Skip to content
After Dark
Agustus 5, 2026
Tren

New Policy: Benarkah Terlalu Sering Umbar Rencana Masa Depan Justru Bikin Gagal? Ini Kata Psikolog

Barbara Rodriguez - lenterafakta.com 3 mins read

mbar Rencana Masa Depan Bisa Bikin Gagal? Ini Penjelasan Psikolog New Policy - Dalam dunia kerja dan pengambilan keputusan, pola umbar rencana masa depan

New Policy: Benarkah Terlalu Sering Umbar Rencana Masa Depan Justru Bikin Gagal? Ini Kata Psikolog

New Policy: Umbar Rencana Masa Depan Bisa Bikin Gagal? Ini Penjelasan Psikolog

New Policy – Dalam dunia kerja dan pengambilan keputusan, pola umbar rencana masa depan sering kali dianggap sebagai kebiasaan positif. Namun, psikolog Ratna Yunita Setiyani Subardjo dari NYU menyebutkan bahwa kebiasaan ini bisa memicu kegagalan jika dilakukan terlalu sering. New Policy, atau pola membagikan tujuan hidup secara terus-menerus, terbukti mengurangi kemampuan seseorang untuk mencapai hasil nyata. Ini terjadi karena otak terbiasa memperoleh kepuasan sebelum bertindak, sehingga energi mental terbuang percuma.

Dua Jebakan Otak dalam New Policy

Ratna menjelaskan fenomena ini melalui konsep “Social Reality of Wishful Thinking” yang menyebutkan dua jebakan psikologis. Pertama adalah Premature Sense of Completeness, di mana otak manusia cenderung memandang imajinasi sebagai bentuk pencapaian nyata. Ketika seseorang mengumbar rencana, seperti berharap menjadi dokter dalam waktu dekat, pujian dari lingkungan bisa membuatnya merasa sudah mencapai tujuan. “New Policy bisa memberikan kepuasan dini, sehingga memicu rasa puas sebelum usaha benar-benar dimulai,” tambah Ratna.

Kedua adalah Energy Conservation, yang terkait dengan teori Self-Regulation. Otak mungkin menganggap bahwa berbicara tentang rencana masa depan sama dengan melakukan tindakan. Akibatnya, energi mental terbuang untuk membangun citra, bukan untuk eksekusi nyata. “Seperti baterai yang habis 40 persen hanya untuk menyampaikan rencana, sementara sisanya harus digunakan untuk bekerja,” ujarnya.

Kegagalan dalam New Policy: Faktor Penyebab dan Solusi

Psikolog tersebut menegaskan bahwa New Policy tidak selalu buruk, tetapi kuncinya adalah bagaimana dan kapan seseorang menyampaikannya. Jika tujuan diumbar terlalu sering, hal ini bisa mengurangi motivasi sekaligus memicu kebosanan. Misalnya, seorang profesional yang terus membagikan proyeksi karier di media sosial mungkin merasa tekanan untuk mencapai target, namun tanpa rencana konkret.

Untuk menghindari kegagalan akibat New Policy, Ratna menyarankan pendekatan WOOP (Wish, Outcome, Obstacle, Plan). Metode ini mengharuskan seseorang tidak hanya menyampaikan impian, tetapi juga menjabarkan hambatan dan langkah nyata. “New Policy yang baik adalah yang diperkuat dengan strategi eksekusi, bukan hanya narasi,” jelas Ratna. Dengan cara ini, energi mental dialokasikan untuk tindakan, bukan hanya komunikasi.

Contoh penerapan WOOP bisa dilihat dalam perencanaan bisnis. Seorang pengusaha yang ingin memperluas usaha tidak cukup membagikan impian, tetapi harus merancang langkah-langkah spesifik, seperti menghitung anggaran, mengidentifikasi risiko, dan menetapkan tenggat waktu. Ratna juga menekankan pentingnya membagikan rencana hanya kepada satu atau dua orang yang bisa menjadi “accountability partner” untuk memastikan konsistensi.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang karyawan yang sering menyebutkan target karier di media sosial, seperti “Tahun ini saya akan menaikkan jabatan”, mungkin merasa puas sebelum benar-benar berusaha. Namun, jika tidak ada penjelasan tentang langkah konkret, hal ini bisa mengurangi produktivitas. “New Policy yang tidak disertai tindakan seperti menyanyikan lagu tanpa nyanyiannya, sehingga hanya tinggal bayangan,” kata Ratna.

Psikolog ini menambahkan bahwa kegagalan akibat New Policy juga bisa terjadi karena kurangnya refleksi diri. “Kadang, seseorang terlalu fokus pada keinginan, lupa mengukur progres sebenarnya,” jelasnya. Dengan membagikan rencana secara teratur, tetapi dengan strategi yang jelas, seseorang bisa meminimalkan risiko kegagalan sambil tetap membangun motivasi.

Menurut Ratna, penting untuk membedakan antara “umbar rencana” dan “sharing progres”. New Policy yang baik adalah bentuk komunikasi yang berfungsi sebagai alat perencanaan, bukan pengganti tindakan. “Dengan menjabarkan hambatan dan langkah, seseorang tidak hanya bercerita, tetapi juga berkomitmen,” pungkasnya. Dengan demikian, New Policy bisa menjadi bantuan, bukan penghalang dalam mencapai tujuan.

Join the discussion