Main Agenda: Sekolahnya Sudah Hancur, Pelajar di Gaza Tempuh 1 Jam Jalan Kaki buat Ujian
Berjalan Kaki 1 Jam untuk Ujian Main Agenda menjadi isu utama dalam perjalanan pendidikan pelajar di Gaza yang terus-menerus menghadapi tantangan setelah
Main Agenda: Pelajar Gaza Berjalan Kaki 1 Jam untuk Ujian
Main Agenda menjadi isu utama dalam perjalanan pendidikan pelajar di Gaza yang terus-menerus menghadapi tantangan setelah serangan militer menghancurkan banyak sekolah. Dalam kondisi yang sulit, murid-murid harus beradaptasi dengan berbagai cara untuk mengikuti ujian. Dana Shabat, seorang pelajar SMA, menjalani ujian tawjihi dari tenda darurat tempat ia tinggal, dengan jarak tempuh kaki sekitar satu jam ke kafe yang digunakan sebagai tempat belajar. Meski memiliki nilai di atas 99 persen, Dana menyadari bahwa situasi ini menuntut keberanian dan tekad luar biasa.
Pelajaran di Tengah Kekacauan Perang
Setelah lebih dari dua tahun setengah perang Israel menghancurkan infrastruktur pendidikan Gaza, keadaan sekolah terus memburuk. Banyak bangunan sekolah rusak parah atau dialihfungsikan sebagai tempat penampungan pengungsi. Dana, yang tinggal di kamp Deir el-Balah, harus berangkat ke kafe di pagi hari untuk mengikuti ujian daring. Pilihan ini tak hanya mengubah rutinitas belajar, tetapi juga menambah beban psikologis pelajar yang terus-menerus berjuang untuk mempertahankan prestasi akademik.
Main Agenda menyoroti bagaimana konflik berkepanjangan berdampak pada sistem pendidikan. Menurut laporan, lebih dari 73.000 warga Palestina, termasuk pelajar, kehilangan nyawanya sejak Oktober 2023. Banyak sekolah dan pusat pembelajaran hancur, memaksa siswa mengandalkan internet yang tidak stabil dan tempat umum untuk mengikuti ujian. Dana dan rekan-rekannya mengalami kesulitan terutama saat mencari koneksi yang memadai untuk menjawab soal-soal secara online.
Jalan Kaki sebagai Bagian dari Proses Belajar
Meski jauh dari kenyamanan, Dana memilih berjalan kaki satu jam ke kafe untuk mengikuti ujian. Ini menjadi ritual rutin bagi banyak pelajar di kawasan terpencil Gaza, yang sering kali tidak memiliki akses ke fasilitas pendidikan yang layak. Ayah Dana, Muhanna, menyertainya dalam perjalanan ini, memastikan bahwa seluruh keluarga terus menjalani kehidupan sehari-hari sambil menunggu hasil ujian.
“Kehilangan tiga tahun pendidikan saja sudah berat. Saya harus mempelajari sendiri semua mata pelajaran, dan sekarang bahkan mengikuti ujian pun menjadi sumber kecemasan dan tekanan baru,” kata Dana, seperti dilansir Al Jazeera pada 27 Juni 2026.
Di kafe tersebut, ratusan pelajar mengumpulkan diri sejak pagi untuk menghadapi ujian yang menjadi momen kritis. Mereka menunggu siapnya portal daring dengan sabar, sementara beberapa dari mereka memperbaiki koneksi internet atau mencari daya listrik yang stabil.
Main Agenda juga mencakup keputusan Dana untuk memilih jurusan kuliah. Meski banyak pelajar Gaza mendapatkan beasiswa, Dana masih bimbang antara kedokteran, keuangan, atau administrasi bisnis. Keputusan ini dipengaruhi oleh harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik di tengah keadaan krisis. Banyak murid lainnya mengikuti jejak Dana, memprioritaskan bidang studi yang dianggap penting bagi pemulihan ekonomi dan sosial wilayah tersebut.
Dengan pengorbanan yang dilakukan pelajar Gaza, Main Agenda menggambarkan ketahanan mereka di tengah keterbatasan. Dari tenda darurat hingga kafe, mereka menunjukkan komitmen untuk tidak berhenti belajar. Kehadiran pendidikan daring, meski tak sempurna, menjadi jembatan terakhir dalam perjalanan pendidikan mereka. Dana menegaskan bahwa ujian ini bukan hanya tes akademik, tetapi juga pengukur kemampuan mental dan fisik yang menghadapi krisis.
