Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Latest Program: AS dan Iran Kembali Saling Serang, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Nancy Moore - lenterafakta.com 3 mins read

AS dan Iran Kembali Saling Serang, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh Latest Program ini memperparah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan

Latest Program: AS dan Iran Kembali Saling Serang, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Latest Program: AS dan Iran Kembali Saling Serang, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Latest Program ini memperparah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan militer AS diluncurkan Jumat (17/7/2026) malam. Operasi tersebut, yang merupakan serangan ke-7 dalam beberapa hari terakhir, terjadi setelah Presiden Donald Trump mengakhiri gencatan senjata sementara dengan Iran. US Central Command (Centcom) menyatakan bahwa serangan menargetkan fasilitas militer Iran, termasuk situs pengawasan dan infrastruktur logistik. Ini adalah salah satu langkah terbaru dalam rangkaian konfrontasi yang semakin intens sepanjang tahun 2026.

Strategi dan Target Serangan AS

Menurut laporan yang dirilis melalui media sosial X, pasukan AS menghabiskan beberapa jam untuk menyerang infrastruktur militer Iran. Serangan ini melibatkan pesawat tempur, drone udara, dan kapal perang, serta peralatan tempur lainnya. Centcom menyebutkan bahwa lokasi yang menjadi sasaran termasuk titik-titik yang mendukung operasi maritim Iran. “Pasukan AS menggunakan pesawat tempur, drone udara, dan kapal perang selain aset lainnya,” tulis Centcom dalam pernyataan resmi.

Sementara itu, Iran langsung memberikan respons serangan dengan menargetkan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah. Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Suriah menjadi sasaran pertama. Namun, AS membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa serangan Iran tidak menyentuh fasilitas militer mereka. Dalam program Latest Program, Iran berupaya memperkuat posisi strategisnya di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman energi global.

Kerusakan di Wilayah Timur Tengah

Setelah serangan AS, wilayah Timur Tengah mengalami gangguan serius. Komando pertahanan udara Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan mereka menerima serangan rudal dan drone dari Iran. Beberapa prajurit dilaporkan cedera, sementara pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air mengalami kerusakan parah. Militer Yordania juga mencatat penangkapan 10 rudal Iran yang masuk ke wilayah udaranya pada malam operasi.

Media pemerintah Iran menyebutkan ledakan di Kota Yazd, Pulau Qeshm, dan Pelabuhan Bandar Abbas. Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, kini nyaris lumpuh akibat serangkaian operasi militer yang dilakukan oleh kedua pihak. Dalam konteks program Latest Program, kerusakan ini menunjukkan dampak signifikan terhadap alur pasokan energi internasional.

“Seperti kebanyakan klaim IRGC, ini salah,” tulis Centcom dalam pernyataan terpisah. “Serangan AS hanya menargetkan fasilitas militer, bukan infrastruktur sipil.”

Kerusakan di Jembatan Gariveh, yang terletak di wilayah Hormozgan, juga menjadi bukti nyata dari konflik terbaru. Pemerintah setempat mengungkapkan bahwa tujuh korban tewas dalam serangan tersebut, sementara BBC Verify dan BBC Persian memverifikasi kebenaran laporan kerusakan di jembatan. Video malam hari menunjukkan bola api muncul di atas struktur jembatan, menandakan intensitas serangan yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Pengaruh Terhadap Kehidupan Politik dan Ekonomi

Ketegangan akibat program Latest Program tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga mengganggu hubungan diplomatik antar-negara. Beberapa negara Timur Tengah, seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, mengkritik langkah AS dan Iran karena memperburuk ketidakstabilan wilayah. “Konflik ini menghambat upaya internasional untuk menegaskan gencatan senjata permanen,” tulis laporan terkini dari organisasi keamanan global.

Dalam konteks ekonomi, gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Fasilitas penting seperti pelabuhan Bandar Abbas dan jembatan Gariveh menjadi pusat perhatian karena penggunaannya dalam pemasokan energi. Program Latest Program menunjukkan bahwa AS dan Iran masih bersikeras dalam pendekatan militer, meski ada upaya mediasi dari negara-negara lain. Situasi ini memperkuat anggapan bahwa konflik kini menjadi bagian dari perang informasi dan kekuasaan global.

Kelompok-kelompok masyarakat sipil di Iran juga menyuarakan kekhawatiran mereka. Mereka menilai serangan AS tidak hanya merusak fasilitas militer, tetapi juga mengancam kesejahteraan penduduk di daerah-daerah dekat Selat Hormuz. Dalam program Latest Program, Iran berusaha memperlihatkan kekuatan militer mereka sebagai respons terhadap kebijakan AS yang dianggap agresif. Sementara AS menegaskan bahwa tindakan mereka bertujuan memperkuat keamanan dan stabilitas wilayah.

Join the discussion