Main Agenda: Wanita Usia 64 Minta Suami 27 Tahun Menikah Lagi, Jawaban Sang Suami Bikin Haru
Berhasil Main Agenda memperlihatkan kisah cinta yang memukau antara Norlida Mohamed Salleh (64 tahun) dan Muhd Sabree Razaman (27 tahun) yang menikah di
Main Agenda: Kisah Pernikahan 64 Tahun dan 27 Tahun Berhasil
Main Agenda memperlihatkan kisah cinta yang memukau antara Norlida Mohamed Salleh (64 tahun) dan Muhd Sabree Razaman (27 tahun) yang menikah di Negeri Sembilan, Malaysia, pada September 2020. Meski terdapat perbedaan usia mencolok sebesar 37 tahun, pasangan ini justru membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang bagi keharmonisan hubungan. Mereka memulai pernikahan dengan kepercayaan dan komitmen yang kuat, menghadapi tantangan tanpa melupakan komunikasi yang terbuka.
Awal Ketertarikan yang Berujung pada Pernikahan
Kisah pernikahan mereka dimulai dari pertemuan di toko minimarket yang dikelola oleh mantan suami Norlida. Sabree, yang bekerja sebagai petugas keamanan, sering mengunjungi tempat tersebut. Awalnya, mereka hanya saling mengenal sebagai tetangga, tetapi hubungan mereka berkembang menjadi lebih dalam setelah dua tahun berinteraksi. Norlida mengungkapkan, “Kami mulai saling tertarik ketika ia membantu mengurus keperluan keluarga kami di lingkungan sekitar.”
Karena kisah cinta ini, Sabree memutuskan untuk menikahi Norlida, meski ia adalah kekasih ketiga dalam hidupnya. Setelah bercerai dari mantan suaminya pada 2016, Norlida mengambil keputusan berani untuk kembali berkeluarga. Dalam wawancara dengan Mothership, ia mengatakan, “Sabree menunjukkan kejujuran dan tanggung jawab yang membuatku percaya bahwa ini adalah jalan yang tepat untuk masa depan.”
Komitmen yang Menginspirasi
Pernikahan Norlida dan Sabree dianggap unik karena mereka menggabungkan pengalaman hidup yang berbeda. Norlida, yang memiliki enam anak dengan usia antara 26 hingga 40 tahun, menggambarkan Sabree sebagai suami yang penuh kasih. “Ia tidak hanya menjadi pendamping hidup, tetapi juga penghibur yang selalu ada di sampingku,” ujarnya. Sabree, di sisi lain, mengatakan, “Aku tidak pernah menyesal mengambil langkah ini, karena aku merasa mampu memberinya kehidupan yang layak.”
Keberhasilan mereka diperkuat oleh sikap saling menghargai dan memahami. Sabree menjelaskan bahwa ia bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara Norlida fokus pada pekerjaan sampingan. “Kita saling melengkapi, dan Main Agenda menjadi titik awal dari kehidupan baru yang penuh makna,” tambah Norlida. Mereka juga sering menghadiri acara keluarga dan memberikan contoh bagus tentang cinta tanpa batas.
Reaksi dari Keluarga dan Masyarakat
Sebelum menikah, keluarga Norlida sempat skeptis karena perbedaan usia yang besar. Namun, setelah melihat komitmen mereka, kekhawatiran berangsur berkurang. “Mereka berusaha memperkenalkan Sabree sebagai bagian dari keluarga, bahkan membantu mengurus keperluan kami di rumah,” kata salah satu kerabat Norlida. Sementara itu, keluarga Sabree awalnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi, tetapi kini menyambut baik pernikahannya.
Masyarakat sekitar juga memberikan apresiasi terhadap kisah ini. Banyak orang menganggap pernikahan mereka sebagai bukti bahwa cinta bisa memperkuat ikatan yang sebelumnya terlihat tidak mungkin. “Ini bukan sekadar cerita cinta, tapi juga tentang keberanian dan kepercayaan,” ujar seorang tetangga. Main Agenda secara aktif membagikan kisah mereka melalui media sosial, menarik perhatian ribuan orang di seluruh dunia.
Kesejahteraan dalam Kehidupan Rumah Tangga
Dalam kehidupan rumah tangga, Norlida dan Sabree membagi tugas dengan baik. Sabree, yang berusia 21 tahun saat menikah, memilih fokus pada keluarga, sementara Norlida mengatur keperluan ekonomi. “Kami saling mengisi kebutuhan satu sama lain, tidak hanya secara finansial tetapi juga secara emosional,” kata Norlida. Sabree juga menunjukkan perhatian dengan memijatnya sebelum pergi kerja dan menyiapkan minuman favoritnya sebelum makan.
Keluarga besar mereka menyambut baik keputusan ini. “Ibu adalah pilihan terbaik, dan kami yakin hubungan ini akan berlangsung bahagia,” kata salah satu anak Norlida. Meski awalnya ada keraguan, keharmonisan mereka terus bertumbuh. Mereka menganggap Main Agenda sebagai momentum penting yang mengubah hidup mereka secara positif.
Harapan dan Masa Depan yang Cerah
Menurut Norlida, pernikahan ini memberinya kebahagiaan yang selama ini dicari. “Sabree membuatku merasa dicintai dan dihargai, bahkan meski usianya jauh lebih muda,” ujarnya. Sabree, yang baru menikah, berharap bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak Norlida. “Aku ingin mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih dan kehangatan,” kata Sabree.
Sebagai contoh kisah cinta yang menginspirasi, pernikahan Norlida dan Sabree menjadi perhatian banyak orang. Mereka sering dibandingkan dengan pasangan lain yang memiliki usia serupa, tetapi justru membuktikan bahwa keharmonisan bisa dicapai dengan komunikasi dan kesabaran. Main Agenda kembali menjadi fokus utama dalam menyampaikan cerita ini, menjadikannya contoh nyata bahwa usia bukanlah penghalang dalam menikah.
