Meeting Results: Trump dan Iran Saling Ancam Saat Negosiasi di Swiss, padahal Baru Sepakat Berdamai
Hasil Meeting Trump-Iran di Swiss: Ancaman dan Kesepakatan Berdamai Meeting Results - Hasil meeting antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss
Hasil Meeting Trump-Iran di Swiss: Ancaman dan Kesepakatan Berdamai
Meeting Results – Hasil meeting antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss pada 21-22 Juni 2026 menunjukkan ketegangan yang meningkat di tengah upaya mencapai perjanjian damai. Meski kedua pihak telah mencapai kesepakatan awal, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika negara itu tidak segera menghentikan kegiatan kelompok Lebanon Hizbullah yang terlibat perang dengan Israel. Di sisi lain, negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan kesiapan negaranya untuk membalas tindakan AS dengan kekuatan jika ancaman tersebut tidak direspons.
Proses Perundingan dan Kesepakatan Awal
Meeting Results antara Trump dan Iran berlangsung di Burgenstock, Swiss, sejak Rabu (17/6/2026) hingga hari Minggu (21/6/2026). Kesepakatan awal yang ditandatangani di hari pertama perundingan menargetkan penyelesaian konflik dalam 60 hari, termasuk penghentian pertempuran di wilayah Lebanon dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, konflik antara Hizbullah dan Israel kembali memanas setelah kesepakatan diumumkan. Serangan udara Israel yang dilakukan pada hari-hari terakhir perundingan telah mengorbankan puluhan warga sipil, menyebabkan Iran menuduh bahwa kesepakatan tersebut gagal dan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons.
“Kami menuntut Iran untuk segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon, atau kami akan menghantam Iran dengan sangat keras lagi jika tidak melakukannya,” ujar Trump, seperti dilansir BBC pada Senin (22/6/2026). Kalimat ini menegaskan tekad AS untuk menekan Iran dalam mempercepat perundingan.
Sebagai respons, Ghalibaf menyatakan bahwa ancaman Trump tidak mengubah posisi Iran secara signifikan. “Meski mereka berbicara keras, kami tetap bertindak tegas jika situasi tidak membaik,” tambahnya. Hal ini mencerminkan perbedaan pendekatan antara kedua negara: AS mengutamakan kecepatan dan ketegasan, sementara Iran lebih fokus pada perlahan membangun kepercayaan.
Perbedaan Strategi dan Tantangan Perundingan
Meeting Results yang berlangsung di Swiss menyoroti perbedaan strategi antara AS dan Iran. Trump menekankan kebutuhan Iran untuk menghentikan peran proksi di Lebanon sebagai syarat berlanjutnya perjanjian, sementara Ghalibaf menegaskan bahwa kesepakatan harus melibatkan kepentingan regional Iran. Meski terlihat mereda di hari Minggu (21/6/2026), perundingan masih menghadapi tantangan utama: ketegangan antara Israel dan Hizbullah yang terus memanas, serta kecurigaan satu pihak terhadap komitmen pihak lain.
Dalam sesi perundingan, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Trump meminta para negosiator untuk “membuka lembaran baru” dalam proses negosiasi. Vance menekankan bahwa AS siap mengubah dasar hubungan dengan Iran jika negara itu meninggalkan ambisi senjata nuklir dan menghentikan perannya yang memicu ketidakstabilan kawasan. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk keamanan dan perdamaian, serta meminta AS mempertimbangkan kepentingan kecil negara-negara tetangga.
Kehadiran Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdul Rahman Al Thani sebagai mediator menambah kompleksitas meeting results ini. Meski keterlibatan Qatar dinilai memperkuat upaya mencapai kesepakatan, keberhasilan perundingan masih bergantung pada kemampuan AS dan Iran mengatasi kepentingan masing-masing. Data maritim menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker tetap bergerak di Selat Hormuz meski Iran mengklaim menutupnya, menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya menghentikan aktivitas ekonomi.
