Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Latest Program: AI Sudah Masuk ke Newsroom, Apakah Akan Menggantikan Jurnalis? Ini Kata Pakar

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

Latest Program: AI di Newsroom, Ancaman atau Alat Bantu? Pakar Beri Penjelasan Perkembangan AI dalam Pemberitaan Modern Latest Program – Kecerdasan buatan

Latest Program: AI Sudah Masuk ke Newsroom, Apakah Akan Menggantikan Jurnalis? Ini Kata Pakar

Latest Program: AI di Newsroom, Ancaman atau Alat Bantu? Pakar Beri Penjelasan

Perkembangan AI dalam Pemberitaan Modern

Latest Program – Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian integral dari industri media, mengubah cara pengumpulan, pengeditan, dan penerbitan berita. Teknologi ini mampu meniru kemampuan manusia seperti belajar, memproses data, menganalisis informasi, serta menghasilkan konten secara otomatis. Meski ada kekhawatiran bahwa AI bisa menggantikan peran jurnalis, para pakar menilai bahwa perubahan ini lebih mengarah pada transformasi kerja daripada penghapusan profesi.

Transformasi dalam Proses Produksi Berita

Dalam pelatihan Journalism Fellowship on CSR Batch III 2026, Merdi Sofansyah dari Media AI & Practitioner tvOne AI menjelaskan bahwa AI telah merambah ke ruang redaksi. “Sebelumnya, membuat laporan berita membutuhkan banyak tim, seperti pembawa acara, produser, editor, hingga desainer grafis,” katanya. “Tapi kini, sebagian tugas tersebut bisa dikerjakan oleh lebih sedikit orang dengan bantuan AI, mempercepat efisiensi namun mengubah dinamika kerja.”

“AI tidak akan menggantikan jurnalis yang serius belajar. Namun, mereka yang menolak mengikuti perkembangan teknologi bisa tertinggal,” ujarnya.

Kecerdasan buatan diterapkan dalam berbagai tugas seperti pengambilan data, penulisan teks, atau desain visual. Namun, Merdi menekankan bahwa manusia tetap memiliki peran kunci, terutama dalam menginterpretasikan konten dan memastikan keakuratan informasi. “Dengan kemampuan beradaptasi, jurnalis bisa menjadikan AI sebagai asisten, bukan pengganti,” tambahnya.

Regulasi untuk Menjaga Integritas Pemberitaan

Latest Program – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang penggunaan AI dalam industri media. “Perpresnya masih menunggu penandatanganan, saat ini sedang diurus oleh Kementerian Hukum,” kata Meutya, dikutip dari Kompas.com, Minggu (8/2/2026).

“Kami telah siapkan draft peraturan mengenai pelabelan karya yang menggunakan AI. Ini untuk menjaga transparansi dan akurasi informasi,” ujarnya.

Regulasi ini bertujuan mengatur pemanfaatan teknologi agar tidak mengurangi kualitas pemberitaan. Meutya menegaskan bahwa ruang redaksi harus tetap fokus pada integritas dan profesionalisme, dengan AI sebagai alat pendukung. “Perpres ini akan menjadi kerangka untuk mengintegrasikan AI secara bertanggung jawab dan menciptakan inovasi,” tambahnya.

Kontribusi AI dalam Meningkatkan Efisiensi

Latest Program – AI tidak hanya mengubah proses kerja jurnalis, tapi juga mempercepat produksi berita. Dengan kemampuan mengolah data secara real-time, mesin bisa menghasilkan konten dalam waktu singkat. Contohnya, alat AI seperti chatbot atau sistem otomatis bisa mengumpulkan informasi atau menulis artikel dasar, membebaskan jurnalis untuk fokus pada analisis dan kritik yang lebih mendalam.

Merdi menjelaskan bahwa mesin AI bisa mempercepat tugas yang bersifat repetitif, seperti penyiapan siaran atau pengeditan konten. Namun, ia menekankan bahwa kreativitas dan keterampilan manusia tetap tidak tergantikan. “AI hanya mempercepat proses, tapi jurnalis tetap perlu menguasai teknologi ini agar tetap relevan di era digital,” katanya.

Perspektif Global: Teknologi dan Perubahan Profesional

Latest Program – CEO Netflix Ted Sarandos juga memberikan perspektif internasional tentang peran AI di industri media. “AI tidak akan langsung mengambil alih pekerjaan manusia, melainkan individu yang mampu menguasai teknologi ini yang akan melakukannya,” kata Sarandos, seperti yang diutip dalam diskusi bersama Merdi.

Menurut Sarandos, kemajuan teknologi seperti AI justru memperluas peluang bagi jurnalis untuk fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan khusus, seperti kritik sosial atau analisis politik. “Jurnalis yang proaktif belajar akan memanfaatkan AI sebagai alat, bukan sebagai pesaing,” katanya.

Persiapan untuk Era AI di Redaksi

Latest Program – Untuk memastikan transformasi ini berjalan lancar, para pakar menekankan pentingnya pelatihan dan adaptasi di kalangan jurnalis. Dengan kemampuan AI yang terus berkembang, mereka perlu memperluas pengetahuan teknis dan memahami cara menggabungkan kecerdasan buatan dengan kreativitas manusia.

Persiapan ini juga melibatkan kolaborasi antara lembaga media, pemerintah, dan pendidikan. Meutya Hafid menambahkan bahwa Peraturan Menteri (Permen) terkait AI juga sedang disiapkan untuk memberikan pedoman lebih rinci tentang penggunaan teknologi tersebut. “Regulasi ini akan menjaga keseimbangan antara inovasi dan integritas,” kata Meutya.

Join the discussion