkembang pada tahun 2018, yang menyatakan bahwa gen hanya berkontribusi sekitar tujuh persen terhadap umur seseorang. Beberapa studi lain sebelumnya menempatkan angka kontribusi genetik pada kisaran dua puluh persen.

Riset terbaru dari Weizmann Institute menggabungkan berbagai kumpulan data dan menerapkan model matematika untuk memfilter kematian yang disebabkan oleh faktor eksternal seperti kecelakaan, penyakit menular, atau penyebab lain yang tidak terkait dengan genetik. Faktor-faktor eksternal ini memang sangat dominan pada abad-abad sebelumnya, ketika angka kematian dini sangat tinggi sehingga rata-rata harapan hidup berada di bawah lima puluh tahun.

Keseimbangan yang Berubah Seiring Usia

Satu konsep penting yang perlu dipahami adalah bahwa proporsi antara faktor genetik dan lingkungan berubah seiring bertambahnya usia seseorang. Thomas Perls, seorang dokter geriatri dari Boston University Medical Center dan pendiri New England Centenarian Study, memberikan penjelasan mengenai hal ini.

“Sangat penting untuk membedakan antara apa yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai usia awal 80-an, dibandingkan dengan mencapai usia sekitar 100 tahun, atau bahkan usia yang lebih tua seperti 105 hingga 110 tahun,” kata Thomas Perls.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh kelompok risetnya, Perls memperkirakan bahwa peluang seseorang untuk hidup hingga pertengahan usia 80 tahun ditentukan oleh dua puluh lima persen faktor genetik dan tujuh puluh lima persen faktor lingkungan serta kebiasaan hidup. Namun, ketika seseorang memasuki tahap penuaan ekstrem, peran tersebut berbalik. Peluang mencapai usia seratus tahun memiliki tingkat heritabilitas sebesar enam puluh dua persen. Sementara itu, peluang untuk bertahan hidup hingga usia yang lebih tua lagi tingkat keterwarisannya mendekati delapan puluh persen.

Gen Anti-Penuaan dan Kebiasaan Buruk

Nir Barzilai, Direktur Institute for Aging Research di Albert Einstein College of Medicine, menyampaikan pandangan yang senada. Ia sepakat bahwa besarnya peran gen pada lansia berusia ekstrem tidak lantas menghilangkan manfaat dari olahraga, tidur cukup, dan pola makan sehat. Menurutnya, setiap orang tetap harus mengoptimalkan gaya hidup tersebut. Meski begitu, Barzilai mengakui ada segelintir orang beruntung yang kebiasaan buruknya sekalipun gagal memotong usia mereka.

Menurut Japan Times (10/3/2026), gen anti-penuaan bekerja memperlambat proses penuaan alami, sehingga membuat mereka kurang rentan terhadap penyakit mematikan terkait usia, seperti penyakit jantung, Alzheimer, dan kanker, meskipun mereka mengabaikan saran dokter.

Melalui studinya pada tahun 2011 terhadap 477 orang berusia antara 96 hingga 109 tahun, Barzilai dan timnya di Yeshiva University menemukan kenyataan menarik. Para lansia berusia ekstrem ini ternyata memiliki pola perilaku yang justru sedikit lebih buruk dibandingkan kelompok kontrol. Sekitar lima puluh persen dari mereka memiliki riwayat merokok, hampir separuhnya mengalami kelebihan berat badan, dan banyak yang tidak terlalu memperhatikan pola makan sehat. Namun, kombinasi gen langka yang mereka miliki memungkinkan mereka tetap bertahan hidup lebih lama meskipun mengabaikan banyak nasihat medis.

Join the discussion