Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

Menkes Budi Teliti Kadar Garam Siomay – Bakso, dan Soto Betawi, Mana yang Tertinggi?

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

to Betawi Menkes Budi Teliti Kadar Garam Siomay - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya

Menkes Budi Teliti Kadar Garam Siomay – Bakso, dan Soto Betawi, Mana yang Tertinggi?

Menkes Budi Teliti Kadar Garam Siomay, Bakso, dan Soto Betawi

Menkes Budi Teliti Kadar Garam Siomay – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mengatur konsumsi garam dalam makanan sehari-hari. Dalam wawancara terbarunya, ia membagikan hasil riset laboratorium yang menyoroti kadar natrium di tiga makanan tradisional populer, yaitu siomay, bakso, dan soto Betawi. Data ini disampaikan melalui akun Instagram resmi Menkes, @bgsadikin, pada Sabtu (20/6/2026), dan menjadi perbincangan luas di media sosial.

Pembandingan Kadar Garam di Tiga Menu Favorit

Dari analisis yang dilakukan di Laboratorium SIG, kandungan natrium pada siomay terbukti paling tinggi, dengan satu porsi mencapai 1.600 miligram. Angka ini nyaris menyamai ambang batas rekomendasi konsumsi garam harian yang ditetapkan WHO, yaitu 2.000 miligram. Meski terdengar tidak terlalu berat, Budi mengingatkan bahwa pengulangan konsumsi makanan ini dalam sehari bisa memberi dampak signifikan pada kesehatan jangka panjang.

Bakso menempati posisi kedua dalam skala kadar garam, dengan natrium sekitar 1.000 miligram per porsi. Kuah bakso, yang sering dikonsumsi bersamaan dengan isiannya, menjadi salah satu penyumbang utama. Sementara itu, soto Betawi menempati posisi ketiga dengan kadar natrium hanya 700 miligram. Namun, Budi menekankan bahwa santan dan bahan-bahan lain seperti jeroan masih menyumbang sebagian besar garam dalam soto.

Menkes Budi menegaskan bahwa kebiasaan makan siomay setiap hari bisa berisiko meningkatkan tekanan darah, terutama jika dikonsumsi dengan bumbu kacang berlebihan. Ia menyarankan agar masyarakat memperhatikan keseimbangan antara rasa dan kesehatan.

Label Nutri-Level dan Kebutuhan Harian

Sebagai bagian dari upaya pemerintah mengendalikan gizi masyarakat, Menkes Budi memaparkan hasil analisis melalui sistem pelabelan Nutri-Level. Dalam kategori ini, bakso dan soto Betawi mendapat label C, sedangkan siomay diberi label D karena kandungan natriumnya melebihi batas. Dengan ini, masyarakat bisa lebih mudah memahami tingkat keamanan makanan dari segi garam.

Menkes Budi meminta masyarakat untuk memperhatikan porsi garam dalam setiap hidangan. “Misalnya, jika Anda makan siomay, jangan hanya mengandalkan bumbu kacangnya. Ambil protein utamanya saja, agar tetap mendapatkan nutrisi tapi tidak berlebihan,” imbuhnya. Ia juga menyoroti bahwa kebiasaan makan di luar rumah, seperti di warung makan atau kafe, seringkali membuat orang tidak sadar akan jumlah garam yang masuk.

Bayangkan, hanya dengan makan siomay dan satu porsi bakso, Anda sudah mendekati batas konsumsi garam harian. Jika ditambahkan soto Betawi atau makanan lain, risiko hipertensi bisa meningkat drastis.

Menkes Budi menambahkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya membatasi asupan garam. Ia menekankan bahwa berbagai makanan siang yang biasa dijual di jalanan memiliki potensi risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan. “Konsumsi garam yang tinggi berdampak pada penyakit kardiovaskular, jadi kita perlu menjaga keseimbangan,” jelasnya.

Menurut Budi, mengetahui kadar garam dalam makanan siap saji bisa menjadi langkah awal mengurangi risiko penyakit. Ia mengajak masyarakat untuk mengganti bumbu kacang dengan alternatif yang lebih sehat, seperti bahan alami seperti jahe atau bawang putih. Selain itu, Menkes juga berharap warung makan dan produsen makanan bisa memperhatikan kebutuhan nutrisi dan menyederhanakan rasa agar lebih ramah untuk kesehatan.

Join the discussion