Mengapa di Italia Minum Cappuccino Selain Pagi Hari Dianggap Aneh?
Italia memiliki reputasi sebagai negara dengan tradisi kopi yang sangat kuat. Namun, terdapat satu kebiasaan yang sering kali membingungkan para pelancong
Tradisi Minum Cappuccino di Italia: Mengapa Setelah Pagi Hari Dianggap Aneh?
Lenterafakta.com – Italia memiliki reputasi sebagai negara dengan tradisi kopi yang sangat kuat. Namun, terdapat satu kebiasaan yang sering kali membingungkan para pelancong, yaitu cappuccino hampir selalu dikonsumsi pada waktu sarapan. Memesan minuman ini setelah makan siang atau makan malam dianggap tidak lazim dalam budaya kuliner Italia. Bahkan, kebiasaan ini kerap menjadi penanda langsung bahwa seseorang adalah wisatawan asing.
Setiap tahunnya, jutaan pengunjung datang ke Italia dengan tujuan menikmati berbagai hidangan yang telah mendunia. Meskipun makanan khas Italia kini tersedia di hampir seluruh dunia, tidak semua pengunjung memahami aturan tidak tertulis yang mengatur cara menikmati setiap hidangan di negara tersebut. Masyarakat Italia percaya bahwa sejumlah tradisi ini menjaga keseimbangan rasa dan memastikan setiap hidangan dinikmati sesuai dengan cara aslinya.
Akar Tradisi Cappuccino Pagi Hari
Seperti yang dilaporkan BBC pada Senin, 27 Juli 2026, cappuccino di Italia sangat identik dengan sarapan. Minuman yang terbuat dari espresso, susu, dan busa susu ini biasanya dinikmati di kedai kopi bersama brioche atau pastry. Sebaliknya, cappuccino dianggap terlalu berat jika dikonsumsi setelah menyantap hidangan gurih pada makan siang atau makan malam.
Sebagian masyarakat Italia percaya bahwa kandungan susu dalam cappuccino yang diminum setelah makan besar dapat membuat perut terasa penuh dan kurang nyaman.
Anggapan inilah yang menjadi salah satu alasan utama cappuccino lebih umum diminum pada pagi hari. Sebenarnya, tidak ada aturan resmi yang melarang seseorang memesan cappuccino setelah pukul 11.00. Namun, setelah sarapan, kopi yang lebih lazim diminum masyarakat Italia adalah espresso.
Pilihan Kopi Setelah Makan
Dikutip dari Food and Wine pada 12 September 2026, kopi hitam dalam porsi kecil ini dianggap lebih ringan untuk diminum setelah makan dibandingkan cappuccino yang mengandung banyak susu. Jika rasa espresso terlalu kuat, seseorang bisa memilih espresso macchiato, yakni espresso yang diberi sedikit busa susu. Bagi yang tidak ingin minum kopi, tersedia pula tisana atau teh herbal.
Sementara itu, setelah makan, sebagian orang Italia juga menikmati digestivo, yakni minuman yang secara tradisional dikonsumsi setelah makan dan dipercaya membantu pencernaan. Meski demikian, kebiasaan tersebut bukanlah aturan yang benar-benar mengikat. Barista di kawasan wisata hampir tidak pernah menolak membuatkan cappuccino pada sore atau malam hari. Hanya saja, memesan cappuccino pada waktu tersebut dapat langsung menandakan bahwa pelanggan tersebut kemungkinan besar adalah wisatawan.
Aturan Tidak Tertulis Lainnya di Restoran Italia
Selain kebiasaan minum cappuccino, ada sejumlah aturan tidak tertulis lain yang perlu diketahui wisatawan ketika menikmati makanan di Italia. Nyaris semua restoran Italia memiliki urutan yang jelas soal hidangan. Urutan tersebut dibuat agar rasa berkembang secara bertahap, dari yang paling ringan hingga paling kaya, lalu ditutup dengan kopi atau minuman beralkohol yang dipercaya membantu pencernaan.
Pengunjung boleh melewatkan beberapa tahapan, tetapi tidak mengubah urutannya. Di Italia, pasta bukanlah side dish, sementara salad bukan hidangan pembuka. Bagi orang Italia, dunia kuliner terbagi menjadi dua tradisi besar, yakni mare (laut) dan monti (pegunungan). Hidangan laut berkembang terpisah dari tradisi yang banyak menggunakan keju dan daging.
Karena itu, keduanya umumnya tidak dicampurkan karena diyakini saling menutupi cita rasa. Contohnya, keju tua dengan rasa kuat hampir tidak pernah dipadukan dengan makanan laut. Memang ada beberapa resep tradisional yang sengaja menggabungkan makanan laut dan keju, misalnya pasta con cozze e pecorino atau pasta kerang dan keju. Namun, itu merupakan pengecualian yang sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat.
Karena itulah, meminta tambahan Parmesan untuk pasta dengan tambahan protein laut sering membuat orang Italia meringis. Di Italia, menu restoran pada dasarnya tidak dibuat untuk dikustomisasi. Setiap hidangan memiliki kombinasi bahan yang sudah dianggap tepat secara turun-temurun. Jenis pasta pun dipilih dengan pertimbangan tertentu. Pasta pendek cocok dipadukan dengan saus yang lebih kental karena mudah melekat di permukaannya, sedangkan pasta panjang atau pasta isi biasanya disandingkan dengan saus yang lebih halus. Meminta suatu hidangan dibuat menggunakan bahan yang berbeda dianggap merusak konsep masakan sekaligus mempertanyakan penilaian sang koki.
