Main Agenda: AI Bisa Bantu Jurnalis, tapi Tak Boleh Mengarang Fakta, Ini Batas Penggunaannya
atasnya Tetap Ada Main Agenda - AI (Artificial Intelligence) semakin menjadi bagian penting dalam proses jurnalistik, termasuk dalam konteks Main Agenda yang
Main Agenda: AI Bantu Jurnalis, Tapi Batasnya Tetap Ada
Main Agenda – AI (Artificial Intelligence) semakin menjadi bagian penting dalam proses jurnalistik, termasuk dalam konteks Main Agenda yang membahas potensi dan batasan teknologi ini. Meski AI bisa mempercepat riset, penulisan, dan distribusi berita, Merdi Sofansyah, anggota Media AI & Practitioner tvOne AI, menegaskan bahwa alat ini hanya sebagai asisten, bukan pengganti manusia. Dalam pelatihan Journalism Fellowship on CSR Batch III 2026, Rabu (17/6/2026), ia menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam redaksi harus tetap diawasi agar tidak melanggar prinsip etika jurnalistik.
AI sebagai Alat Pendukung
Merdi menggarisbawahi bahwa AI memiliki dua fungsi utama: akselerasi dan efisiensi. Dalam konteks Main Agenda, teknologi ini diperkenalkan sebagai alat yang membantu jurnalis, tetapi tidak dapat menggantikan proses pengumpulan fakta dan analisis yang dilakukan manusia. “AI tidak boleh digunakan untuk mengarang fakta yang tidak pernah ada,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jurnalis tetap perlu memastikan keakuratan informasi, terutama dalam membuat kutipan atau menyajikan data korban.
“AI bisa mempercepat proses, tetapi jurnalis tetap bertanggung jawab atas kualitas konten,”
katanya. Contohnya, saat menyusun laporan berdasarkan data, AI bisa membantu mengorganisir informasi, tetapi jurnalis harus memverifikasi sumber dan konteks sebelum mempublikasikan. Dalam Main Agenda, ini dianggap sebagai kunci untuk menjaga integritas media di era digital.
Perkembangan Fase AI
Merdi menjelaskan bahwa AI berkembang melalui tiga fase, yaitu Artificial Narrow Intelligence (ANI), Artificial General Intelligence (AGI), dan Artificial Super Intelligence (ASI). Fase ANI saat ini paling umum digunakan, seperti dalam penerjemahan, analisis data, dan pembuatan teks. Di Main Agenda, fase ini dianggap lebih stabil dan cocok untuk berbagai tugas media. Sementara AGI dan ASI masih dalam tahap eksplorasi, teknologi ini diperkirakan bisa melakukan tugas yang lebih kompleks, bahkan menggantikan manusia dalam keputusan kritis.
Dalam fase ANI, AI mempercepat proses jurnalistik dengan kemampuannya dalam menghasilkan ide, merangkum dokumen, dan memetakan aktor terkait isu. Namun, Merdi mengingatkan bahwa jurnalis harus tetap aktif dalam verifikasi fakta. “AI tidak bisa menggantikan penguasaan bahasa, kemampuan kritis, atau kepekaan terhadap konteks sosial,” tambahnya. Hal ini menjadi fokus utama dalam Main Agenda, yaitu bagaimana AI bisa diterapkan secara bijak dalam industri media.
Manfaat AI dalam Jurnalistik
AI memberikan manfaat signifikan dalam berbagai aspek jurnalistik, terutama dalam Main Agenda yang menyoroti inovasi teknologi. Selama peliputan, alat ini bisa mempercepat pengerjaan laporan, menganalisis data korban, dan menyelesaikan tugas rutin seperti membuat notulen atau rangkuman harian. Dalam proses pengolahan naskah, AI membantu menyusun draf, merancang judul, serta menerjemahkan artikel. Selain itu, AI juga memudahkan verifikasi fakta dengan memeriksa konsistensi data dan mengidentifikasi bias.
Di sisi lain, AI digunakan untuk membuat ilustrasi editorial, infografik, dan mengotomatisasi pengolahan audio-video. Dalam Main Agenda, ini dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalis, tetapi dengan batasan bahwa teknologi ini tidak boleh menghasilkan fakta yang tidak benar. Merdi menekankan bahwa penggunaan AI harus selalu diimbangi dengan proses jurnalistik yang teliti, termasuk pengecekan sumber dan pengambilan keputusan berdasarkan konteks.
Batasan dan Tanggung Jawab Jurnalis
Dalam konteks Main Agenda, jurnalis dituntut untuk menjaga kualitas konten meskipun AI menjadi bantuan. Merdi menyoroti risiko penggunaan teknologi ini tanpa pengawasan, seperti menghasilkan kutipan palsu atau mempercepat penulisan tanpa memverifikasi fakta. “AI bisa mempercepat, tapi jurnalis harus menjadi pilar kebenaran,” katanya. Ia menambahkan bahwa AI harus digunakan sebagai alat untuk memperkuat proses jurnalistik, bukan menggantinya.
Menurut Merdi, batasan penggunaan AI dalam Main Agenda mencakup tiga aspek utama: keakuratan fakta, keterlibatan manusia, dan etika. Jurnalis perlu memastikan bahwa setiap konten yang dihasilkan AI tetap dapat dipertanggungjawabkan, terutama dalam menyajikan berita yang mengandalkan sumber utama. “AI bisa membantu, tetapi jurnalis tetap memiliki tanggung jawab penuh,” ujarnya. Hal ini menjadi dasar untuk menjaga integritas jurnalistik di tengah kemajuan teknologi.
Perkembangan AI yang pesat menurut Merdi akan terus memengaruhi cara kerja newsroom di masa depan. Namun, ia menekankan bahwa Main Agenda menegaskan bahwa AI tidak boleh menggantikan proses pengambilan keputusan yang dilakukan manusia. Jurnalis tetap perlu menjadi pemandu dalam menginterpretasikan data dan memastikan bahwa informasi yang disajikan benar, relevan, dan memberikan nilai bagi pembaca.
