Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Main Agenda: Saat Pemakaman Ali Khamenei, Iran Gelar Pertemuan dengan Rusia, China, hingga Irak

Mary Taylor - lenterafakta.com 4 mins read

Main Agenda: Saat Pemakaman Ali Khamenei, Iran Perkuat Hubungan dengan Rusia, China, dan Negara-Sahabat Lain Main Agenda - Sebagai bagian dari Main Agenda

Main Agenda: Saat Pemakaman Ali Khamenei, Iran Gelar Pertemuan dengan Rusia, China, hingga Irak

Main Agenda: Saat Pemakaman Ali Khamenei, Iran Perkuat Hubungan dengan Rusia, China, dan Negara-Sahabat Lain

Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda yang terus berlangsung, Iran menggelar serangkaian pertemuan diplomatik di Teheran pada Jumat (3/7/2026) selama pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Sejumlah pejabat penting, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, berpartisipasi dalam dialog dengan delegasi Rusia, China, Irak, serta negara lain. Pemakaman Khamenei, yang berlangsung seiring krisis politik dan ekonomi di Iran, menjadi latar belakang strategis untuk memperkuat aliansi kekuatan global. Main Agenda ini menekankan peran Iran dalam menciptakan kestabilan regional dan membangun kemitraan politik yang berkelanjutan.

Strategi Diplomatik dengan Rusia

Pertemuan antara Presiden Pezeshkian dan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menjadi bagian penting dari Main Agenda untuk memperdalam hubungan strategis antara kedua negara. Medvedev, yang hadir sebagai utusan khusus Vladimir Putin, menegaskan dukungan Rusia terhadap Iran dalam menghadapi tekanan internasional. Dalam sesi tersebut, Pezeshkian mengapresiasi peran Rusia sebagai sekutu utama, sementara Medvedev mengkritik serangan terbaru yang dilakukan oleh pasukan AS dan Israel. Main Agenda ini mencerminkan upaya Iran membangun solidaritas dengan kekuatan besar seperti Rusia untuk melindungi kepentingannya di Timur Tengah.

“Serangan itu melanggar hukum internasional dan Piagam PBB,” ujar Medvedev.

Salah satu topik utama yang dibahas adalah Kerja Sama Ekonomi, khususnya proyek Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan. Rusia, yang memiliki hubungan historis dengan Iran, dianggap sebagai mitra kritis dalam mempercepat integrasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada negara-negara Barat. Pertemuan ini juga menjadi wadah untuk mendiskusikan kebijakan luar negeri Iran, termasuk respons terhadap ancaman militer dari negara-negara bersekutu AS.

Penguatan Kemitraan dengan Negara-Sahabat

Dalam rangkaian Main Agenda, Pezeshkian tidak hanya bertemu dengan delegasi Rusia, tetapi juga berdialog dengan para pemimpin dari China, Namibia, Afghanistan, serta Turkmenistan. Pertemuan ini memperkuat komitmen Iran untuk mengembangkan kerja sama bilateral di berbagai sektor, seperti teknologi, energi, dan kebudayaan. Pemimpin Turkmenistan, Gurbanguly Berdimuhamedow, mengungkapkan keinginan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, sementara delegasi Namibia menekankan pentingnya stabilitas politik di kawasan Afrika.

“Kita siap memperkuat hubungan bilateral meski ada campur tangan pihak luar,” ungkap Pezeshkian.

Presiden Irak Nizar Amidi, yang turut hadir, menekankan peran Iran dalam memperkuat stabilitas kawasan. Pemimpin Irak mengapresiasi kontribusi Iran dalam membangun konsensus antar negara Muslim. Sementara itu, delegasi China menyampaikan dukungan atas kebijakan ekonomi Iran, termasuk peluang kerja sama dalam sektor infrastruktur dan perdagangan. Main Agenda ini menunjukkan upaya Iran memperluas jaringan kemitraan global sebagai bagian dari strategi bertahan di tengah tekanan ekonomi dan politik.

Kerja Sama dengan Parlemen dan Negara Kecil

Ketua Parlemen Iran Qalibaf melakukan pertemuan dengan para ketua parlemen dari Kirgistan dan Uzbekistan. Main Agenda ini fokus pada potensi pengembangan ekonomi dan logistik di kawasan Asia Tenggara. Qalibaf menekankan kebutuhan kerja sama internasional untuk meningkatkan efisiensi transportasi dan memperkuat hubungan perdagangan. “Kerja sama ekonomi bisa berkembang lebih cepat jika memorandum Iran-AS menciptakan peluang baru,” kata Qalibaf, menggambarkan bagaimana negara-negara kecil dapat menjadi bagian dari Main Agenda dalam meningkatkan pengaruh Iran.

“Kerja sama ekonomi bisa berkembang lebih cepat jika memorandum Iran-AS menciptakan peluang baru,” kata Qalibaf.

Dalam pertemuan dengan delegasi Namibia, Iran menunjukkan minat untuk bermitra dalam proyek pembangunan jangka panjang, sementara Uzbekistan menawarkan dukungan dalam pengembangan infrastruktur dan keamanan regional. Qalibaf juga meminta para pemimpin parlemen tersebut untuk mempercepat proses integrasi politik dan ekonomi. Main Agenda ini menegaskan bahwa Iran tidak hanya berfokus pada kekuatan besar, tetapi juga mengembangkan hubungan dengan negara-negara yang memiliki kepentingan bersama.

Pertemuan dengan Kepemimpinan Regional

Besides pertemuan dengan parlemen, Pezeshkian juga menjalin dialog dengan Presiden Tajikistan, Georgia, serta pemimpin Daerah Kurdistan. Main Agenda ini membahas beberapa isu penting, termasuk stabilitas regional dan peran Iran dalam membangun konsensus politik. Pemimpin Daerah Kurdistan, Masoud Barzani, menegaskan bahwa wilayahnya akan tetap menjadi mitra kuat Iran, terlepas dari tekanan dari pihak luar. “Kurdistan tetap berdiri di samping Iran,” terang Barzani, menunjukkan solidaritas terhadap Main Agenda yang diusung oleh Iran.

“Kurdistan tetap berdiri di samping Iran,” terang Barzani.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dalam pertemuan dengan pejabat Pakistan dan Namibia, menggali potensi kerja sama dalam bidang keamanan dan ekonomi. Main Agenda ini menekankan kebutuhan Iran untuk meraih dukungan dari negara-negara tetangga dalam menghadapi tekanan dari pihak Barat. Kedua pertemuan ini menjadi bagian dari upaya Iran membangun kepercayaan dan meningkatkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara. Semua diskusi mencerminkan strategi Iran untuk memperkuat posisi politik dan ekonomi di tengah situasi global yang kompleks.

Join the discussion