Misteri Ukiran Nama Perempuan di Sumur Romawi Kuno Berusia 2.000 Tahun Akhirnya Terkuak
Sebuah penemuan arkeologi yang telah membingungkan para peneliti selama hampir seratus tahun akhirnya menemukan jawabannya. Prasasti dengan ukiran nama
Identitas Wanita Romawi pada Prasasti Sumur Kuno Terungkap Setelah Berabad-abad
Lenterafakta.com – Sebuah penemuan arkeologi yang telah membingungkan para peneliti selama hampir seratus tahun akhirnya menemukan jawabannya. Prasasti dengan ukiran nama seorang wanita yang terpahat pada batu sumur berusia mendekati dua milenium tersebut kini mulai terkuak. Lokasi prasasti ini berada di situs bersejarah Butrint, sebuah kawasan yang dulunya merupakan bagian dari peradaban Romawi.
Inskripsi yang ditulis menggunakan huruf Yunani dengan gaya kaligrafi indah ini memiliki panjang mencapai 2,1 meter. Ukiran tersebut terletak di atas sumur yang dibangun pada abad kedua, tepatnya di wilayah Butrint yang saat ini masuk dalam wilayah Albania selatan, berdekatan dengan perbatasan Yunani. Jika diterjemahkan, teks tersebut berbunyi sebagai berikut:
Junia Rufina, sahabat para Nymph (bidadari/peri air).
Perjalanan Sejarah Situs Butrint
Situs Butrint memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan kompleks. Awalnya dikenal dengan nama Bouthrotos atau Buthrotum pada masa Hellenistik, kawasan ini kemudian didirikan kembali sebagai koloni Romawi di bawah kepemimpinan Julius Caesar dan Augustus. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini terus berkembang menjadi pelabuhan utama pada era Bizantium dan Abad Pertengahan.
Setelah itu, Butrint berubah fungsi menjadi benteng Venesia dan Ottoman. Pembangunan sumur monumental ini terjadi pada abad kedua Masehi, ketika Butrint berada di bawah era Kekaisaran Romawi di masa pemerintahan Kaisar Hadrianus. Sebuah mata air alami dihias dan dibangun kembali menjadi sumur publik yang megah.
Analisis Terbaru oleh Arkeolog Oxford
Kini, studi terbaru yang dilakukan oleh arkeolog Universitas Oxford, Milena Melfi, dan dipublikasikan dalam Journal of Roman Archaeology, memberikan petunjuk baru mengenai sosok dan identitas Junia Rufina. Penelitian ini dikutip dari Popular Mechanics pada Senin (20/7/2026).
Pembangunan sumur tersebut menggabungkan keahlian teknik sipil dan estetika Romawi dengan tradisi Yunani, lengkap dengan dinding batu, lengkungan bata, dan area beraspal. Konstruksi ini diduga kuat bagian dari program pembangunan skala besar yang didorong Kaisar Hadrianus untuk menghadirkan fasilitas publik seperti pemandian umum, saluran air, air mancur, dan sumur di seluruh Kekaisaran Romawi.
Meskipun struktur sumur tersebut terus mengalami pemugaran selama bertahun-tahun, bangunan ini mempertahankan dua fitur utama dari era Romawi asli, yaitu struktur dinding kubah barat dan inskripsi Junia Rufina yang terukir di bagian dinding pembatas (parapet) sumur.
Posisi Sosial Junia Rufina yang Istimewa
Pahatan nama yang tergolong sederhana tersebut mengindikasikan bahwa pada masa itu, sosok Junia Rufina sudah sangat terkenal sehingga tidak memerlukan penjelasan tambahan bagi masyarakat setempat. Dalam studinya, Melfi menjelaskan bahwa keterkaitan Rufina dengan monumen tersebut menunjukkan kedudukannya yang sangat istimewa di tengah masyarakat.
Hanya menunjukkan bahwa dia memegang status yang luar biasa, tidak diragukan lagi sangat kaya, bergerak dengan leluasa di lingkungan berbahasa Yunani, menyesuaikan diri dengan tren evergetism (penggunaan kekayaan pribadi untuk kepentingan umum) yang terinspirasi oleh kekaisaran pada masa itu, mempromosikan kultus Nymph, dan memiliki simpati terhadap budaya Aleksandria/Mesir.
Secara tradisi, para nymph atau peri air dihubungkan dengan sumber air di gua-gua alam. Ukiran tersebut mengindikasikan adanya kultus penghormatan terhadap roh-roh alam ini, yang kemungkinan besar diikuti oleh Junia Rufina.
Koneksi Keluarga dan Perjalanan Kekaisaran
Meskipun “Junia Rufina” adalah nama Romawi dan inskripsinya ditulis dalam bahasa Yunani, praktik penggunaan bahasa Yunani ini sangat umum terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Hadrianus. Gaya penulisan hurufnya juga menunjukkan keterkaitan dengan keluarga kaya raya Romawi, Junii Rufini, yang terhubung erat dengan para pejabat tinggi kekaisaran.
Melfi memperkirakan bahwa Junia Rufina kemungkinan besar merupakan putri dari Marcus Junius Rufus, seorang prefek (gubernur) Mesir, sekaligus saudara tiri dari Julia Balbilla. Penemuan ini juga menegaskan peran penting dan pengaruh perempuan dari keluarga terpandang yang menggunakan kekayaan pribadi mereka untuk mendanai fasilitas publik dan proyek air perkotaan pada abad kedua Masehi.
“Junia Rufina, sebagai anggota keluarga Romawi yang memiliki koneksi kuat dan berpengaruh yang berpusat di Mesir, terikat pada jaringan hubungan yang kuat dengan rombongan Hadrianus. Kemungkinan berada di Butrint pada saat perjalanan kekaisaran, baik sebagai anggota atau sebagai tuan rumah bagi rombongan perjalanan kaisar,” ujar Melfi.
Melfi menambahkan bahwa sosok Junia Rufina merupakan representasi sempurna dari tatanan masyarakat baru yang berpendidikan dan berbahasa Yunani sebagaimana diinginkan oleh Kaisar Hadrianus. Penemuan ini juga menegaskan peran penting dan pengaruh perempuan dari keluarga terpandang yang menggunakan kekayaan pribadi mereka untuk mendanai fasilitas publik dan proyek air perkotaan pada abad kedua Masehi.
